Alpin Akbar Hasibuan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Tanjung Balai.
Namaku Alpin Akbar Hasibuan, lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 21 Maret 2003. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Syahruddin Hasibuan dan Netty Herawati Sitorus. Alpin adalah sapaan akrabku ketika duduk di bangku sekolah jenjang SMP hingga Perguruan Tinggi, di rumah atau di kampung sapaan “uday”, belakangan saya bertanya kepada Ayah, mengapa nama itu tersemat kepada saya?. Ternyata nama ini diambil dari nama putra sulung “Saddam Husain” salah satu tokoh yang berpengaruh di Irak. Ayahku seorang wiraswasta, sementara ibu berperan sebagai pengurus rumah tangga. Sejak kecil, ayahku selalu menekankan pentingnya ketaatan dalam beribadah, khususnya dalam menjalankan salat, tidak peduli di mana dan kapan, selalu tetap teguh menjalankannya.
Pada saat usia enam tahun, saya memulai perjalanan pendidikan di SDN 138430 di Kecamatan Teluk Nibung, Kelurahan Pematang Pasir, Kota Tanjung Balai. Selama masa sekolah dasar, saya juga menuntut ilmu agama di siang hari selama empat tahun. Di kampung halaman saya, pendidikan agama itu dikenal dengan sebutan “Sekolah Arab”. Di malam hari, saya juga belajar mengaji Al-Qur’an bersama mu’allim kampung. Pada saat itu, saya sudah mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di kelas tiga SD. Keinginan untuk masuk pesantren sudah muncul sejak saat itu, dan berkat usaha keras kedua orang tua saya, impian itu terwujud. Pada tahun 2015, saya diterima di Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan, yang terletak di Jalan Pelajar Timur Ujung no.264. Saya menghabiskan enam tahun menimba ilmu di pesantren tersebut. Di sana, saya tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga pembentukan karakter yang kuat untuk menghadapi kehidupan. Selama liburan di pesantren, saya mengikuti program karantina tahfiz dua kali, dan hasilnya sangat memuaskan. Pada akhir tahun 2019, saya berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dengan sistem ziyadah. Berkah Al-Qur’an itu nyata terasa bagi saya, sebab hafalan tersebut saya mendapat reward dari pesantren. Ternyata, menghafal Al-Qur’an tidak mengganggu aktivitas akademik, melainkan justru meningkatkan kecerdasan akademik, hal yang saya rasakan secara langsung.
Awalnya, saya mendaftar untuk mendapatkan beasiswa santri berprestasi dan memilih Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Sebelumnya, saya telah mendapat izin dari ibu. Namun, setelah data pendaftaran saya diverifikasi, saya menerima telepon dari ibu yang memberitahu bahwa ia tidak mengizinkan saya karena masih masa pemulihan pandemi corona. Meskipun demikian, karena data saya sudah terverifikasi, saya tetap harus mengikuti ujian. Namun, hasil ujian tersebut menyatakan bahwa saya tidak lulus. Dari situ, saya semakin yakin bahwa ridha orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap segala sesuatu yang kita lakukan.
Di pesantren ini saya bertemu dengan salah satu alumni PTKU yang mengajar di pesantren. Saya mendapatkan info tentang Pendidikan Tinggi Kader Ulama, yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang fokus membahas masalah agama secara mendalam. Sebab latar belakang pendidikan pesantren maka saya mendaftar di perguruan tinggi tersebut. Setelah melalui proses yang panjang, pada tahun 2021 atas izin Allah saya terpilih menjadi salah satu mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama. Sejak SD hingga SMA selalu mendapat rangking 3 besar, perna ikut serta dalam lomba hifzilqur’an tingkat kecamatan kategori 1 juz. Alhamdulillah mendapat juara 3 dalam lomba tersebut, ketika tamat dari pesantren hasil dari ujian akhir di bidang agama mendapat peringkat ke dua.
Pesan yang selalu disampaikan “umik” (ibu), ketika hendak berangkat kembali ke pesantren: “belajar elok-elok day, jangan bacewek (pacaran), jangan sombong , kalo awak ramah orang pun sonang samo awak nak”






