Monday, February 2, 2026
spot_img

Sekretaris Jenderal Kemenag RI: Agama sebagai Pilar Utama dalam Menghadapi Tantangan Zaman

muisumut.or.id-Jakarta, Konferensi Internasional “Membahas Agama, Perdamaian, dan Peradaban” yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Rabithah Alam Islami resmi ditutup oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof Nizar Ali. Acara tersebut berlangsung di Golden Ballroom Hotel Sultan, Jakarta, pada Selasa (23/5/23).

Dalam pidatonya, Prof Nizar mengungkapkan pentingnya berpegang teguh pada agama dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang sedang terjadi. Menurutnya, agama menjadi sumber kekuatan yang tak tergantikan dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Nilai-nilai agama akan selalu menjadi sumber kekuatan yang tak tergantikan dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Bahkan, nilai-nilai agama juga dapat menjadi sumber penyelesaian konflik,” ujar Prof Nizar, yang mewakili Menteri Agama, Yaqut Cholil Qaumas.

Prof Nizar menyatakan bahwa keberadaan agama di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan yang sudah ada sejak sebelum Indonesia menjadi negara. Indonesia memiliki beragam sistem kepercayaan dan agama yang tumbuh subur. Saat ini, setidaknya ada enam agama yang dianut oleh mayoritas warga negara Indonesia.

“Meskipun ada beragam agama, ajaran kasih sayang menjadi landasan hidup bermasyarakat yang sama di antara mereka. Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kebencian dan permusuhan. Kebaikan, yang menjadi prinsip utama setiap agama, tidak dapat dicapai melalui kebencian dan permusuhan,” ungkapnya.

Prof Nizar meyakini bahwa dalam setiap agama diajarkan nilai-nilai kasih sayang antar sesama manusia, tanpa memandang agama, suku, warna kulit, atau perbedaan lainnya. Kasih sayang yang ditujukan kepada sesama manusia dan alam semesta akan mampu menciptakan perdamaian.

Namun, Prof Nizar mengakui bahwa terkadang agama, yang oleh mayoritas penganutnya dianggap sebagai identitas kelompok sosial, dapat menjadi penyebab konflik. Namun, jika agama dipandang sebagai sumber kebaikan yang membangun peradaban, konflik tersebut dapat dihindari.

Dia berpendapat bahwa setiap pemeluk agama yang benar-benar memahami ajaran agamanya akan senantiasa mencintai dan menciptakan perdamaian. Prof Nizar berharap bahwa hasil Konferensi Internasional ini, yang menghasilkan “Deklarasi Jakarta,” dapat direalisasikan dengan baik.

Dia juga berharap agar implementasi moderasi beragama, yang dianggap sebagai solusi untuk membangun harmoni, mengatasi radikalisme, dan mendorong pembangunan, dapat dilakukan dengan nyata.

“Marilah kita bersatu dan memperkuat persatuan, karena hal itu akan memperkokoh langkah kita dalam menghadapi berbagai permasalahan,” kata Prof Nizar. (Yogo Tobing)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles