Monday, February 2, 2026
spot_img

MENGAPA TAKWA SEBAGAI TUJUAN PUASA ! By Hasan Bakti Nasution

Catatan Harianku;S enin, 18 Maret 2024

muisumut.or.id, Salah satu pertanyaan ketika membaca ayat tentang puasa Ramadhan ialah tentang tujuan berpuasa, yaitu mengapa “taqwa” yang dijadikan sebagai tujuan berpuasa. Mengapa misalnya “agar beruntung”, “agar bahagia”, dan sebagainya. Yang namanya filsafat ya begitulah terus ditanya dan ditanya sampai tidak mungkin lagi ada pertanyaan.

Kembali ke judul di atas, jawaban sederhananya ialah karena peraih gelar taqwa akan beroleh kemudahan urusan di dunia dan akhirat. Di dunia akan memperoleh jalan keluar dari setiap persoalan hidup, sebagaimana ditegaskan ayat al-Qur’an surat ath-Thalaq/65: 2, yang artinya: “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluarg baginya”.

Kemudian di akhirat, orang bertaqwa akan masuk surga, juga sebagaimana ditegaskan ayat al-Qur’an surat al-Hajar/: 45, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga-surga dan dekat mata air yang mengalir”.

Jika kemudahan hidup diraih di dunia, lalu apa lagi yang yang terbaik selain itu. Begitu juga, jika masuk surgalah yang menjadi cita-cita ideal, ternyata sudah dapat diraih oleh orang bertaqwa. Sebab itulah, taqwa dijadikan sebagai “raihan” dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Lalu siapakah orang bertaqwa itu ?

Secara syari’at, mereka ialah yang memiliki kesiapan melaksanakan peritah Allah dan menjauhi larangan Allah (imtitsalu awamiril-Lahi wajtinabu nawahi-Hi). Kemudian mereka yang tetap memberi infaq baik dalam keadaan sulit atau senang (allazina yunfiquna fis-sarrai wadh-dharrai), mampu menahan amarrah (wal kaziminal ghayza), dan memberi kemaaafan kepada sesama (wal a’fina ‘anin-nas), sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat Ali Imran/3: 134.

Secara hakikat (tasawuf), kata Imam Qushayri dalam bukuya “Risalah al-Qushayriyyah”, mereka ditandai dengan huruf taqwa. Ta berarti “tawadhuk”, rendah hati, bukan arogan (takabbur). Qaf berarti “qana’ah”, memadakan apa yang ada. Wa berarti “wara‘”, hanya memakan dan meminum yang sudah jelas kehalalannya, dan Ya berarti “yaqin”, yang memiliki komitmen tinggi dalam beriman (hablumminallah) dan juga dalam bermu’amalah sesama manusia, yang dalam bahasa managmen disebut profesional.

Semoga taqwa menjadi kualitas individu kita pada Ramadhan tahun ini. Amin.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles