Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Sumut)
Dalam setiap khutbah, khotib selalu menyampaikan pesan takwa kepada umat Islam. Bahkan pesan takwa ini merupakan rukun dari khutbah itu sendiri. Mengapa? Karena takwa adalah wasiat dari Allah Swt. dan para Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS Ali Imran (3): 102).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada. Dan ikutilah kejelekan (suatu perbuatan dosa) dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan. Dan perlakukanlah manusia itu dengan akhlak terpuji” (HR Tirmidzi).
Takwa menjadi wasiat abadi karena mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Takwa merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah Swt.
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS An-Nahl: 128).
Perintah untuk mencapai derajat takwa kemudian dilanjutkan dengan penjelasan global tentang cara-cara untuk mencapainya dalam sebuah firman Allah Swt.,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah (2): 21).
Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini masih dalam bentuk global, mencakup ibadah wajib dan ibadah sunnah. Ibadah wajib terdiri dari shalat, puasa, zakat, dan haji, ditambah dengan kewajiban-kewajiban sosial yang diperintahkan oleh Al-Qur`an, seperti berbuat baik kepada orangtua, kerabat, yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman dekat, dan musafir. Sedangkan yang termasuk ibadah sunnah misalnya berdzikir kepada Allah Swt., berdoa kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan membaca Al-Qur`an. Ibadah-ibadah tersebut semuanya dipersiapkan untuk membentuk setiap Muslim menjadi insan bertakwa.
Di antara kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan tersebut, secara lebih khusus, Allah Swt. menekankan pada perintah puasa sebagai saranan pembentukan insan bertakwa. Tidak diragukan bahwa puasa merupakan salah satu jalan mencapai taqwa. Al Qur’an sendiri telah berbicara bahwa hikmah paling besar dari puasa adalah menjadikan seorang bertaqwa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagimu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang yang bertaqwa (Al baqarah (2): 183)
Puasa diwajibkan untuk mempersiapkan diri menjadi orang taqwa. Orang yang dapat meninggalkan larangan Allah dan mengerjakan perintah Allah SWT, serta mengendalikan diri (hawa nafsu)
MAKNA TAQWA
Itqa dan taqwa maknanya adalah menjauhi. Artinya menjauhi kemarahan dan murka Allah Swt. serta meninggalkan apa yang membuat kemarahan Allah SWT. Dengan demikian, takwa harus diwujudkan dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Takwa dasarnya adalah takut kepada Allah SWT. yang merupakan perbuatan hati. Hal ini dijelaskan Allah Swt. dalam firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS Al-Hajj: 32). Rasulullah Saw. juga menegaskan, “Takwa itu ada di sini”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali sambil menunjuk ke dada beliau (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Takwa juga berarti membuat pelindung dan penghalang yang mencegah dan menjaga diri dari sesuatu yang menakutkan. Jadi taqwallah berarti perbuatan seorang hamba dalam mencari pelindung diri agar terjaga dari siksa Allah yang amat ditakutinya. Caranya adalah dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Para salafush shalih mendefinisikan takwa dengan sebuah ungkapan, “Menaati Allah dan tidak maksiat, selalu berdzikir dan tidak lupa, senantiasa bersyukur dan tidak kufur.” Sifat takwa senantiasa melekat pada seorang yang mukmin selama ia meninggalkan hal-hal yang sebenarnya halal, karena khawatir jatuh ke dalam yang haram, demikian kata Hasan Al-Bashri.
Nilai-nilai ketakwaan tidak dapat membumi dan buahnya tidak dapat dipetik, kecuali jika Seorang Muslim memiliki pengetahuan tentang agama Allah yang menuntun dirinya mencapai derajat muttaqin. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
š إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Fathir (35): 28).
Pengertian taqwa ada beberapa macam pandangan diantaranya: Syech Amin Kurdy mendefinisikan taqwa:
التقوى هي امتثال أوامرالله واجتناب نواهيه ظاهرا وباطنا مع استشعار التعظيم الله
“Taqwa yaitu menjunjung (mematuhi) seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya, yang nyata atau yang tersembunyi, serta mensyiarkan kebesaran kemulyaan Allah SWT”
Ali bin Abi Thalib ketika ditanya arti taqwa beliau menyatakan :
التقوى هي الخووف من الجليل والعمل باالتنزيل والقناعة بالقليل والاستعداد ليوم الرحيل
“Taqwa: Takut kepada Tuhan, mengamalkan apa yang diturunkan (agama), memadakan yang sedikit, dan bersiap untuk hari berangkat (mati)”
Dari penjelasan tentang taqwa di atas dapat disimpulkan bahwa taqwa itu adalah mematuhi seluruh perintah Allah menjauhi seluruh larangan-Nya dan memadakan apa yang diberi Allah walaupun sedikit, memuliakan Allah dalam segala hal dan memperbanyak amal untuk menghadapi mati.
Taqwa mempunyai faedah yang banyak di antaranya:
- Bebas dari kesulitan dan mudah rizki
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangka (At Thalaq (65): 2,3)
- Allah memperbaiki amal dan mengampuni dosa orang yang bertaqwa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu, dan mengampunkan dosa-dosamu” (al Ahzab (33): 70,71)
- Allah menerima amal orang yang taqwa
إنما يتقبل الله من المتقين (المائدة 67)
“Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa”
- Allah memulyakan dan meninggikan derajat orang taqwa
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah orang yang bertaqwa di antara kamu” (Al Hujarat(49 :13)
Dan masih banyak lagi kelebihan dan keistimewaan orang taqwa diberikan oleh Allah SWT. Ahmad Mustafa Al Maraghy dalam tafsirnya Al Maraghy menyatakan:
- Puasa dapat membiasakan seseorang untuk takut kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri ataupun dengan orang banyak.
- Puasa dapat menurunkan ketegangan syahwat, dan dapat menjadikan jiwa seseorang menghindari berbagai keinginan, dan mengkonsentrasikan mengerjakan yang diridhai Allah.
- Puasa dapat melatih diri bersikap kasih sayang, saling membantu dan menyantuni.
- Puasa mengandung makna persamaan antara sikaya dan simiskin antara raja dan rakyat dalam melaksanakan ibadah puasa. Dengan demikian dapat mewujudkan rasa ukhuwah dan persatuan dalam masyarakat.
- Puasa membiasakan hidup teratur dan disiplin, berbuka pada waktu yang sama dan bersahur pada waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian membawa kehidupan muslim menjadi teratur dan disiplin.
- Puasa dapat dijadikan sebagai pelebur bahan-bahan yang mengendap dalam tubuh seperti (lemak) dan sisa-sisa makanan, sisa obat dan sebagainya, puasa juga membersihkan perut besar dari berbagai kotoran dan racun dari akibat makan kekenyangan, dan mengeringkan kelembaban yang sangat membahayakan tubuh.
Dengan latihan puasa selama satu bulan, menahan diri disiang hari tidak makan dan minum dan tidak menggauli istri disiang hari, membawa hasil bagi seseorang untuk menjaga dirinya dari memakan dan meminum harta orang lain dan tidak mendekati istri, anak gadis orang lain, karena itu ia mampu menjauhi larangan Allah dalam berbagai hal dan mengerjakan perintah Allah SWT yang wajib ataupun sunnat sehingga dengan demikian menjadilah ia orang yang taqwa sesuai pengertian taqwa di atas. Puasa adalah membentengi diri dari berbagai perbuatan negatif, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun sikap/perilaku seseorang:
الصيام جنة“ Puasa itu adalah benteng”
Imam Awza’y: berpendapat bahwa perbuatan ghibah (mengupat) merupakan perbautan membatalkan puasa. Imam Ibnu Hazm menyatakan: Bahwa puasa itu bisa dibatalkan karena perbuatan maksiat secara sengaja dan sadar bahwa ia sedang berpuasa.
Imam Al Ghazali mengatakan: Barang siapa yang berbuat maksiat kepada Allah, sedang ia dalam keadaan puasa, maka sama halnya dengan seorang yang sedang membangun gedung, kemudian ia menghancurkan sebuah kota
Dari hadis tersebut di atas tadi bagi orang yang sedang berpuasa dapatlah dia menjauhkan dirinya dari berbagai perbuatan yang merusak puasanya dan membentengi dirinya dari perbuatan tercela dan terlarang sehingga dengan demikian sejalan dengan makna taqwa maka jadilah ia orang yang bertaqwa kepada Allah dan tingkat derajatnya menjadi tinggi disisi Allah SWT. Dengan demikian jelaslah bahwa puasa yang dilaksanakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta menjaga diri dari segala yang membatalkan pahala puasa pastilah menjadi orang yang taqwa.
Akhirnya Allah telah menjadikan bulan Ramadhan untuk menjadi sarana untuk mencapai derajat takwa. Karena di dalam bulan Ramadhan terkumpul hampir semua aktifitas peribadatan. Selain puasa, ada shalat Tarawih, shalat Witir, tilawatil Qur`an, kajian keislaman, zakat, infaq, shadaqah, dan i’tikaf. Selain itu, balasan pahala di bulan Ramadhan juga dilipatgandakan untuk merangsang umat Islam meningkatkan amal salehnya. Oleh karena itu, mari kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kerinduan dan suka cita. Siapkan diri kita untuk meraih rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari siksa neraka.
Indikasi tercapainya ketakwaan sebagai buah tarbiyah Ramadhan dapat dilihat dari perilaku kita ba’da Ramadhan. Seseorang yang bertakwa senantiasa berupaya mencari sarana (wasilah) yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. (QS Al-Maidah: 35). Seorang yang bertakwa selalu berkata benar (qaulan sadida) (QS Al-Ahzab: 70). Orang yang bertakwa senantiasa berteman dengan orang-orang saleh (QS At-Taubah: 119). Orang bertakwa senantiasa mengutamakan ukhuwah Islamiyah dan menjaga tali silaturrahim (QS Al-Anfal: 1). Orang bertakwa senantiasa mencari harta yang halal, tidak memakan harta riba, harta hasil KKN, dan harta-harta yang diperoleh dengan cara syubhat. Semoga






