oleh Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Sumatera Utara)
“DUA NIKMAT YANG BANYAK MANUSIA TERTIPU DALAM KEDUANYA, YAITU NIKMAT SEHAT DAN WAKTU LUANG (HR. BUKHARI)”
Ramadan ibarat sebuah madrasah iman, dimana kita ditempa untuk menjadi orang yang sabar, pandai bersyukur, dan puncaknya meraih predikat taqwa. Berakhirnya Ramadan menjadi saksi atas amal-amal kita. Selamat bagi yang amalnya baik, yang amalnya itu akan menolongnya untuk masuk Surga dan bebas dari Neraka. Dan celaka bagi orang yang buruk amalnya lantaran kelengahan dan menyia-nyiakan waktu Ramadan. Maka perpisahan dengan Ramadan hendaknya diakhiri dengan kebaikan. Barangsiapa berbuat baik di bulan Ramadan hendaklah menyempurnakan kebaikannya, dan barangsiapa berbuat jahat hendaklah ia bertobat dan menjalankan kebaikan pada sisa-sisa umurnya. Barangkali tidak akan menjumpai lagi hari-hari Ramadan setelah tahun ini. Maka hendaklah diakhiri dengan kebaikan dan senantiasa melanjutkan perbuatan baik yang telah dilakukan di bulan Ramadan pada bulan-bulan lain.
Sebagian orang beribadah di bulan Ramadan secara khusus. Mereka menjaga salat-salatnya di masjid-masjid, memperbanyak baca Al-Quran, dan menyedekahkan hartanya. Lalu ketika Ramadan usai, mereka bermalas-malasan, kadang-kadang mereka meninggalkan shalat Jum’at dan tidak berjama’ah. Mereka itu telah merusak apa yang telah mereka bangun sendiri, dan menghancurkan apa yang mereka bina. Seakan-akan mereka menyangka, ketekunannya di bulan Ramadan itu bisa menghapuskan dosa dan kesalahannya selama setahun. Juga mereka anggap bisa menghapus dosa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan dosa melanggar hal-hal yang haram. Mereka tidak menyadari bahwa penghapusan dosa karena berbuat
kebaikan di bulan Ramadan dan lainnya itu hanyalah terhadap dosa-dosa kecil dan itupun terikat dengan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar.
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).” (An-Nisaa’: 31).
Rasulullah bersabda, artinya: “Shalat lima waktu, Jum’at sampai dengan Jum’at berikutnya, dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi diantara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan. “(HR. Muslim).
Sebagian orang kadang berpuasa Ramadan dan menampakkan kebaikan serta meninggalkan maksiat, namun itu semua bukan karena keimanan dan kesadaran. Mereka mengerjakan itu hanyalah dalam rangka basa-basi dan ikut-ikutan. Karena hal ini terhitung sebagai tradisi masyarakat. Perbuatan ini adalah kemunafikan besar, karena orang-orang munafik memang pamer kepada manusia dengan menampak-nampakkan ibadahnya.
Orang-orang munafik itu menganggap bulan Ramadan ini sebagai penjara, sementara yang ditunggu adalah usainya, untuk berkiprah dalam kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan haram, bergembira ria dengan usainya Ramadan lantaran bebasnya dan kungkungan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Telah masuk pada kalian bulan kalian ini,” kata Abu Hurairah dengan menirukan sumpah Rasulullah SAW,“tidak ada bulan yang melewati Muslimin yang lebih baik bagi mereka daripadanya, dan tidak ada bulan yang melewati orang-orang munafik yang lebih buruk bagi mereka daripadanya,” kata Abu Hurairah dengan menirukan sumpah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam., “Sesungguhnya Allah pasti akan menulis pahalanya dan sunat-sunnatnya sebelum (mukmin)memasukinya (bulan Ramadhan itu), dan akan menulis dosanya dan celakanya sebelum (munafik) memasukinya. Hal itu karena orang mukmin menyediakan makanan dan nafakah/belanja di bulan itu untuk ibadah kepada Allah, dan orang munafik bersiap-siap di bulan itu karena membuntuti kelalaian-kelalaian mukminin dan membuntuti aurat-aurat (rahasia-rahasia) mereka, maka dia (munafik) memperoleh jarahan yang diperoleh orang mukmin.” (HR. Ahmad dan lbnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan Abi Hurairah).
