Hanan Asrowi Harahap, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Labuhan Batu Selatan
Hanan Asrowi Harahap lahir di desa Sampean, Kecamatan Sungai Kanan, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, pada 13 Juli 2000. Saya adalah anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Syawaluddin Harahap dan Sarmin Rambe. Di desa, saya akrab disapa Roi, sementara di lingkungan pendidikan pesantren dan perkuliahan, lebih dikenal dengan nama Hanan.
Saya tumbuh dalam keluarga sederhana, di mana ayah bekerja sebagai guru honorer di sebuah pesantren, dan ibu adalah ibu rumah tangga. Sejak kecil, saya dan saudara-saudara saya dididik dengan ajaran agama yang kuat.
Pada tahun 2007, saya memulai pendidikan dasar di SDN Impres 114405 Sampean. Di siang harinya, saya mengikuti sekolah Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) yang biasa di sebut sekolah Arab. Setelah lulus, saya memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren karena sejak kecil sudah terbiasa dengan pelajaran agama sewaktu sekolah di MDA. Ayah kemudian mengantarkan saya ke Pondok Pesantren Uswatun Hasanah. Namun, saya hanya bertahan di sana selama tujuh bulan karena sakit yang di alami. Pada ajaran baru berikutnya, ayah dan ibu sepakat mengantarkan saya ke Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru pada tahun 2013. Selama tujuh tahun di pesantren, saya menyelesaikan studi pada Februari 2021. Setelah tammat dari pesantren saya sempat mencoba beasiswa ke Universitas Al-Azhar di Timur Tengah dan tidak berhasil, saya tetap gigih dan mencoba beasiswa ke Damaskus, Suriah, namun hasilnya sama. Tidak menyerah, saya mendaftar dan diterima beasiswa di PTKU, salah satu dari 24 peserta yang lulus dari total 75 pendaftar.
Selama di pesantren, saya aktif berpartisipasi dalam berbagai perlombaan antar santri dari berbagai daerah. Di kelas 1 Tsanawiyah, saya mengikuti lomba cerdas cermat Nahwu (al-Jurumiyah) dan mencapai babak semifinal. Di kelas 2 Tsanawiyah, mengikuti lomba hafalan hadis Arba’in An-Nawawiyah dan hafalan Al-Qur’an satu juz, masing-masing meraih juara harapan tiga dan harapan satu. Di kelas 3 Tsanawiyah, meraih juara tiga dalam lomba hafalan juz ‘Amma. Di kelas 1 Aliyah, mengikuti lomba cerdas cermat Faraid (ilmu waris) dan mendapatkan juara harapan satu. Di kelas akhir pondok, saya memenangkan lomba karya ilmiah dengan juara satu. Dan Alhamdulillah di pengumuman ujian akhir pesantren, saya juara 2 umum dari 1113 santri dan santiwati.
Setelah tamat dari pesantren dan berada di Medan untuk kuliah di PTKU, saya ikut serta dalam lomba MQK (Musabaqoh Qiraatul Kutub) tingkat kota Medan yang diadakan oleh Partai PKS dan meraih juara harapan satu. Pada tahun berikutnya Saya memenangkan lomba yang sama di tingkat kabupaten Deli Serdang dan provinsi Sumatera Utara, masing-masing meraih juara tiga. Di kampus, saya memenangkan lomba MQK antar mahasiswa PTKU dengan juara satu.
Sejak kecil, saya termotivasi oleh ayah yang dikenal sebagai orang yang faham agama di kampung dan merupakan alumni PKU di Islamic Center. Pengaruh ayah yang memiliki banyak kitab berbahasa Arab dan faham agama mendorong saya untuk mendalami Nahwu dan Sharaf. Beliau berharap anak-anaknya menjadi ulama yang memahami kitab-kitab para ulama terdahulu, dan saya bertekad mewujudkan harapan tersebut.
Pesan ayah kepada saya pribadi:“Seriuslah dalam belajar, jangan sia-siakan kesempatan ini, kalau bisa kuliahlah sampai S3 dan menjadi profesor. Ayah dulu tidak bisa lanjut kuliah S1 karena keterbatasan ekonomi. Ayah dahulu sangat susah, penuh dengan cobaan sampai tidak bisa fokus dalam mengembangkan keilmuan dengan melanjutkan kuliah.”






