Oleh : H. Ahmad Fuad Said.*
PENGERTIAN.
“Lailatul” artinya “malam” dan “Qadar “ artinya “ nilai” , “mulia”,”ketentuan” dan “sempit”.
Dinamakan dengan “malam bernilai” atau “mulia”, kerena pada malam itu diturunkan Al-Qur’an yang nilainya cukup tinggi, dan amal ibadah orang malam itu lebih baik dari pada 1000 bulan atau 83 tahun empat bulan, sebagaimana firman Allah pada surah Al-Qadar ayat 1-5:
إنَّآ أنْزََلْنَاهُ فِىلَيْلَةِالْقَدْرِ. وَمَآ أدْراَكَ ماَ لَيْلَةُالْقَدْرِ. لَيْلَةُالْقَدْرِ خَيْرٌمِنْ ألْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَ ئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرِ, سلاَمٌ هِيَ حَتّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ. (القدر1-5
Maksudnya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Qur’an) pada kamu pada malam kemuliaan . Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turum Malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan Malam itu (penuh) kesejahteraan, sampai tebit (fajar).
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, malam itu mengandung tiga macam kelebihan yaitu:
- Beramal ibadah pada malam itu lebih baik daripada beramal ibadah seribu bulan atau 83 tahun empat bulan.
- Malaikat-malaikat turun kemuka bumi, mengucapkan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman.
- Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.
Dinamakan juga malam itu dengan “Malam Ketentuan” , karena pada malam itu Allah menyerahkan 4 buah daftar urusan pentadbiran alam semesta kepada 4 pemuka malaikat, yaitu:
- Daftar rahmat dan azab kepada Jibril
- Daftar tumbuh-tumbuhan dan rezeki kepada Mikail.
- Daftar hujan, angin dan bencana alam kepada Israfil.
- Daftar ajal, memuat nama-nama orang yang akan dicabut nyawanya dari Ramadhan ini sampai ke Ramadhan yang akan datang, kepada Izrail atau Malaikal Maut.
Pengaturan urusan pentadbiran alam semesta itu, dilakukan sesuai dengan firman Allah surah Ad-Dhukhan 4.
فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ (الدخان. ٤)
Maksudnya: Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
Dilakukan pengaturan alam semesta setiap malam Qadar itu, bukan berarti bahwa Allah itu, belum menentukan keadaan alam kita ini, malahan sebaliknya, sebelum alam ini ada, Allah telah menentukan segala sesuatunya pada Ilmu-Nya. Pada malam itu hanya merupakan penentuan yang lebih terperinci kepada malaikat-malaikat yang harus dilaksanakan mereka dalam tahun itu.
“Qadar” juga berarti “sempit”. Dinamakan demikian karena pada malam itu bumi kita ini penuh sesak atau sempit dengan para malikat.
Turun malikat kemuka bumi pada malam itu, adalah untuk memberikan ucapan selamat dan memintakan ampun segala dosa-dosa manusia yang beriman. Hal ini dilakukan mereka, mengingat mereka pernah menuduh manusia itu adalah menumpahkan darah dan membikin keonaran dimuka bumi, ketika Allah menyatakan kepada mereka bahwa Dia akan mengangkat Nabi Adam menjadi khalifah di muka bumi. Pada waktu itu mereka mengatakan (firman Allah surah Al-Baqarah 30)
“Mengapa Engkau hendak menjadikan Khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kebinasaan padanya dan menumpahkan darah, pada hal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? “Tuhan berfirman : Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Menurut Imam Fakhrur Razi, apabila terbit fajar malam Lailatul Qadar, Jibril berseru, ‘Hai malaikat-malaikat, berangkat, berangkatlah! Mereka menjawab dalam bentuk pertanyaan, “Apa yang telah dilakukan Allah kepada orang orang mukmin pada malam ini?” Jibril menjawab: “ Sesungguhnya Allah memandang mereka dengan penuh rahmat dan kasih sayang serta mengampuni segala kesalahan mereka, kecuali 4 orang, yaitu peminum arak, mendurhakai ibu bapa, memutuskan silaturrahim dan bereseteru sesama Muslim lewat tiga hari.”
SEBAB TURUN AYAT TERSEBUT
Menurut Sunnaniah yang dikutip Durratun Nashihin bahwa sebab turun ayat-ayat tersebut adalah: “tatkala masa kewafatan Nabi telah semakin mendekat, beliau merasa sedih dan menangis, akan berpisah dengan umatnya.”
Beliau bersabda, “’ Apabila saya telah meninggal dunia, maka siapa lagi yang akan menyampaikan salam Allah kepada umatku?”
Maka Allah menurunkan Al-Qodar itu, untuk menghibur atau membesarkan hati Nabi dengan dinyatakan-Nya malaikat turun ke bumi untu k menyampaikan salam Allah dimaksud.
Menurut Imam Ibnu Abbas, sebab turunnya surah Al-Qadar itu adalah sebagai berikut:
Jibril menerangkan kepada Nabi kita tentang seorang hamba Allah di kalangan Bani Israil, bernama Syam’un Al-Ghazi yang memerangi orang-orang kafir selama 1000 bulan dengan hanya bersenjatakan jenggot unta. Apabila senjata itu dipukulkannya, maka akan jatuh korban dalam jumlah yang tidak sedikit. Jika dia lapar atau haus, maka memancar air dan tumbuh daging di celah celah giginya. Itulah makanan dan minumannya. Demikianlah halnya sampai berusia seribu bulan. Orang kafir tidak berdaya melawannya.
Mereka bujuk istrinya yang masih kafir, untuk membuhnya dengan perjanjian, ia akan diberi hadiah harta benda yang banyak. Pada mulanya ia menolak, kerena tiada tahu bagaimana cara yang akan dilakukan. Tetapi setelah mereka mengajari supaya pembunuhan itu dilakukan setelah suaminya diikat kaki dan tangannya dengan seutas tali yang mereka berikan, ketika ia sedang tidur, barulah ia menyetujuinya.
Tatkala usaha pembunuhan itu dilakukannya, Syam’un terbangun, seraya bertanya, siapa yang mengikatku ini?”
Istrinya menjawab,” Saya untuk mencoba dan mengujimu.”
Syam’un merenggutkan tali itu, lalu putus
Pada waktu yang lain, sesuai dengan petunjuk orang-orang kafir, maka istrinya mengikat Syam’un pula dengan rantai besi ketika ia sedang tidur. Dan ketika Syam’un terbangun, ia bertanya pula “Siapa yang mengikatku ini dan untuk maksud apa?”
Saya sendiri, dengan maksud untuk mengujimu,” jawab sang istri.
Rantai besi itu pun direnggutkannya lalu putus. Syam’un menerangkan bahwa ia adalah seorang wali Allah. Tiada seorang pun dapat mengalahkan aku, selain rambutku ini,” ujarnya.
Syam’un mempunyai rambut yang panjang sampai kekakinya.
Beberapa waktu kemudian, ketika ia sedang tidur, istrinya menggunting rambutnya yang panjang itu. Empat kecak diikatkannya kepada kedua kaki Syam’un dan empat kecak lagi diikatkannya kepada kedua tangannya.
Syam’un terbangun seraya bertanya pula seperti semula, dijawab sang istri dengan tegas bahwa yang melakukannya adalah dia sendiri dengan maksud mengujinya. Syam’un mencoba merenggutkannya, tetapi tiada mampu, karena sumber kekuatannya terletak pada rambutnya.
Setelah sang istri melaporkannnya kepada orang–orang kafir, mereka pun menangkapnya, menyeret ketempat penyembelihan dan mengikatnya kesebatang tiang. Kemudian mereka menyiksanya dengan memotong kuping, lidah, bibir, kaki dan tangannya, dan mencungkil matanya.
Pada saat penyiksaan itu dilakukan, Allah memberi petunjuk kepadanya, bahwa segala keinginannya akan dikabulkan-Nya.
Syam’un mohon supaya diberi kekuatan untuk menumbangkan tiang itu, dan menimpa mereka sehingga semuanya tewas menjadi korban. Allah memperkenankan permintaannya, maka dengan sekejab saja, tiang itu tumbang menimpa mereka, termasuk istrinya ikut menjadi korban.
Dengan izin Allah keadaan tubuh Syam’un dipulihkan kembali seperti sediakala. Sesudah peristiwa itu ia terus mengabdikan diri kepada Allah SWT selama 1000 bulan atau 83 tahun empat bulan, siang puasa, malam beribadah. Dan terus menerus melancarkan perang fi sabilillah.
Tatkala Rasulullah saw. menerangkan riwayat itu, para sahabat terharu mendengarnya dan ada yang menangis, seraya bertanya , “Tahukah Rasulullah Saw, berapa besar pahalanya?”
Rasulullah Saw menjawab, “Tidak tahu”.
Maka Jibril pun turun menyampaikan wahyu surah Al-Qadar, seraya menyatakan, “Kuberi engkau dan umatmu Lailatul Qadar, ibadah pada malam itu lebih baik dari 1000 bulan.”
Sebagian ulama menyatakan bahwa Allah SWT berfirman :”Hai Mahammad, dua rakaat shalat pada malam (Lailatul) Qadar lebih baik bagimu dan bagi umatmu dari berperang dengan pedang fi sabilillah seribu bulan pada masa kaum Bani Israil itu.”
WAKTU TERJADINYA LAILATUL QADAR
Terdapat perselisihan pendapat di kalangan para ulama tentang saat dan waktu terjadinya Lailatul Qadar itu.
Sebagian kalangan berpendapat, Lailatul Qadar itu hanya terdapat pada masa Rasulullah Saw saja. Tetapi sebagian basar para ulama menyatakan Lailatul Qadar itu terdapat pada puluhan terakhir dari bulan Ramadhan setiap tahun, meskipun sesudah Nabi Saw wafat. Pendapat inilah yang muktamad.
Tentang tanggal pasti jatuhnya malam Lailatul Qadar itu berbeda pula pendapat para ulama. Ada yang mengatakan tanggal 1 Ramadhan , tanggal 17 Ramadhan, akan tetapi pendapat terbanyak dan terkuat adalah malam ganjil sesudah tanggal 20, 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan. Umumnya para Sahabat dan sebagian besar ulama menyatakan tanggal 27 Ramadhan. Yazid Busthami menegaskan bahwa ia telah menemui malam (lailatul ) Qadar dua kali seumur hidupnya, keduanya pada malam 27 Ramadhan.
Dalam Haqiqul Hanafi dinyatakan hahwa huruf “Lailatul Qadar” ( لَيْلَةُ الْقَدْرِ ) itu 9. sedangkan Allah SWT menyebutkan kata-kata “Lailatul Qadar” itu dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali, dalam surat Al-Qadar. Maka malam Lailatul Qadar itu jatuh pada malam 9 x 3 = 27 Ramadhan.
Imam Ibnu Abbas memperkuat pendapat tersebut, dengan alasan kata-kata “hiya” (هِيَ ) dalam surah Al-Qdar itu artinya”dia” (malam lailatul)Qadar, jatuh pada urutan kata-kata yang ke 27 dari pangkal surah.
Imam Syafi’i lebih cendrung kepada malam 21 atau 23 Ramadhan.
Para ahli tasawuf berpendapat, malam (Lailatul) Qadar itu berdasarkan kepada awal Ramadhan. Apabila awal Ramadhan hari Jum’at atau Senin, maka menurut mereka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 Ramadhan. Kalau awal Ramadhan hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21. Kalau awal Ramadhan hari Ahad dan Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27.
Kalau awal Ramadhan hari Selasa, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25. Kalau awal Ramadhan hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21.
Hadis-hadist yang menerangkan tentang Lailatul Qadar itu menurut Tafsir Khazin lebih dari 22 hadits.
Adapun hikmah dirahasiakannya tanggal itu, adalah untuk mendorong dan menggairahkan orang supaya berusaha agar mencarinya dengan meningkatkan amal ibadah pada malam puluhan terakhir Ramadhan.
AMALAN-AMALAN
Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, apakah yang harus diperbuat, kalau dia mendapat malam (Lailatul) Qadar. Rasulullah Saw menganjurkan supaya banyak-banyak membaca:
الَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى.
Maksudnya:”O, Tuhan, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau senang memafkan; maka maafkanlah saya !.
Sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, dalam Tafsir Al-Hanafi, menyatakan bahwa Rasulullah Saw, bersabda, yang maksudnya: “Barang siapa shalat dua rakaat pada malam (Lailatul) Qadar, dibacanya pada setiap rakaat sesudah Al-fatihah, 7 (tujuh) kali surah Al-Ikhlas (Qul Huwallaahu Ahad). Dan sesudah salam dibacanya pula
إسْتَعْفِرُاللهَ وَأتُوْبُ إلَيْهِ.
sebanyak 70 kali, maka sebelum bangkit dari tempat duduknya, Allah SWT telah mengampuni dosanya dan dosa kedua ibu bapaknya. Dan Allah SWT mengutus malaikat ke surga untuk menanam pohon-pohon, membangun gedung megah, mengalirkan air sungai untuknya. Dia tiada akan meninggalkan dunia ini, sampai semua kesenangan itu dilihatnya.”
Rasulullah Saw menurut hadis sahih Bukhari bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَالْقَدْرِِ إيْمَانًا وَاحْـتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
Maksudnya :”Barang siapa beramal ibadah pada malam (Lailatul) Qadar, dengan sungguh-sungguh beriman dan ikhlas karena Allah, niscaya diampuni Allah dosanya yang terdahulu.
Hadits tersebut antara lain terdapat dalam kitab Al-Jami’us Shaghir halaman 311
ARTI RUH
Dalam Surah Al-Qadar dinyatakan :
تَنَزَّلُ لْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ.
Maksudnya:” Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Ahli –ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kata-kata “ruh” yang terdapat pada ayat itu. Menurut kebanyakan ahli tafsir, maksudnya adalah Jibril.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa “ruh” itu maksudnya adalah sejenis malaikat di bawah Arasy, perawakannya istimewa, dua kakinya dibumi ketujuh. Dia mempunyai 1000 kepala, sebuah kepala itu lebih besar dari dunia ini. Pada setiap kepala terdapat 1000 muka, pada setiap muka terdapat 1000 mulut. Pada setiap mulut terdapat 1000 lidah yang bertasbih kepada Allah. Setiap lidah mengucapkan 1000 jenis tasbih, tahmid dan tamjid. Setiap lidah menggunakan satu bahasa yang satu dengan yang lain tidak sama. Apabila mulutnya terbuka mengucapkan tasbih maka para malaikat penghuni langit, tunduk dan sujud, karena takut terbakar hangus oleh sinar yang memancar dari mulutnya. Dia mengucap tasbih kepada Allah SWT, setip pagi dan petang. Dan dia turun kebumi pada setiap malam (Lailatul) Qadar, mengingat tingginya nilai malam itu. Dia meminta ampunkan segala kesalahan umat Muhammad yang berpuasa, baik laki-laki maupun wanita, sampai terbit fajar.
Demikian menurut Tafsir Al-Jamal juz 4, halaman 567 yang mengutip uraian Al-Khathib.
Lebih jauh Tafsir Al-Jamal menyatakan bahwa malaikat penghuni Sidratul Muntaha turun kebumi malam itu, membawa 4 buah bendera. Sebuah bendera dipacakkan di pusara Nabi Besar Muhammad Saw di Madinah. Selebihnya dipacakkan di Masjid Baitul Maqdis Palestina, dimasjid Haram Makkah dan sebuah lagi di Bukit Thursina.
Adapula pendapat ulama yang menyatakan bahwa “ruh” pada ayat itu maksudnya adalah sejenis malaikat yang besar lagi tegap. Dunia ini habis sekali ditelannya. Dia hanya dilihat oleh malaikat-malaikat lainnya pada malam (Lailatul ) Qadar.
Adapula pendapat ahli tafsir bahwa “ruh” adalah sejenis makhluk, bukan malaikat dan bukan pula manusia, mungkin dia pelayan-pelayan di surga. Dia makan minum dan berpakaian.
Adapula yang menyatakan “ruh” itu adalah nabi Isa kerena “ruh” itu adalah namanya. Adapula yang menyatakan “ruh” itu adalah “rahmat” yang dikirim Allah SWT kepada hamba-Nya, dengan perantaraan Jibril.
SALAMUN HIYA ( سَلاَمٌ هِيَ )
Adapun kalimat “salamun hiya” (selamat dia) yang terdapat dalam surah Al-Qadar ayat 5, mengandung makna malam itu selamat sejahtera dari semua yang menakutkan, apabila isim dhamir (kata pengganti) “hiya” itu dikembalikan kepada Lailatul Qadar.
Apabila kata pengganti “hiya” itu dikembalikan kepada malaikat, sebagaimana pandapat sebagian ahli tafsir, maka artinya adalah malaikat pada malam itu memberikan ucapan selamat kepada orang –orang mukmin.
A-Qurthubi menyatakan bahwa malam (lailatul) Qadar itu adalah malam keselamatan dan kebaikan, tiada terdapat padanya kejahatan sampai terbit fajar.
Al-Dhahhak menyatakan bahwa pada malam itu Allah SWT hanya menentukan “keselamatan” atau “kebaikan” saja, sedangkan pada malam yang lain Allah SWT menentukan kebaikan dan kejahatan.”
Asy-Sya’bi berpendapat bahwa maksud “salamun” pada ayat itu adalah ucapan selamat malaikat kepada penghuni mesjid sejak terbenam matahari malam (lailatul) Qadar sampai terbit fajar.
Kalangan lain berpendapat “salamun” itu mengandung makna bahwa orang mukmin pada malam itu selamat dari pengaruh dan godaan setan. Demikian pula pendapat Al-Mujahid, malam itu setan tidak mampu berbuat kejahatan.
Ada pula pendapat “salamun” itu adalah ucapan selamat antara sesama malaikat.
Ka’ab bin Al-Ahbar menyatakan bahwa malaikat penghuni Sidratul Muntaha yang tidak diketahui jumlahnya pada malam (Lailatul) Qadar itu turun ke bumi, Jibril di tengah-tengah, semuanya mendoakan orang mukmin semoga berada dalam keselamatan dan kesejahteraan. Malaikat Jibril bersalaman dengan orang-orang mukmin.
Adapun malam yang tinggi nilainya berturut-turut sebagai berikut :
- Malam Kelahiran Nabi Muhammad Saw
- Malam (Lailatul) Qadar
- Malam Isra’ dan Mi’raj
- Malam Arafah
- Malam Jum’at
- Malam Nishfu Sya’ban
Pada malam tersebut baik ditingkatkan amal ibadah.
TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADAR.
Adapun tanda-tanda malam Lailatul Qadar dan orang yang telah mendapat ucapan selamat dari para Malaikat itu, menurut Ka’bul Ahbar, antara lain :
- Berdiri bulu roma, dingin panas perasaan badan, hati terharu bercampur gembira dan air mata keluar.
- Keesokan harinya, matahari terbit agak redup, tidak begitu cemerlang.
- Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitabnya :Hikmatut Tasyi’ Wa Falsafatuhu”, menambahkan : Udara pada malam itu sedang, tidak begitu panas dan tidak pula terlampau dingin.
- Air laut menjadi tawar
- Anjing tidak menyalak.
UPAYA MENDAPATKANNYA.
TINGKATKAN AMAL IBADAH.
JAUHI PERBUATAM MAKSIAT.
Rasulullah Saw lebih banyak berada di mesjid dan lebih memperketat ikat pinggangnya, apabila lewat 20 Ramadhan. Beliau iktikaf dan sesudah beliau wafat, istri-istri beliau pun lebih banyak mengerjakan i’tikaf sesudah tanggal 20 Ramadhan itu.
Demikianlah uraian saya, semoga bermanfaat bagi masyarakat.
Medan, 3 Ramadhan 1425 H.
- Oktober 2004 M
( Syekh H. Ahmad. Fuad Said )
* ) Ketua Komisi Dakwah MUI-SU, di sampaikan pada muzakarah ilmiah MUI-SU, Ahad 3 Ramadhan 1425 H ( 17 Oktober 2004 ), di aula MUI-SU Medan.






