Thursday, January 29, 2026
spot_img

Hukum Mendahulukan Shalat Jenazah atas shalat Sunat Rawatib

Konsultasi Syariah Oleh: Prof. Dr. Nawir Yuslem, M.A
(Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara) 

Pertanyaan:

Beberapa Masjid di Kota Medan, di antaranya yang terdapat di Kelurahan Kota Matsum 1, 2, 3, dan 4, Kecamatan Medan Area dan Medan Kota, atau mungkin juga di Kecamatan lain di Kota Medan, melaksanakan shalat jenazah setelah para jamaah shalat Zuhur atau Shalat Jumat selesai berdzikir, berdoa dan shalat sunat rawatib bakdiyah. Melihat kenyataan tersebut sebahagian ahli musibah menginginkan agar jenazah kerabatnya yang sudah berada di masjid sebelum pelaksanaan shalat zuhur atau shalat Jumat dapat segera dilaksanakan shalat jenazahnya setelah selesai pelaksanaan shalat zuhur atau shalat Jumat tanpa didahului oleh zikir, doa dan shalat sunat rawatib bakdiyah zuhur atau Jumat. Pertanyaanya: Bagaimana hukum mendahulukan shalat jenazah atas shalat sunat rawatib Zuhur dan Jumat?

Jawaban:

Beberapa Hadis dan Pendapat Para Ulama berikut ini dapat menjawab pertanyaan di atas yaitu:

  1. Hadis Abi Hurairah r.a. :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: «أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ؛ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ، وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ» متفق عليه

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Segerakanlah pemakaman jenazah; Jika jenazah tersebut adalah seorang yang shaleh dan baik, maka adalah sebaiknya untuk segera mengantarkannya ke tempatnya yang baik, tetapi jika jenazah itu tidak baik (buruk/jahat), maka segerakan pula lah keburukan tersebut terlepas atau menjauh dari mu.”  (Muttafaqa ‘alaih).Hadis di atas menganjurkan untuk mempercepat penyelenggaraan jenazah dan pemakamannya.2. Hadis Ibn Umat r.a.:

وعن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: «إذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلَا تَحْبِسُوهُ، وَأَسْرِعُوا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ» أخرجه الطبراني في “الكبير”، والبيهقي في “شعب الإيمان”، وإسناده حسن؛ كما قال الحافظ ابن حجر في “فتح الباري”.

Dari Abdillah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari  Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian meninggal dunia, janganlah kamu memenjarakannya, dan bersegeralah mengantarkannya ke kuburnya.” Al-Tabarani meriwayatkannya di dalam “Al-Kabir” dan Al-Bayhaqi dalam “Shu’ab Al-Iman,” dan sanadnya dihukumkan “hasan”. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari.

قال الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (3/ 184، ط. دار المعرفة): [قال القرطبي: “مقصود الحديث: أن لا يُتَبَاطَأَ بالميتِ عن الدفن”] اهـ

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata dalam “Fath al-Bari” (3/184, ed. Dar al-Ma’rifa): [Al-Qurtubi berkata: “Maksud hadits adalah agar orang yang meninggal tidak boleh ditunda untuk dikuburkan. “].

  1. Hadis Abi Hurairah r.a.:

.وعن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وآله وسلم في جنازة فقال: «لَتُسْرِعُنَّ بِهَا، أَوْ لَأَرْجِعَنَّ» رواه الطبراني في “مسند الشاميين”.

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Kami bersama Nabi saw melayat jenazah, maka beliau berkata: “Handaklah kalian segerakan penyelenggaraan jenazah itu, atau aku akan pulang.” Diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam “Musnad Al-Shamiyyin.”4. Ibnu Qudamah al-Hanbali:

قال العلَّامة ابن قُدامة الحنبلي في “المُغني” (2/ 337، ط. مكتبة القاهرة): [قال أحمد: كَرامَةُ الميتِ: تَعجِيلُهُ] اهـ، وقال في (2/ 352): [لا خلاف بين الأئمة رحمهم الله في استحباب الإسراع بالجنازة، وبه وردَ النَّص] اهـ.

Ibnu Qudamah al-Hanbali mengatakan dalam “Al-Mughni” (2/337, ed. Perpustakaan Kairo): [Ahmad berkata: Kemuliyaan orang mati adalah menyegerakan /mempercepat penyelenggaraan jenazahnyanya], dan dia lanjut berkata dalam (2/352): [Tidak ada perbedaan pendapat di antara para imam, rahimahumullah, mengenai disunatkannya untuk mempercepat penyelenggaraan dan pemakaman jenazah.4. Fikih Zhahiri

بل إنَّ الفقه الظاهري يرى أنَّ الأمر الوارد في الإسراع بالجنازة يقتضي الوجوب:

Bahkan fikih Zahiri berpendapat bahwa perintah yang disebutkan mengenai menyegerakan pemakaman jenazah itu menghendaki hukumnya wajib.

قال الإمام ابن حزم الظاهري في “المحلى بالآثار” (3/ 382، ط. دار الفكر): [ويجب الإسراع بالجنازة، ونستحب أن لا يزول عنها من صلى عليها حتى تدفن، فإن انصرف قبل الدفن: فلا حرج، ولا معنى لانتظار إذن ولي الجنازة

Imam Ibnu Hazm Al-Zahiri berkata dalam “Al-Muhalla bi-Athar” (3/382, ed. Dar Al-Fikr): [Penyelenggaraan wajib dipercepat, dan kami menganjurkan agar orang yang menshalatkannya tidak meninggalkannya sampai dikuburkan, jika dia keluar sebelum dikuburkan: tidak ada dosa dan tidak ada gunanya menunggu izin wali.

.أما وجوب الإسراع: فلِمَا رَوَينَاهُ من طريق مسلم.. عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: «أسرعوا بالجنازة، فإن كانت صالحة: قربتموها إلى الخير، وإن كانت غير ذلك: كان شرًا تضعونه عن رقابكم».

Adapun kewajiban bersegera itu juga berdasarkan dalil yang diriwayatkan melalui jalur Imam Muslim… dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Segeralah penyelenggarannya, dan jika itu baik, maka kamu akan mendekatkannya pada kebaikan, dan jika sebaliknya, maka itu adalah keburukan yang kamu segera membebaskannya dari Lehermu, pundakmu.5. Fatwa Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam, Mufti Mesir, yang diterbitkan pada 17 Agustus 2017, dengan Nomor Fatwa 4211dalam rangka menjawab pertanyaan sebagai berikut:

السؤال

مَا حكم تقديم صلاة الجنازة على السنة الراتبة؟

Apa hukumnya mendahulukan salat jenazah terhadap salat sunah rawatib?

الجواب

يُستحبُّ تقديم صلاة الجنازة على السُنَّة الراتبة؛ عملًا بمقتضى الشرع الذي حثَّ على ضرورة الإسراع بتجهيز الميت والصلاة عليه وحمله ودفنه؛ حفظًا لكرامة الميت وصونًا له؛ فإنَّ وقت السُنَّة الراتبة مُتَّسِعٌ، وصلاة الجنازة مُتعلقةٌ بحقوق العباد، وصلاة الراتبة متعلقةٌ بحقِّ الله، وحقوق العباد مبنيةٌ على المشاحة، وحقوق الله مبنيةٌ على المسامحة.

Disunatkan/dianjurkan mendahulukan shalat jenazah atas shalat sunnah rawatib berdasarkan tuntutan hukum syara’ yang menghimbau perlunya menyegerakan penyelenggaraan jenazah, menshalatkannya, mengantarkannya ke kuburan; dalam rangka menjaga kemuliyaan dan keselamatan jenazah. Selanjutnya, Waktu shalat sunnah rawatib memiliki waktu yang lapang (muttasi’un), sedangkan shalat jenazah berkaitan dengan hak-hak hamba, dan shalat sunat rawatib berkaitan dengan hak-hak Allah, dan hak-hak hamba berdasarkan pada saling pengertian, dan hak-hak Allah. didasarkan pada pengampunan.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles