Yudi Maulana, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Batubara
Saya Yudi Maulana, anak pertama dari dua bersaudara. Yang pertama saya dan yang kedua adik saya Muhammad Hafidz. Alhamdulillah saya dan adik saya sudah menempuh pendidikan hingga SMA, dan saya sekarang dalam proses kuliah di Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI SU. Saya SD di sekolah kampung saya yakni SDN.018481 Lalang. Kemudian SMP N. 2 Pakam dan SMA di pondok pesantren Musthafawiyah, Purba Baru, Mandailing Natal. Dari kecil keinginan saya ingin sekolah di pesantren namun karena orang tua belum mengizinkan untuk masuk pesantren akhirnya saya SD, SMP sekolah umum, dan tercapai keinginan masuk pesantren ketika SMA.
Ayah saya bekerja sebagai wiraswasta dan omak saya bekerja sebagai jual ikan keliling dikampung saya. Keinginan saya ingin jadi da’i sebab dikeluarga saya masih minim dalam ilmu agama, sehingga muncullah keinginan saya menjadi da’i yang kelak bisa mengharumkan nama orang tua saya. Bermula keinginan saya masuk pesantren tamat SD, namun omak berkata “ Nak, kau masih kocik sekolahmu jauh nanti ajo yo selosai kau SMP, tutur omak saya,” akhirnya saya pun
menuruti permintaan omak saya. Singkat cerita SMP pun selesai dan keinginan saya tetap mau masuk pesantren. Namun keinginan omak saya berubah yang awalnya tamat SMP dia mengizinkan saya masuk pesantren, ternyata omak mendaftarkan saya di sekolah SMK Budhi Darma, Indrapura jurusan listrik dan omak sudah membelikan baju, sepatu sekolah untuk saya. Saya pun bilang kepada omak saya mak, ini bukan jurusanku aku tetap mau masuk pesantren percuma omak masukkan aku ke SMK kalau nanti akhirnya aku tidak jadi orang, tuturku.
Omak pun diam tidak bisa bicara dan menyetujui kenginanku walaupun dengan nada berat, sebab omak berfikir kalau saya pesantren tentu tidak berjumpa dalam beberapa bulan, dan ini berat bagi omak saya. Saya pun meyakini omak saya,mak omak jangan takut Allah nanti yang akan menjagaku di sana, tuturku. Ketika dekat masanya masuk pesantren saya diuji dengan penyakit asam lambung hingga makan pun nasinya harus dibelender, sebab kalau dikunyah bisa muntah. Melihat kondisiku omak pun merasa khawatir karena takut penyakit ini kambuh, sementara tidak ada yang menjaga saya di sana. Saya pun tetap meyakinkan omak saya, omak jangan takut Allah nanti yang menjagaku di sana.
Singkat cerita saya pun masuk pesantren kelas 1di Musthafawiyah.Di sini saya diuji dengan berbagai macam penyakit mulai dari gatal-gatal hingga decentry (penyakit yang mengeluarkan darah di dubur ketika buang air). Disamping itu juga saya harus bisa memahami tutur bahasa daerah tersebut yakni bahasa Mandailing sebab ayahanda yang mengajar di lokal dan para senior yang mengajar di muzakarah menggunakan bahasa Mandailing sehingga tugas saya pun bertambah sbukan hanya saya harus pandai kitab kuning, tetapi saya harus belajar juga memahami tutur bahasa mereka agar saya paham apa yang diajarkan oleh ayahanda di sana. Proses ini saya jalani dengan sabar karena saya yakin Allah bersama saya.
Di kelas2 Musthafawiyah, saya sudah bisa memahami tutur kata mereka,namun saya belum mampu untuk mengajak bicara dengan bahasa mereka. Karena saya ketua kelas, dan di samping baku saya kebetulan asli orang Mandailing,tepatnya di Panyabungan, Pasar Baru, saya pun meminta kepadanya untuk mentranslit bahasa Mandailing ke bahasa Indonesia. Teman saya bernama Zidan,
dan dia pun bingung dan bertanya, untuk apa abang rupanya, saya berkata, ya untuk paham bahasa kalian. Dia pun ketawa mendengar ucapan saya. Sehari saya kumpulkan 5-10 kosakata bahasa Mandailing, lalu saya bawa ke pondok sambil saya praktekkan.
Alhamdulillah setelah saya kumpulkan kosakata itu, saya pun bisa memahami sekaligus bisa menuturkan dengan bahasa mereka sampai sekarang.Singkat cerita, tiga tahun di pesantren Musthafawiyah saya pun menyelesaikan pendidikan Aliyah saya. Alhamdulillah dari kelas 1-3 saya tetap juara pertama di lokal. Selesai dari Musthafawiyah, saya melanjutkan pesantren Zainul Umam,Bandar Setia yang dipimpin oleh ustadz H. Supriadi. Selama satu tahun saya di sana untuk memperdalam ilmu agama yang dibimbing oleh ustadz Irhas S.Pd dan para asatiz lainnya.
Setelah setahun di Zainul Umam, ada informasi tentang PTKU, yang mempunya misi ingin mencetak kader ulama. Saya pun sangat berminat ingin masuk ke sana. Dari kabupaten saya ada dua orang yang ingin masuk ke PTKU,pertama saya dan kedua teman saya yang bernama Ihsanul Fatha al-Hafiz.Beliau hafiz 30 juz dan mahir juga baca kitab, namun saya tetap optimis saya bisa masuk ke PTKU atas izin Allah. Sewaktu pendaftaran ada sekitar 79 orang dari seluruh Kabupaten yang ada di Sumatera Utara yang ingin masuk ke PTKU,namun hanya 24 orang yang diterima.
Dan tibalah masanya pengumuman siapa-siapa saja yang masuk di PTKU.Dan saya sangat terkejut dari 24 nama itu ada nama saya di posisi nomor 1. Saya sangat tercengang sebab yang mendaftar itu rata-rata dari alumni pesantren, baik pesantren modern maunpun klasik. Saya sangat yakin dengan rencana Allah bahwa saya bisa masuk ke PTKU, dan alhamdulillah bukti itu ternyata.
Di PTKU dituntut belajar selama tiga tahun dengan silabus kitab turas (kitab kuning) dan hal inilah yang membuat saya tertarik ingin masuk ke PTKU yakni belajar dengan sistem kitab tuas. Visi dan misi dari PTKU itu sendiri yaitu:
1. Ahli Agama;
2. Pengamal Agama;
3.Pembela Agama.
Adapun prestasi selama di PTKU yaitu:
1. Juara 2 kitab kuning antara mahasiswa PTKU dalam rangka peringatan bulan muharram dan peluncuran kalender Hijriah MUI SU.
2. Juara 1 kitab kuning tingkat Kota Medan tahun 2022 yang diadakan oleh PKS.
3. Juara harapan II kitab kuning tingkat Provinsi tahun 2022 yang diadakan oleh PKS.
4. Juara 1 kitab kuning Kab. Deli Serdang yang diadakan oleh PKS tahun 2023.
Sampai sekarang saya masih belajar di PTKU dan akan menyelesaikan di bulan 7 2024 akan datang. Saya sangat beruntung bisa masuk di PTKU, sebab bukan hanya belajar kitab kuning namun biaya juga ditanggung oleh pemerintah (full beasiswa). Di PTKU juga mahasiswa melaksanakan dakwahnya di daerah minoritas selama bulan ramadhan. Tempat yang pernah saya kunjungi daerah Karo,Taput, Tanah Gara Hulu (Deli Serdang). Alhamdulillah juga di PTKU ini mahasiswa angkatan ke-7 diberangkatkan untuk Study Banding ke tiga negara yaitu,Malaysia, Singapura, dan Thailand yang mana angkatan sebelumnya belum ada dilaksanakan. Saya sangat bersyukur kepada Allah sebab keinginan saya naik pesawat akhirnya bisa tercapai, namun ada satu lagi keinginan saya yaitu ingin memberangkatkan orangtua saya Ke Baitullah.
Perjuangan saya ini belum seberapa dibandingkan dengan orangtua saya yang berjuang untuk menyengolahkan saya terutama omak yang rela bangun jam setengan empat pagi untuk mencari ikan agar bisa di jual dan menghasilkan uang,dan uang tersebut ia gunakan untuk pendidikan anak-anaknya. Saya hanya bisa berdo’a kepada Allah agar orangtua saya sehat selalu, hidup mereka berkah dan tentunya keinginan saya yang paling besar ingin membawakan mereka haji ke Baitullah,amiin ya rabbal’alamiin.