Bagi golongan di atas Hari raya disambut dengan bergembira karena pada hari itu segala keinginan nafsunya tercapai, maka dia bergembira. Ini adalah kelompok orang lalai (غفلة) orang awam
KEGEMBIRAAN MUKMININ BEDA DENGAN MUNAFIKIN
Orang mukmin bergembira dengan selesainya Ramadan karena telah memanfaatkan bulan itu untuk ibadah dan taat, maka dia mengharap pahala dan keutamaannya. Sedang orang munafik bergembira dengan selesainya bulan itu karena akan berangkat untuk bermaksiat dan mengikuti syahwat yang selama Ramadan itu telah terkungkung. Kegembiraan orang mukmin ialah apabila ia dapat mengingat Allah terus- menerus dengan hati yang bersih dan suci. Ada yang bergembira karena dosanya diampunkan/dihapuskan Allah, maka ia bergembira dan dia bergembira karena dapat mengekang hawa nafsu syahwatnya, sehingga ia tidak berbuat dosa, ini adalah (ahlul yaqhizah) orang yang sadar dan selalu dekat Allah SWT yang dikasihi dan dicintainya.
Oleh karena itu orang mukmin melanjutkan kegiatan setelah bulan Ramadan dengan istighfar, takbir dan ibadah, namun orang munafik melanjutkannya dengan maksiat-maksiat, hura-hura, pesta-pesta musik dan nyanyian karena girang dengan berpisahnya Ramadhan dari mereka. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, dan berpisahlah dengan Ramadanmu dengan taubat dan istighfar.
ليس العيد لمن ليس الجديد بل هو لمن طاعته تزيد, ولا لمن تجعل بالملابس ةالمركوب بل هو لمن غفرت له الذنوب.
Tidaklah Id (hari raya) bagi orang yang berpakaian baru, tetapi adalah Id bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan tidak pula Id bagi orang yang mempercantik pakaian dan kendaraan, tetapi Id ialah bagi orang yang dosanya diampunkan Allah.
Bergembira dan meletakkan kegembiraan itu adalah berbeda-beda pada seseorang. Bagi orang “awam” kegembiraan itu dikarnakan memperoleh keinginan nafsunya. Sebaliknya orang “arif bijaksana dan zuhud” bergembira dikarnakan bertambah tekun bermunajat kepada Allah.
AMALAN YANG BAIK DI MALAM HARI RAYA
Pada malam hari raya ada amalan-amalan yang baik dikerjakan oleh setiap muslim, diantaranya yaitu shalah sunnat lailatul Id. Ada tiga hadis tentang keutamaan shalat dan menghidupkan malam Id:
- Diriwayatkan Thabrany dalam al Ausath al kabir:
فقال عليه الصلاة والسلام, من أحي ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب.
“Siapa yang menghidupkan malam hari raya fitri dan adha, tidak mati hatinya ketika hati orang mati”
- Hadis riwayat Ibnu Majah
من قام ليلتى العيدين محتسبا لم يمت قبله يوم تموت القلوب
“Siapa yang menegakkan dua malam hari raya (dengan shalat) yang ikhlas, tidak mati hatinya ketika hati orang mati”
Pengertian tidak mati hatinya, yaitu hatinya tidak bisa dikalahkan oleh kecintaan dunia, sehingga menghalanginya dari berbuat amal akhirat, hatinya tetap tegar menghadapi semua cobaan. Hatinya tidak gentar/ bimbang ketika akan menghembuskan nafas terakhir/ tidak bimbang dalam kubur, dan dihari kiamat Allah menguatkan hatinya tetap tegar terpeliharalah dia dari berbagai coabaan yang dihadapinya.
- Hadis riwayat Thabrani dalam al Kabir
وقال عليه الصلاة والسلام “إذا كان يوم عيد الفطر وقفت الملائكة على ابواب الطرق فنادوا أغدوا يامعشر المسلمين إلى رب كريم يمن بالخير ثم يثيب عليه الحزيل لقد أمرتم بقيام الليل فقمتم وأمرهم بصيام النهار فصمتم وأطعمتم ربكم فاقابضوا جوائزكم فإذا صلوا نادى مناد ألا إن ربكم قد غفر لكم فارجعوا راشدين إلى رحالكم فهو يوم الجائزة ويسمى ذالك اليوم فى السماء يوم الجائزة
“Pada pagi hari raya idul fitri, para malaikat berdiri disetiap samping jalan, mereka memanggil; wahai kaum muslimin cepatlah menghadap Tuhanmu yang amat mulia ia akan memberikan kepada kamu kabaikan, kemudian memberi pahala balasan kepada kamu, karena kamu telah diperintahkan sebelumnya shalat malam, telah kamu kerjakan, diperintahkan kamu puasa disiang hari juga telah kamu kerjakan. Telah kamu taati perintah Tuhanmu, sekarang peganglah piagam penghargaanmu. Apabila telah dilaksanakan shalat Id, terdengan suara seruan, ketahuilah bahwa Tuhanmu telah mengampunkan semua dosamu, maka pulanglah ketempatmu masing-masing dengan penuh keceriaan, Hari in adalah hari pemberian piagam kemenangan. Hari raya idul fitri ini dinamakan oleh penduduk langit dengan hari kemenangan dan prestasi
Pada pagi hari raya disunatkan mandi sesudah terbit fajar atau sebelumnya, terutama bagi yang mau shalat Id. Disunatkan mamakai pakaian yang terbaik yang dimiliki diutamakan pakaian baru, dan memakai minyak wangi (haruman). Disunatkan juga segera pergi ketempat shalat dan berbuka/sarapan sebelum shalat, atau sekurang-kurangnya makan kurma atau yang manis atau air putih. Pada hari Idul Adha disunatkan Imsak (menahan diri) sampai selesai shalat Id.
Disyariatkan mengagungkan dan memuliakan Idul Fitri, mengagungkan asma Allah terutama pada malam hari raya dengan mengumandangkan takbir (Allahu Akbar) tahmid (Alhamdulillah) dan tahlil (Lailaha illa Allah) yang digabungkan menjadi
الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, لاإله إلا الله الله اكبر. الله اكبر و لله الحمد
Disunnatkan juga untuk berzikir/ bertasbih. Zikir dan tasbih yang sangat baik dibaca diantaranya:
قال صلعم: من قال سبحبن الله وبحمده فى يوم مأئة مرة خطت خطاياه ولو كانت مثل ربد البحر (رواه الشيخان وغيرهما)
Siapa yang mengucapkan subhanallah wal hamdulillah 100X dalam sehari dihapuskan dosanya walau sebanyak buih dilaut.
WAKTU SHALAT ID
Awal waktu shalat Id menurut 3 imam mazhab (Hanafi, Hambali, Maliki) apabila matahari telah tinggi sepenggalah (setinggi galah). Sedangkan menurut Imam Syafi’i awal waktunya adalah dari terbit matahari dan sunat melambatkannya sampai tinggi matahari segalah. Adapun mengenai akhir waktunya para imam mazhab sepakat yaitu sampai tergelincir matahari.
TEMPAT SHALAT ID
Tempat shalat Id, menurut 3 imam mazhab adalah dilapangan diluar kampung (shahran) lebih afdhal daripada di masjid, sedangkan menurut Imam Syafi’i dimesjid lebih afdhal jika ada masjid besar. Menurut 3 imam tidak ada shalat sunat sebelum dan sedudahnya baik di masjid maupun dilapangan, sedangkan Imam Syafi’i membolehkan sembahyang sunat sebelum dan sesudah shalat Id setelah matahari segalah.
HUKUM SHALAT ID
Hukum Shalat Id berbeda pendapat di antara imam mazhab, menurut Syafi’i dan Maliki hukumnya sunnah muakkad, menurut Abu Hanifah hukumnya wajib bagi yang wajib Jum’at, dan menurut Imam Ahmad fardhu kifayah.
SHALAT ID
Tata cara shalat Id sebagai berikut:
- Berdiri mengahadap kiblat, niat shalat hari raya Idul Fitri seraya mengangkat tangan dan membaca takbir (Allahu Akbar)
- Sebelum membaca Fatihah pada rakaat pertama, membaca 7 X takbir dan pada rakaat kedua 5 X takbir, diantara takbir itu dibaca tasbih:
سبحن الله والحمد لله ولاإله إلا الله الله اكبر
- Selanjutnya sama dengan shalat yang lain yaitu membaca fatihah, membaca ayat al Quran, ruku, sujud, dan tasyahud akhir kemudian salam
- Setelah selesai shalat dilakukan khutabh kesatu dan khutab kedua. Syarat dan rukunya sama dengan khutbah Jumat, hanya saja khutbah dimulai dengan 9 X takbir pada khutbah pertama dan 7 X takbir pada khutbah kedua. Isi khutbah diutamakan pada penanaman dan pemantapan aqidah, peningkatan amala ibadah, dan pemupukan serta pembinaan akhlakul karimah yang disaripatikan dari makna ibadah puasa dan fadhilah Ramadhan
Menurut imam Syafi’i orang yang tidak shalat Id pada waktunya, maka sunnat dia mengqadhanya sebelum tergelincir matahari atau sesudah tergelincir matahari atau sesudah tergelincir matahari.
Menurut Abu Hanifah tidak di qadha kecuali semua jamaah luput dari shalat Id karena tidak mengetahui hari raya sebelum tergelincir matahari dan mereka sembahyang Id besok harinya diwaktunya.
Menurut Ahmad kalau jamaah luput dari shalat Id, maka mereka mengqhadanya pada waktunya walaupun telah berlalu beberapa hari
Menurut Imam Malik tidak ada qadha setelah tergelincir matahari pada hari Id tersebut.
Pada malam dan siang hari raya sangat dianjurkan banyak bertasbih, berzikir, berdoa, istigfar dan salawat kepada Nabi SAW. Di samping itu banyak bersedekah bersilaturrahim dan saling memaafkan bermanis muka antara sesama. Nikmatilah hari raya ini dengan penuh keceriaan dan kesyukuran kepada Allah SWT.
UCAPAN SELAMAT HARI RAYA
Uncapan selamat hari raya (tahniah) adalah merupakan do’a atas kembalinya kita bergembira menyambut hari raya tersebut, seperti:
تقبل الله منا ومنك واعاده الله عليكم بخير
Artinya: “Semoga Allah menerima dari kami dan dari anda dan Allah mengembalikan kebaikan atas kamu”
Sunah menjawab tahniah ini dengan
تقبل الله منكم احياكم الله لأمثاله كل عام وأنتم بخير
Artinya: “Semoga Allah menerima dari kamu, Allah menghidupkan kamu sepertinya juga, setiap tahun senantiasa kamu dalam kebaikan.”
HUKUM TAHHIAH & BERSALAMAN
Hukum mengucapkan doa selamat hari raya adalah sunat. Imam Ibnu Hajar mengatakan hukumnya sunat disyariatkan. Syekh Syarkawi juga mengatakan tahniah bil Id adalah sunat waktunya pada hari raya fitri dari terbenam matahari malam hari raya dan pada Idul Adha sampai subuh hari Arafah (9 Zulhijjah)
Sunat bersalaman antara pria dengan pria dan wanita dengan wanita, dan haram bersalaman/ berjabat tangan anatara laki-laki dan wanita ajnabiyah (yang bukan muhrim). Hadis Riwayat Tarmudzi, Abu Daud dan Imam Ahmad dalam musnadnya:
ما ن مسلمين يلتقيان فيتصفحان إلا غفر لهما قبل ان يتفرقا
“Setiap doa orang muslim berjumpa dan bersalaman diampunkan Allah bagi keduanya sebelum berpisah”
إذا التقى المسلمين فسلم احدهما على صاحبه كان أحبهما إلى الله احسنها بشرا بصاحبه, فإذا تصافحا انزل الله عليهما مائة رحمة للبادئ تسعون وللمصافح عشرة
“Apabila berjumpa dua orang muslim, maka memberi salam salah satunya kepada yang lain, adalah yang paling disukai Allah di antara keduanya adalah yang paling menggembirakan terhadap sahabatnya, apabila bersalaman kedua Allah menurunkan kepada keduanya 100 rahmat, untuk yang memulai menyalami 90 rahmat, dan menerima/ menyambut 10 rahmat.”
Bersalaman itu mempunyai hikmah yang besar sebagai menunjukkan keikhlasan/kesucian hati dan menghilangkan rasa dongkol/ dendam. Hadis riwayat Ibnu Ady dari Ibnu Umar
تصافحوا يذهب الغل عن قلوبكم
“Bersalamanlah kamu, menghilangkan rasa dongkol dihati kamu”
Sunat mencium tangan orang shaleh, alim zuhud, dan berdiri memulikannya. Dalam hadis Abi Usamah bin Syurech disisi Abu Dawud dengan sanad yang kuat
قال “فقمنا إلى النبي صلعم يده
“Kami datang berdiri kepada Nabi SAW, maka kamu mencium tangan beliau”
Sunnat berdiri menghormati orang mulia/terhormat sebagai penghormatan mereka dan bukan ria. Dari Abu Hurairah:
كان رسول الله صلعم يجلس معنا فى المسجد يحدثنا فإذا قام قمنا قياما حتى نراه قد دخل بعض بيوت ازواجه
“Rasulullah SAW bersama kami duduk di masjid bercerita dengan kami, apabila kami berdiri, maka kami berdiri hingga kami melihat dia masuk kesalah satu rumah istrinya.”






