Monday, February 2, 2026
spot_img

RAMADHAN, MENGAPA HARUS IMAN !  By Hasan Bakti Nasution

Catatan Harian____Sabtu 16 Maret 2024

muisumur.or.id      Ibarat ATM (anjungan tunai mandiri), iman merupakan nomor PIN, yang menentukan terbuka tidaknya sebuah ATM. Begitulah iman, ia menjadi kata kunci dinilai tidaknya prilaku kebaikan seseorang. Berapapun jumlah uang didalam ATM tanpa PIN, tidak ada gunanya, karena tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu, apapun dan berapapun prilaku kebaikan yang dilakukan, jika tidak didasarkan pada iman tidak akan dinilai sama sekali.

Hal ini dijlelaskan al-Qur’an pada surat al-Kahfi, yang artinya: “Katakanlah Muhammad, apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan pertimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku sebagai bahan olok-olok”.

Sebab itu narasi kaum liberal “yang penting adalah perbuatan yang dilakukan baik ia akan masuk surga”, artinya iman tidak perlu, menjadi tidak relevan, karena perbuatan sebaik apapun tidak dinilai tanpa iman, sesuai ayat di atas.

Selain penentu dinilai tidaknnya suatu prilaku kebaikan, iman juga berperan sebagai pendorong melakukan sesuatu, yang dalam hal ini berpuasa. Berpuasa hanya bisa dilakukan jika ada dorongan dalam bentuk motivasi berpuasa. Jika puasa diidentikkan dengan diet, orang berdiet biasanya memiiliki motivasi tertentu, seperti ingin sehat, ingin kurus, dan sebagainya.

Adapun orang berpuasa, motivasi awal dan akhirnya ialah “mematuhi perintah Allah”, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah/3: 183 yang sangat populer selama Ramadhan ini. Tiada perbuatan yang paling mulia dan kata yang paling indah selain mematuhi perintah Tuhan, sesuai komitmen “sami’na wa atha’na”.

Di sinilah diuji kekuatan iman seseorang. Ada dua pasangan badminton piala Korea Open yang bermain selama pada Ramadhan ini, salah satunya berbuka puasa yang satunya tidak. Hasilnya sama, yaitu sama-sama menang. Bedanya yang satu yakin, puasa tidak akan menyebabkan kekalahan permainan. Tuhan Maha Kuasa akan memberikan kekuatan kepada hamba yang pasrah kepada-Nya. Namun yang tidak berpuasa juga tetap beriman, karena memang terdapat rukhsakh dalam Islam, sebagai kemudahan beribadah dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti pekerja keras. Membawa nama negara tentu termasuk kerja keras, dan ini cukup memberinya alasan untuk tidak beruasa atau membatalkan puasanya.

Kembali ke judul di atas, iman adalah landasan, landasan keberadaan dan dan diakui ada tidaknya atau bernilai tidaknya suatu perbuatan, dan iman juga menjadi faktor yang kuat untuk mendorong seorang hamba melakukan puasa yang maha beerat bagi seorang, tetapi tidak bahkan menyenangkan bagi orang lain.

Semoga kita meraih taqwa sebagai sasaran akhir (goal) dari pelaksanaan ibadah puasa seperti direkamn dalam ayat puasa, yaitu surat al-Baqarah/2: 183.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles