Monday, February 2, 2026
spot_img

RAMADAN DAN ETOS KERJA*

Oleh: Prof.Dr.Saiful Akhyar Lubis,M.A.**

Rasional

         Islam menjadikan bekerja adalah sebagai hak dan kewajiban individu. Rasulullah SAW memotivasi umatnya untuk bekerja sebaik-baiknya dengan penuh kesungguhan. Justeru itu, Islam memandang bahwa memiliki pekerjaan merupakan salah satu perwujudan kewajiban bagi setiap umat Islam, seperti terkandung isyaratnya pada surah al-Qasas (28) ayat 77.

         Pekerjaan mempunyai dimensi yang cukup luas, yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, baik secara spritual, personal, sosial, secara kultural, maupun secara kehidupan bernegara. Secara spritual pekerjaan merupakan salah satu kewajiban ibadah kepada Allah. Dari asยญpek personal, pekerjaan merupakan aspek perkembangan dan perwujudan diri. Dari segi sosial, pekerjaan merupakan perwujudan peranan individu sebagai makhluk sosial. Secara kultural, pekerjaan merupakan salah satu perwujudan karya manusia sebagai makhยญluk budaya. Dalam kehidupan bernegara, masalah pekerยญjaan para warga negara merupakan kunci kekuatan dan kemajuan suatu negara.

         Ditegaskan pula bahwa Ramadhan adalah bulan amal dan perjuangan. Perintah puasa ramadhan bukan hanya sekedar ibadah rutin sekali setahun dengan menahan haus dan lapar belaka, tetapi jauh lebih mulia, yaitu puasa ramadhan merupakan pintu dari sebuah perjuangan panjang menegakkan kalimah Allah di permukaan bumi ini, yang batas akhirnya tidak kunjung diketahui manusia.

PENGHAYATAN MAKNA RAMADHAN

       Ada tiga hal berkenaan dengan Ramadhan yang harus dihayati oleh setiap muslim, yakni: 1) Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur`an kepada Rasulullah Muhammad SAW, 2) Ramadhan adalah bulan maghfirah (keampunan), 3) Ramadhan adalah bulan amal dan perjuangan.

         Ketiga hal itu sederhana dan pada umumnya diketahui serta dapat mewujudkan amal dimaklumi oleh setiap muslim, tetapi sejauhmana ia mengimaninya dan nyata dalam seluruh aspek kehidupan, tentu sangat dipengaruhi oleh sejauhmana ia dapat memetik intisari dan hikmah dari ibadah puasa yang dilaksanakannya. Jika ditelusuri kronologi turunnya perintah berpuasa kepada Nabi Muhammad SAW pada tahun kedua Hijrah adalah setelah melalui tiga fase perjuangan, yakni: 1) Fase perjuangan menerima wahyu Allah sebagai amanah yang sangat besar untuk disampaikan kepada seluruh manusia, 2) Fase perjuangan penyampaian wahyu sebagai cahaya yang menyingkap tabir kegelapan dan kebodohan, 3) Fase Hijrah (dari Makkah ke Madinah) sebagai pernyataan dan sikap mental untuk melepaskan diri dari segala bentuk kemusyrikan, kezaliman dan kefasikan, dalam upaya mewujudkan suatu tempat yang memungkinkan tumbuhnya dinul Islam yang kondusif.

         Namun, perintah berpuasa tersebut sepertinya belum cukup untuk mempersiapkan seorang mukmin yang setia sebagai pengemban amanah, sehingga pada tahun ketiga Hijrah (saat kaum muslimin melaksanakan puasa ramadhan) turun pula perintah untuk berperang melawan kaum kafir yang dikenal dengan perang Badar al-Qubra (terjadi pada tanggal 17 Ramadhan). Dalam hal ini dapat dihayati sebuah isyarat bahwa berpuasa bukanlah sekedar ibadah rutin yang dilaksanakan sekali setahun dengan menahan haus dan lapar belaka, tetapi ia jauh lebih mulia karena ia merupakan pintu dari sebuah perjuangan panjang untuk menegakkan kalimah Allah di permukaan bumi yang batas akhirnya tidak dapat diketahui oleh manusia. Kunci pintu perjuangan dimaksud adalah:

  1. Mempelajari tulis baca, menghayati dan memahami al-Qur`an.

Memahami makna yang terkandung dalam al-Qur`an adalah tanggung jawab setiap muslim. Sangat ideal sunnah dan sirah Rasulullah SAW yang mewajibkan setiap muslim untuk mampu membaca al-Qur`an dengan baik (saat ini dikembangkan metode Iqra`).

  • Mendapatkan maghfirah (keampunan) dari Allah SWT.

Mendapatkan keampunan Allah SWT berarti melakukan upaya membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan, kezaliman dan kefasikan, berikut mentaati perintah Allah SWT tanpa mencari-cari alasan seperti: menahan haus dan lapar serta hal-hal yang membatalkan puasa di hadapan kita (yang pada asasnya halal lagi baik). Ia diharamkan sampai waktu yang ditentukan (berbuka). Begitu taatnya seorang muslim karena ia mengharapkan keampunan dari Allah SWT Yang Maha Pengampun.

  •    Kesiapan melakukan amal (taat dan takwa).

Kesiapan melakukan amal dan taat untuk memperoleh derajat takwa adalah perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW kepada setiap muslim. Amal pada bulan ramadhan diantaranya adalah zakat (fithrah dan mal) untuk kepentingan  dan kesejahteraan ummat, dan sekaligus mengangkat derajat Islam menegakkan kalimah Allah yang paling tinggi). Hal ini dapat dilihat isyaratnya dalam Firman Allah surah al-Saff (61): 10-11 dan surah Ali Imran (3): 31-32. Pernyataan sikap ini akan diiringi dengan ikrar yang didengungkan pada penghujung ramadhan dan di awal syawal dengan ucapan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai perwujudan dari suatu kemenangan pada sebuah perjuangan.

MEMAKNAI ETOS KERJA DAN KEPUASAN KERJA

       Dalam kamus umum bahasa Indonesia dijelaskan bahwa etos mempunyai arti yang sama dengan moral, sehingga etos kerja dapat berarti moral kerja atau kesusilaan dalam bekerja. Dalam tinjauan filsafat etos dimaksudkan sebagai kaidah-kaidah yang membimbing manusia mengatur kelakuannya sehingga baik dan lurus (Hartoko, 2006:24). Dalam filsafat India pemikiran etik berpangkal pada pola ajaran tentang darma dan karma. Di China ajaran mengenai โ€œtaoโ€ yang maksudnya jalan yang lurus yang memisahkan yang baik dan yang buruk yang indah dan yang jelek. Etika Jawa menekankan keselarasan antara Individu dengan masyarakat, Tuhan serta alam sekitarnya. Jadi etos kerja kecuali berarti kaidah-kaidah yang membimbing pekerja dalam bekerja seยญhingga baik dan lurus, juga harus menekankan keselarasan antara individu, masyarakat, Tuhan serta alam sekitarnya. Etos kerja mencerminkan salah satu perangkat nilai yang ada pada manusia.

         Definisi etos kerja secara praktis dinyatakan sebagai perangkat norma-norma yang mengatur perilaku di dalam hubungan dengan  kerja,  yang dianggap  mempunyai  nilai  luhur. Selanjutnya,  dinyatakan juga bahwa pandangan etika  kerja menandakan  adanya watak dan nilai-nilai individu yang diungkap/dinyatakan dalam pekerjaan yang dilakukan (Ravianto,2005:84). Kerja  keras  dan  tanggung  jawab  terhadap pekerjaan akan memberikan seseorang kedudukan sosial dan keuntungan material. Kerja keras merupakan sesuatu  yang mulia  dan  orang  yang  menganut  keyakinan  ini   akan memper1ihatkan perilaku kerja keras. Etos kerja  akan terlihat sebagai sikap dasar seseorang dalam   menghadapi   kegiatan tertentu, lemah dan kuatnya atau positif dan negatifnya etos kerja seseorang akan terlihat  ketika  menghadapi kesulitan  dan  tantangan. Ia akan berkaitan dengan sikap  terhadap  kerja, ciri-ciri tentang cara bekerja atau sifat-sifat mengenai cara  bekerja  yang dimiliki seseorang, suatu  kelompok atau suatu bangsa. Namun, ia tidak harus mempunyai konotasi nasional, dapat juga bersifat perorangan atau bersifat kelompok. Justeru itu, etos kerja merupakan bagian dari tata nilai (value system), sehingga menjadi bagian dari tata nilai yang dimiliki seseorang atau bagian dari tata nilai kolektif yang dimiliki sekelompok individu. Tegasnya, etos kerja merupakan rangkuman dari etik kerja dan patos kerja. Etik kerja menyangkut nilai dari kerja dan penilaian terhadap kerja sebagai suatu yang  memberikan nilai  tambah  pada  derajat dan martabat disamping menambah harta, dan suatu panggilan hidup  dalam  upaya mengembangkan  bakat  dan kepribadian secara  penuh  dan utuh.  Sedangkan patos kerja adalah kegairahan, semangat dan ketekunan dalam hal kerja dan pekerjaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa etos kerja menurut menyangkut dan mencakup  keduannya (etik dan patos) yang terjelma dalam sikap hidup, mentalitas dan  persepsi  yang sesuai, sehingga  secara praktis  dapat ditegaskan bahwa etos kerja  dimaksudkan sebagai โ€œsikap mental pekerja yang ditampilkannya dalam menghadapi pekerjaan dan dalam bekerja sama dengan rekan sekerjanyaโ€.

       Karena etos kerja adalah bagian dari tata nilai, maka kerja adalah sesuatu yang mulia; urut-urutan kerja harus dilaksanakan secara runtut dan benar; hasil kerja harus sebaik mungkin. Selain itu, pekerja memiliki sejumlah tata nilai yang lain yang tersusun menurut prioritas tertentu (yang disusun oleh dirinya sendiri), sehingga merupakan perangkat nilai. Seorang pekerja memasuki suatu organisasi dengan perangkat nilai tertentu,  yaitu ada gagasan dalam dirinya tentang  โ€œapa yang baikโ€, โ€œapa yang seharusnyaโ€ dan  lain  sebagainya. Jika  perangkat nilai ini sesuai dengan perangkat nilai yang ada di perusahaannya, maka ia cepat dapat menyesuaikan diri, yang dapat mengakibatkan produktivitas menjadi tinggi; jika tidak, maka pekerja tersebut akan sulit menyesuaikan diri, sehingga dapat mengakibatkan produktivitas menjadi rendah.

         Setidaknya ada dua indikator penting yang mencerminkan etos kerja, yakni:

1.  Kerja sebagai kewajiban moral.

         Pekerja  yang  menganggap  dan  bertindak   atas pertimbangan  moral adalah pekerja yang  bermoral,  yang menurut  Durkheim (dalam Cheppy, 2008;110-111)  mempunyai tiga elemen pokok yaitu 1) menghargai  disiplin,  2) dapat  menempatkan  diri dalam kelompok atau  masyarakat, dan  3) mengetahui alasan tertentu akan perbuatan atau tingkah lakunya. Selanjutnya akan terlihat bahwa ketiga elemen tersebut berupa kualitas yang inheren (sejalan)  dengan kehidupan kolektif lingkungan kerja maupun pribadi. Ketiganya tidak terpisah satu sama lain, tetapi secara bersama-sama mewujudkan  keseimbangan  yang baik antara pekerja dengan sosial kerja.

         Pekerja yang bermoral akan bekerja menurut cara yang merefleksikan kesan dan praktik kewajiban secara konsisten, sadar dan berbahagia dengan tindakan-tindakannya. Selanjutnya ia akan berperilaku tidak berdasarkan selera egonya, melainkan berdasarkan perangkat nilai yang mungkin semula bersumber dari masyarakat kerja yang diketahuinya, tetapi saat ini telah merupakan patokan yang mendasari seluruh tingkah lakunya. Karena perangkat nilai tersebut telah merupakan bagian dari dirinya,  maka pelaksanaannya tidak lagi dirasakan sebagai suatu perintah dari luar melainkan sebagai kesediaan dirinya atas dasar suatu kesadaran.

2. Rasa bangga terhadap keahliannya.

         Perasaan bangga akan keahlian adalah termasuk jenis perasaan harga diri yang positif artinya perasaan ini ada berkaitan dengan hal-hal yang positif misalnya mendapat pujian, hadiah, tanda jasa dan lain sebagainya karena keahliannya. Menurut Klages (dalam Suryabrata,2006:129) perasaan mempunyai dua sifat pokok yaitu: 1) di dalam tiap perasaan terletak kegiatan batin; dan 2) di dalam tiap perasaan terdapat โ€œcorak perasaanโ€, yaitu taraf-taraf kejelasan dari kegiatan batin tadi.

         Kegiatan batin ialah daya untuk membeda-bedakan keinginan yang terkandung dalam  perasaan. Sedang keinginan-keinginan itu pada pokoknya  ada dua yaitu keinginan โ€œmenolakโ€ dan โ€œmenerimaโ€. Misalnya: di dalam perasaan benci terdapat keinginan menghancurkan, di dalam perasaan cinta terdapat keinginan berkorban, di dalam perasaan bangga terdapat keinginan untuk mempertaยญhankan atau berbuat sebaik-baiknya.

         Perasaan bangga akan keahlian adalah merupakan jenis perasaan harga diri yang positif. Di dalam perasaan ini terkandung keinginan untuk mempertahankan dan berbuat sebaik-baiknya agar produk keahliannya berkualitas, dan tidak menurunkan perasaan bangganya. Pekerja yang  mempunyai rasa bangga terhadap keahliannya ini akan  lebih bertenaga (energic) karena rasa bangga adalah merupakan โ€œsuksesโ€ yang dapat memobilisasi tenaga cadangan.  Di samping  itu, ia tidak memerlukan pengawasan ketat dalam bekerja karena hadiahnya adalah rasa bangga dari  produk keahliannya,  ia akan merasa bersalah dan dihina bila tidak menghasilkan hasil kerja yang baik karena ia menganggap orang lain mengenal dirinya dari keahliannya, jadi  seakan-akan produk keahliannya  ditafsirkan  sebagai penampilan dirinya.

         Dalam hal kepuasan kerja, Handoko (2001), Anorogo (2003), Robbins (2003) menegaskan bahwa ia merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para pekerja memandang pekerjaannya. Ia juga mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaan yang tampak dalam sikap positif terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.

         Kepuasan kerja merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang didasarkan atas ciri-ciri kepuasan kerja yang bermacam-macam, antara lain:

  1.  Gaji tau upah: jumlah yang diterima, juga termasuk bonus dan jaminan sosial.
  2.  Kondisi kerja: rasa aman dalam lingkungan kerja termasuk kesehatan dan iklim kerja.
  3.  Teman sekerja: kekompakan kerja, perlakuan dan penghargaan dari teman sekerja.
  4.  Isi pekerjaan: kejelasan kerja dan tugas-tugas yang diberikan.
  5.  Kesempatan promosi.

         Rasa puas dalam bekerja bukan merupakan keadaan yang menetap, karena ia dapat dipengaruhi dan diubah oleh kekuatan-kekuatan tertentu, baik dari dalam maupun dari luar lingkungan kerja. Dalam hubungan ini, perlu dicermati beberapa faktor penting yang mendorong kepuasan kerja, antara lain:

  1.  Kerja yang secara mental menantang.
  2.  Ganjaran yang pantas.
  3.  Kondisi kerja yang mendukung.
  4.  Rekan sekerja yaang mendukung.
  5.  Kesesuaian kepribadian pekerjaan.
  6. NILAI KERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM
  7.        Islam memandang bahwa memiliki pekerjaan merupakan salah satu perwujudan kewajiban bagi setiap umat Islam, seperti terkandung isyaratnya pada surah al-Qasas (28) ayat 77.
  8.          Mohamad Surya (2008:5) mengemukakan bahwa โ€œpekerjaan mempunyai dimensi yang cukup luas, yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan baik secara spritual, personal, sosial, secara kultural, maupun secara kehidupan bernegara.
  9.          Segi-segi kehidupan yang disebutkan di atas memiliki hubungan dengan pekerjaan. Secara spritual pekerjaan merupakan salah satu kewajiban ibadah kepada Allah. Dari asยญpek personal, pekerjaan merupakan aspek perkembangan dan perwujudan diri. Dengan pekerjaan seseorang melaksanakan dan menyelesaikan tugas perkembangannya sesuai dengan tahap perkembangan yang harus dilalui. Dari segi sosial, pekerjaan merupakan perwujudan peranan individu sebagai makhluk sosial. Dengan bekerja ia akan dapat melaksanakan tugas sosialnya dalam sisi hablum min al-nas, yang sangat dianjurkan oleh Islam seperti tertera isyaratnya dalam surah Ali Imran (3) ayat 112. Secara kultural, pekerjaan merupakan salah satu perwujudan karya manusia sebagai makhยญluk budaya. Dalam kehidupan bernegara, masalah pekerยญjaan para warga negara merupakan kunci kekuatan dan kemajuan suatu negara.
  10. Sehubungan dengan ini, Mursi (2009:21-23) memandang bahwa pekerjaan akan menentukan masa depan manusia dan memainkan peranan besar dalam kehidupannya. Pekerjaan tidak boleh dikategorikan kepada aplikasi atau realisasi dari sebuah hobbi, dan bukan hanya bertujuan untuk memanfaatkan waktu senggang. Alllah SWT sangat serius menganjurkan agar manusia melakukan pekerjaan dengan baik, giat, dan sungguh-sungguh (seperti tercermin isyaratnya dalam surah al-Baqarah (2) ayat 267, at-ataubah (9) ayat 105, al-Jumuโ€™ah (62)  ayat 10, al-Mulk (67) ayat 15, al-Muzammil (73) ayat 20, an-Naba (78) ayat 11, al-Insyiqaq (84) ayat 6).
  11.          Jika ditelusuri penjelasan al-Qur`an tentang sejarah kehidupan para Nabi dan Rasul menggambarkan bagaimana kegigihan mereka bekerja dan berkarya, antara lain seperti berikut: Nabi Nuh as adalah perintis dalam bidang industri, Allah  SWT mewahyukan untuk membuat kapal laut guna menyelamatkan dirinya dan pengikutnya yang beriman dari keganasan badai dan angin taufan. Dialah yang mula-mula membuat kapal dengan tangannya sendiri. Nabi Ibrahim as bersama Nabi Ismail as mengerjakan pembangunan kaโ€™bah di Makkah al-Mukarramah. Nabi Yusuf as menjadi perintis pemikiran ekonomi dalam upaya pengaturan perbaikan pangan rakyat. Dia pernah ditugaskan penguasa Mesir ketika itu untuk mengelola sumber-sumber alam demi membantu rakyat meningkatkan penghasilan mereka. Nabi Musa as bekerja pada Nabi Syuaโ€™ib as dalam mengelola hartanya selama 10 tahun, sehingga dinikahkan dengan salah seorang puteri Nabi Syuaโ€™ib as sendiri. Nabi Daud as adalah pelopor pembuatan baju perang dari bahan besi, dari hasil pekerjaan itulah dia memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sampai pada gilirannya Nabi Muhammad SAW pun telah mulai melakukan pekerjaan secara mandiri sejak sebelum diangkat menjadi Rasul dengan mengembala ternak dan berdagang sampai ke negeri Syam.
  12.          Dalam hal inilah Mursi (2009:5) menegaskan bahwa Islam menjadikan bekerja adalah sebagai hak dan kewajiban individu. Menurutnya Rasulullah SAW memotivasi umatnya untuk bekerja sebaik-baiknya, dan menganjurkan kepada para majikan untuk berlaku adil dalam menentukan gaji pekerjanya dan membayarkan dengan tepat waktu. Pengaturan pendapatan dari hasil perkerjaan didasarkan pada kegiatan bekerja yang maksimum. Sebagai kewajiban manusia, maka pekerjaan dijadikan sebagai sarana untuk memperoleh rezeki (yang halal dan baik) demi mewujudkan penghidupan yang layak. Justeru itu, Islam memotivasi manusia untuk menugaskan akal dan fisiknya dalam bekerja secara bersungguh-sungguh. Dengan  akalnya manusia diminta untuk berpikir positif dan mengendalikan hawa nafsunya. Akal yang sehat dan pikiran yang positif harus dijadikan pedoman kehidupan dalam upaya mencapai tujuan hidup dan menegakkan kebenaran serta memerangi kebatilan. Misi kebenaran adalah misi kebaikan, misi kerja sama serta berbagi rasa, dan misi  kasih sayang sesama manusia. Dengan melaksanakan misi inilah manusia menuju pencapaian kebahagiaan hidup dunia akhirat di bawah naungan rida dan kasih sayang Allah SWT.
  13.          Keberhasilan bekerja ditandai dengan karir, yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu โ€œperjalanan hidup yang bermaknaโ€. Perjalanan hidup yang bermakna dapat diartikan sebagai suatu keberhasilan individu dalam menjalani tahapan-tahapan kehidupannya serta memenuhi tugas-tugas perkembangannya, yang ditandai dengan kepuasan dan kebahagiaan diri. Bermakna dapat diartikan sebagai sesuatu yang memberi makna bagi dirinya sendiri dan orang lain serta lingkungannya atas rida Allah, hal ini didasarkan pada surah al-Baqarah (2) ayat 201. Dalam hal ini, peranan penyesuaian diri menjadi sangat penting. Kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan baik akan terbuka lebar jika manusia menemukan tempat yang sesuai untuk mengembangkan potensi, kecenderungan dan kesenangannya bekerja. Situasi yang kondusif dan nyaman sangat diperlukan untuk mengembangkan karir dan nilai-nilai intrinsik dalam dirinya. Kenyataan menunjukkan banyak pekerja yang mempertahankan dan menekuni pekerjaan, jabatan, karirnya dan konsisten menolak tawaran yang lebih tinggi karena merasakan kenikmatan dan kenyamanan bekerja yang telah dimilikinya. Harus disadari bahwa salah satu faktor yang membantu untuk mendapatkan kenikmatan dan kenyamanan dalam bekerja adalah peluang dan kesempatan yang diperoleh untuk mendayagunakan serta mengembangkan potensi dan pengalaman kerja yang dimiliki.
  14.          Menurut Islam, insan saleh adalah manusia takwa yang beriman teguh, senantiasa mengajak kepada yang maโ€™ruf dan mencegah kemunkaran, memiliki akhlak yang mulia, serta memiliki keseimbangan dalam hal kepribadian dan  kegigihan bekerja. Sedangkan masyarakat saleh adalah masyarakat yang mengemban risalah untuk ummat manusia dan senantiasa mempertanggung jawabkannya. Konsep manusia seperti ini adalah manusia terdidik yang terampil dan berproduktivitas, yang membutuhkan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, serta dunia kerja yang membutuhkan keahliannya.
  15.          Dalam konteks pendidikan Islam, dengan tegas dinyatakan oleh Ashraf (2005:4): โ€œThe ultimate of Muslim eduยญcation lies in the realisation of complete submission to Allah on the level of the individual, the community and humanity at largeโ€. Dengan pendapat ini dapat digambarkan bahwa sosok manusia muslim yang ingin dihasilkan oleh pendidikan Islam adalah manusia utuh dan sempurna yang secara mutlak mengabdi kepada Allah, baik secara individu maupun dalam lingkup masyarakat dan pada sisi-sisi kemanusiaan lainnya.
  16.          Lebih lanjut Langgulung (2008:137) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya adalah untuk mencapai kesempurnaan manusia sebab ia mencerminkan kesempurnaan agama, Kesempurnaan ini ditandai oleh terbentuknya insan saleh dan masyarakat saleh.


