Aldiansyah Sitorus Pane, mahasiswa PTKU Angkatan 7 tahun 2021 “belajar ajolah kau elok-elok, sukses kau nanti jadi ulama, bisa kau buatkan ayah toko bangunan”.
Aldiansyah Sitorus Pane, atau yang biasa akrab dipanggil Aldi, merupakan anak dari pasangan Alamsyah Pane, dan Lindawati. Aldi lahir pada tanggal 22 juni 2003 di kota Tanjung Balai. Sejak kanak-kanak, Aldi kecil ternyata sudah memikul beban yang sangat berat. Terbukti, ketika Aldi kecil masih berumur 1 minggu, Aldi sudah dibawa orang tuanya pindah ke Desa Simandulang, yang merupakan desa pelosok di pinggiran pesisir Kabupaten Labuhan Batu Utara, dan disinilah penderitaan itu di mulai.
Secara geografis, Desa Simandulang terletak di atas laut, yang artinya mayoritas penduduk di desa ini adalah seorang nelayan. Hanya bermodalkan jaring dan sampan, masyarakat di Desa Simandulang terkadang tidak dapat memenuhi kebutuhan di dalam rumah tangga, dan pada akhirnya masyarakat di Desa Simandulang rata-rata berstatus menengah kebawah, dan hanya memiliki pekerjaan sebatas dicari pagi dimakan siang, begitulah seterusnya.
Alamsyah Pane, yang merupakan ayah dari Aldi ternyata tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang nelayan. Alasan yang mendasar adalah karena “mabuk lautan”, dan pada akhirnya ayah Aldi mencoba mencari rezeki dari jalan yang lain.
Pada awalnya, ayah Aldi sangat kesulitan dalam mencari pekerjaan, alasannya adalah dikarenakan kondisi dan situasi kampung yang masih jauh dari kata “modern”, sehingga peluang pekerjaanpun sangat sulit untuk didapatkan.
Hari beganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, dengan sejalannya pertumbuhan sang anak, ayah Aldi semakin keras memikirkan cara menghidupi keluarga, yang mana pada saat itu, yang harus dinafkahi bukan hanya istri, tapi sudah hadir seorang buah hati.
Pada suatu hari, ayah Aldi mencoba peruntungannya dengan menjadi seorang buruh disebuah gudang milik orang China, dan pekerjaan itu digeluti sang ayah hingga mencapai kurang lebih 7 tahun. Karena ayahnya hanya seorang buruh, Aldi kecil sudah dituntut untuk tidak bermanja, tumbuh dalam keadaan sederhana dan jauh dari kata “mewah”.
Terbukti, sejak duduk di bangku SD, Aldi setiap harinya sekolah dalam keadaan tidak membawa sepeser uangpun untuk dijajankan, karena pada saat itu, jarak sekolah dan rumah Aldi hanya beberapa langkah yang membuat Lindawati, ibu Aldi berinisatif untuk jualan makanan dan minuman.
Masalahpun terjadi, ketika Kepala Sekolah SD pada saat itu tidak mengizinkan anak-anak muridnya untuk keluar dari pagar sekolah, dan mengharuskan murid membeli di kantin sekolah. Hal inipun menjadikan jualan ibu Aldi terkadang tidak habis dan terbuang. Bukan hanya itu, Aldi yang tidak memiliki jajan dari rumah, terkadang hanya bisa menelan air ludah ketika teman-teman yang lain jajan di kantin yang membuat Aldi pada saat itu hanya berdiam di dalam kelas sambil belajar. Ternyata, tidak jajan, dan memilih untuk belajar di kelas sendirian, menjadikan Aldi sebagai murid yang paling disayangi di kelasnya. Terbukti, semenjak dari kelas 1 hingga VI, Aldi selalu menyabet predikat rangking pertama.
Begitulah seterusnya, hingga Aldi beranjak dewasa sekalipun, Aldi tidak pernah mengenal arti “kemewahan”. Kisah berlanjut, ketika Aldi sudah duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, pada saat itu ayah Aldi sudah tidak bekerja sebagai buruh lagi, karena faktor pengurangan anggota dari gudang.
Tanpa pikir panjang, ayah Aldi tidak mau berdiam diri, dan harus “gercep” memikirkan apa yang bisa dilakukan lagi agar keluarga tidak kelaparan. Pada akhirnya, dengan bermodalkan semangat pantang menyerah, ayah Aldi memutuskan untuk bekerja sebagai kuli bangunan yang mana pekerjaan ini bekerja dari pagi hingga sore.
Bekerja dari pagi ke sore hari, ternyata tak menjamin mendapatkan gaji yang banyak. Hal ini dibuktikan karena pada saat itu ayah Aldi hanya digaji sekitar 70-80 ribu dalam sehari.
Pekerjaan sebagai kuli bangunan ini juga ternyata tak selamanya bisa dilakukan ayah Aldi. Ada kalanya ayah Aldi menganggur selama bertahun-tahun, karena memang pekerjaan menjadi seorang kuli bangunan hanya bisa dilakukan ketika ada orang yang mau minta bangunkan atau rehabilitasi rumah, dan itu tak selamanya bisa didapatkan.
Bahasa sederhanya, ketika tidak ada yang minta bangunkan rumah, maka ayah Aldi akan menganggur dan tidak memiliki pekerjaan apa-apa. Sehingga, ketika ayah Aldi memiliki pekerjaan, ayah dan ibu Aldi rela hanya makan sebatas ikan asin dan sayur bayam. Uang yang dihasilkan dari pekerjaan itu akan di investasikan untuk biaya makan kedepannya ketika ayah Aldi tidak bekerja. Begitulah seterusnya, sehingga ayah Aldi mampu membesarkan Aldi dan adiknya hanya bermodalkan banting tulang.
Melihat ayahnya hanya seorang kuli bangunan, hati Aldi terkadang merasa sakit, dan tidak tega menyaksikan di depan mata kepalanya sendiri ketika ayahnya mengangkat batu, mengaduk semen, dan lain-lain.
Suatu ketika, Aldi pernah berkata kepada ayahnya, kalau dirinya ingin membantu sang ayah bekerja menjadi kuli bangunan ketika libur semester, tapi ayahnya selalu menolak, dan mengatakan “belajar ajolah kau elok-elok, sukses kau nanti jadi ulama, bisa kau buatkan ayah toko bangunan”. Perkataan itulah yang membangkitkan semangat Aldi, sehingga bertekad di dalam hati kalau Aldi tidak boleh mati sebelum menyaksikan ayah memiliki toko bangunan dari hasil kerja kerasnya.
Mindset itu telah Aldi sematkan di dalam hati dan pikirannya, sehingga berkat motivasi dan semangat dari sang ayah, Aldi bisa sampai melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan di Pendidikan Tinggi Kader Ulama
Bagi Aldi,yang dicari sekarang bukan hanya sekedar kekayaan dan kemewahan, tapi bagaimana bisa memberikan senyuman dibibir kedua orang tua. Itulah terkadang, ketika sang ayah menelpon dari kampung, ayah Aldi selalu mengatakan dengan perasaan sedih
“Maaflah ya nak, bolum ado karojo ayah, bolum bisa ayah mengirim uang untukmu”
Aldi terkadang menghibur hati ayah, dan mengatakan
“Jangan pala ayah khawatir sama rezeki, serahkan saja semuanya kepada Allah, lagian melihat ayah dan omak dalam keadaan sehat sajapun itu sudah suatu rezeki yang tak bisa dibayar”.
Tanpa disadari, kalimat yang dilontarkan Aldi, ternyata hanyalah sebuah kalimat penenang, padahal pada saat itu Aldi terkadang tidak memiliki uang sepeserpun. Dan nyatanya, ketika mendengar ucapan anaknya, ayah Aldi sedikit merasa lega dan tersenyum, lalu berkata dengan nada bercanda “udah pande kau sekarang yo”
Begitulah faktanya, hingga pada akhirnya, dengan kondisi ekonomi yang sangat terpuruk, dan rela makan apa adanya, ayah Aldi mampu memberikan pendidikan kepada Aldi, hingga sekarang duduk di semester VI Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Provinsi Sumatera Utara. Impian terbesar seorang anak kuli bangunan seperti Aldi adalah membangunkan toko bangunan untuk ayahnya, dan menaikkan haji kedua orang tuanya. Aldi bertekad bahwa haram hukumnya keringat sang ayah jatuh, jika hanya dibalas dengan kegagalan.
Aldi berharap, agar kiranya ungkapan “Orang Miskin Dilarang Sukses” hanyalah sebatas omong kosong belaka. Aldi lebih setuju dengan ungkapan “Orang Miskin Dilarang Sakit”, karena pada hakikatnya orang miskin harus lebih banyak berjuang dan bekerja keras untuk mendapatkan impianya.

PENULIS (Aldiansyah Sitorus Pane)






