muisumut.or.id-Medan, 25 Maret 2024 – Sebagai narasumber kedua pada Muzakarah Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara pada 24 Maret 2024, Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp.BS (K), Kepala Program Studi Divisi Neuroonkologi Ilmu Bedah Saraf RSUP H. Adam Malik, memberikan pemahaman mendalam mengenai hubungan antara puasa dan kesehatan saraf manusia. Dalam paparannya, Prof. Ridha mengungkap beragam manfaat kesehatan yang diperoleh dari kegiatan puasa yang rutin dilakukan.
Puasa, yang secara sederhana didefinisikan sebagai kegiatan di mana seseorang secara sengaja menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam durasi tertentu, ternyata membawa sejumlah manfaat signifikan bagi kesehatan tubuh, khususnya dalam menjaga kesehatan otak dan saraf kita. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa puasa memiliki dampak positif terhadap fungsi kognitif dan kesehatan saraf manusia.
Beberapa manfaat puasa bagi kesehatan secara umum yang disampaikan oleh Prof. Ridha antara lain:
- Meningkatkan kolesterol baik dan menurunkan kolesterol jahat.
- Menurunkan kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes mellitus.
- Menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi stres kejiwaan.
- Menurunkan berat badan dengan efektif.
Namun, fokus utama dari paparan Prof. Ridha adalah mengenai manfaat puasa yang spesifik bagi kesehatan saraf manusia. Berikut adalah beberapa poin yang dijelaskan oleh beliau:
- Memperbaiki Sel Otak: Puasa telah terbukti mampu memperbaiki sel otak dan meningkatkan fungsi kognitif.
- Lebih Tahan terhadap Stres: Puasa dapat membuat sel saraf di otak lebih tahan terhadap stres, sehingga mengurangi risiko kerusakan otak.
- Mengurangi Kerusakan Otak: Puasa sebelum stroke iskemik dapat mengurangi kerusakan otak dan meningkatkan pemulihan pascastroke, serta mengurangi risiko komplikasi stroke.
- Mencegah Penyakit Otak Degeneratif: Puasa dapat memperlambat penuaan, mencegah sindrom metabolik, dan membantu mencegah serta mengobati penyakit otak degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Prof. Ridha juga menyampaikan bahwa puasa merangsang produksi protein dalam sel saraf yang disebut Brain-derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein ini memainkan peran penting dalam proses belajar dan memori, serta dalam pembentukan sel saraf baru di hippocampus, bagian otak yang bertanggung jawab atas pembelajaran dan memori.
Studi yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa puasa tidak hanya dapat meningkatkan daya ingat atau memori, tetapi juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stres dan mengurangi risiko penyakit otak degeneratif.
Dengan demikian, paparan Prof. Ridha memberikan wawasan yang mendalam mengenai hubungan antara puasa dan kesehatan saraf manusia, serta menggarisbawahi pentingnya menjaga pola puasa yang sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan dan perawatan kesehatan yang holistik. (Yogo Tobing)