RANGKUMAN

         Adalah sangat patut menjadi pertanyaan bagi setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa ramadhan setiap tahunnya, yakni: apakah puasa ramadhan yang dilaksanakan dapat dihayati maknanya dan dapat menjadi perwujudan dari suatu persiapan menuju sebuah perjuangan? Apakah perjuangan tersebut telah dapat dimenangkan?

         Jawaban yang jujur adalah sejauhmana puasa ramadhan yang dilaksanakan itu dapat diaplikasikan atau dapat merekonstruksi sirah dan sunnah Rasulullah SAW dalam menerima dan melaksanakan kewajiban berpuasa pada setiap bulan ramadhan, agar bulan ramadhan tersebut berakhir dengan limpahan rahmat Allah SWT yang sangat memberi manfaat.

DAFTAR RUJUKAN

Anorogo, P., Widiyanti, N. Psikologi Dalam Perushaaan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003.

Ashraf, Syed Ali. New Horizons in Muslim Education. Cambridge: Hodder and Stoughton The Islamic Academy, 2005.

Cheppy, H.C. Pendidikan Moral Dalam Beberapa Pendekatan. Jakarta: Depdiknas, Dirjend Dikti, P2LPTK, 2008.

Handoko, T.H. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia. Edisi kedua, Yogyakarta: BPFE, 2001.

Hartoko, Dick. Kamus Populer Filsafat. Jakarta: CV Rajawali, 2006.

Langgulung, Hasan. Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke 21. Jakarta: Pustaka al-Husna, 2008.

Mursi, Sayyid Abdul Hamid. Al-Syakhsiyyah al-amuntajih (Menjadi Manusia Paling Produktif. Terj: Abu Amal Ghavar dan Mohd. Puzhi bin Usop, Kuala Lumpur: Al-Hidayah, 2009.

Robbins, S.P. Perilaku Organisasi: Konsep-konsep Aplikasi. Jakarta: PT Indeks, 2003.

Surya, Mohammad. Dasar-dasar Konseptual Penanganan Masalah-masalah Karir/Pekerjaan Dalam Bimbingan dan Konseling Islam. Yogyakarta: UII, 2008.

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV Rajawali, 2006.


*  Disampaikan pada acara Muzakarah Khusus Ramadhan 1434 H Majelis Ulama Indonesia Provinsi  Sumatera Utara, di Medan, Minggu 21 Juli 2013. 

*Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Program Pascasarjana IAIN SU Medan


Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles