Oleh :Dr.H.Muhammad Nasir Lc, MA
muisumut.or.id. Dalam kitab Insanul Kamil karya Syekh Abdul Karim Al jily (676-832 H ) halaman 38 cetakan Darul kutub maktabah Islamiyah Jalan Kalibata Timur,Aljily menafsirkan Qul Huwallahu ahad katakan oleh mu yaMuhammad dia (insan)Allah itu Maha Esa.maksud Aljily adalah katakan oleh mu ya Muhammad,dan katakanlah olehmu wahai Insan (selain Muhammad)! Allah Itu Maha Esa
Selanjutnya Aljily menerangkan bahwa kata ganti( dhamir ) dia (huwa) yang ditafsirkan sebagai manusia,bukan mengatakan manusia itu hakikatnya adalah Allah atau manusia itu hakikatnya sebagai Tuhan dan tidak pula bermaksud mengatakan Muhammad itu adalah Allah.Tidak ada sama sekali syech Ajjily bertujuan mengatakakan demikian,baik kajian secara hakikat atau syari’at.
Selanjutnya,Aljilly menjelaskan bahwa bahwa dhamir huwa (kata ganti dia) yang ditafsirkannya sebagai insan,dikembalikan kebelakang yaitu kepada anta yaitu kata ganti yang terdapat dalam fi’il amar (kalimat perintah) yaitu qul (katakanlah olehmu ya Muhammad)
Dengan demikian,pengembalian dhamir huwa kebelakang,sekali lagi- yaitu kata ganti huwa kepada anta,maka jadilah posisi huwa dan anta disini sama,yaitu sama sama diperintahkan (mukhotob) untuk mengatakan Allah itu Maha Esa.Inilah yang disebut iltitfat ((peralihan makna)dalam ilmu Balaghah.Jadilah Makna yang benar dalam menafsirkan qul huwallahu Ahad ;katakanlah oleh mu ya Muhammad /katakanlah oleh mu ya Insan selain Muhammad, Allah itu Esa.
Dalam hal ini Al jily berbeda dengan pemahaman mayoritas ulama tafsir yang mengembalikan huwa kedepan.Dengan terjemahan populer kita dengar dan kita baca dalam tafsir yang mu’tabaraoh yaitu;katakanlah olehmu ya Muhammada huwa/ dia Allah adalah yang Maha Esa.dan para ahli tafsir menamakan huwa adalah dhomir sya’an (kata ganti yang dikembalikan kedepan).
Dari uraian diatas dapat difahami bahwa Aljily dan mayoritas ulama tafsir,meskipun berbeda dalam mengembalikan dhomir huwa-mayoritas ulama tafsir mengembalikan dhomir huwa kedepan dan Syehk Aljiliy mengembalikan dhamir huwa kebelakang-namun mereka sepakat menafsirkan maqulul qaul(objek perintah yang diucapkan) adalah Allah Itu adalah Esa.Dengan kata lain mayoritas ulama tafsir menfasirkan qul huwallahu ahad adalah katakanlah olehmu ya Muhammad Allah itu Maha Esa sedangkan versi Ajily katakanlah oleh mu ya Muhammad,dan wahai insan selain Muhammad,Allah Itu Esa.(silakan rujuk ke hal 38 pragraf keempat kitab Insanul kamil).
Lalu apa faedahnya Al jily menafsirkan huwa dalam surah Al ikhlas dengan Al insan? Aljily bukan saja sebagai seorang sufi ternama di Baghdad,Dia juga adalah seorang ahli dalam asrarul huruf,kitab unggulannnya adalah kitab insanul kamil fima’rifatil awakhir wal awail kitab ini mengembangkan konsep tasawwuf Ibnu arabi Abad ke 7 H.
Aljily sebagai pakar dalam rahasia huruf khususnya pada kalimat Allah dengan lafadz Arab terdiri dari lima huruf.Huruf pertama,adalah huruf alif yang diartikan sebagai ahadiyah dengan arti Esa, Allah itu Tunngal.Beliau mengemukakan dalil kullusyain halikun illa wajhah artinya segala sesuatu akan binasa terkecuali Zat Allah.
Kedua,Huruf lam yang pertama singkatan dari Aljalal ,keperkasaan Allah, Ketiga ,huruf lam yang kedua adalah singkatan dari Aljamal keindahan Allah,Keempat huru mad (tanda panjang)yang tidak tertulis tapi dibaca terdengar suaranya,menunjukkan alfu kamal ribuan kesempurnaan.Huruf yang kelima adalah ha yang berbentuk bulat singkatan dari huwa yang berarti insan.Dan Syekh Aljiliy mendalilkan huwa adalah insan yaitu surah Al ikhlas qul huwallahu Ahad katakanlah olehmu ya Muhammad dan katakanlah olehmu wahai insan Allah itu ahad.
Dari kajian ini dapat difahami bahwa Sekh Al jily tidak ada menyebut hakikat Muhammad adalah Allah, jika ada orang yang memahami dari penafsiran surah Al ikhlas versi Aljiliy bahwa hakikat Muhammad adalah Allah jelas gagal Faham,tidak membaca pragraf keempat secara tuntas,tidak mengerti ilmu balaghah khususnya kajian tentang iltifat atau boleh jadi sengaja memaksakan kehendak untuk mendapat legitimasi dari penafsiran surah Al Ikhlas versi Aljily.
Lalu,apa benar hakikat Muhammad adalah Allah? Dalam tafsir surah Al ikhlash versi Aljily ini sama sekali tidak menerangkan,hakikat Muhammad adalah Allah bahkan ditelusuri bab perbab dalam kitab insanul kamil tidak ditemukan hakikat Muhamad adalah Allah.
Kitab ini mengembangkan konsep tajally Allah pada alam semesta,yaitu alam merupakan refleksi dari Tuhan,pada alam terdapat sifat sifat Tuhan,oleh karenanya Tuhan menciptakan alam ini untuk menampakkan dirinya melalui alam,sufi yang sejati adalah sudah menyatu dirinya dengan Tuhan dan konsep tasawwuf ini dikenal dengan wahdatul wujud.
Namun demikian Aljily membantah dirinya sebagai penganut ittihad dan hulul pernyataan ini dapat dibaca dalam kitab insanul kamil hal 43.dengan tegas dia mengatakan mustahil hamba jadi Tuhan dan Tuhan jadi hamba,dan apalagi perkataan yang mengatakan Hakikat Muhammad adalah Allah tidak temui dalam kitab isnsanul kamil tersebut,ini jelas perkataan yang tidak berdasar dan difatwakan oleh MUI Jakarta no 72 th 2023,sebagai perkataan sesat dan menyesatkan.Wallahua’lamu bishsawab






