muisumut.or.id, Pada hari ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha, salah satu hari besar dalam kalender Islam yang penuh makna dan hikmah. Idul Adha tidak hanya menggambarkan pengorbanan fisik, tetapi juga pengorbanan spiritual dan mental yang mendalam, mengajak kita merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah sebuah narasi penuh inspirasi tentang ketundukan dan ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim dihadapkan pada ujian berat ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail. Namun, sesungguhnya perintah Allah tersebut bukanlah untuk membunuh Ismail, melainkan untuk menguji dan menghilangkan rasa kepemilikan mendalam terhadap Ismail. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa pada hakikatnya, segala sesuatu adalah milik Allah.
Dalam kehidupan modern, setiap individu memiliki ‘Ismail’ masing-masing yang bisa berupa harta benda yang dikumpulkan dengan susah payah, jabatan yang diraih dengan perjuangan panjang, gelar akademis yang dibanggakan, atau ego yang sering menjadi penghalang terbesar dalam bersikap rendah hati. Allah mengajarkan kita untuk mengikhlaskan semua itu, mengingatkan kita bahwa harta, jabatan, gelar, dan ego bukanlah milik kita secara mutlak, melainkan titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh-Nya.
Pelajaran dari keshalihan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail seharusnya menjadi landasan dalam menjalani kehidupan. Dengan mampu mengikhlaskan ‘Ismail’ dalam hidup kita, kita belajar untuk tidak menghinakan orang lain dengan harta, jabatan, atau gelar yang dimiliki. Di hadapan Allah, yang diterima hanyalah ketakwaan kita. Kesadaran akan hakikat kepemilikan ini seharusnya membimbing kita untuk hidup lebih tawadhu, menghargai sesama, dan tidak menganggap diri lebih tinggi hanya karena status duniawi.
Idul Adha mengajarkan pentingnya mengorbankan hal-hal yang kita anggap paling berharga sebagai wujud kepatuhan dan pengabdian kepada Allah. Pengorbanan ini bukan semata-mata tentang kehilangan, melainkan tentang meraih kebijaksanaan dan kedekatan yang lebih hakiki dengan Sang Pencipta. Setiap kali merayakan Idul Adha, kita diingatkan untuk meneladani keshalihan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail, menjadikan mereka panutan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk meneladani keshalihan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, agar kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Idul Adha bukan sekadar hari raya, melainkan momentum untuk refleksi dan perbaikan diri. Kita semua diundang untuk menjadi ‘Ibrahim’ yang mampu mengikhlaskan ‘Ismail’ dalam hidup kita, menjadikan ketaqwaan sebagai pilar utama dalam berhubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Selamat Hari Raya Idul Adha.
4o
Pada hari ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha, salah satu hari besar dalam kalender Islam yang penuh makna dan hikmah. Idul Adha tidak hanya menggambarkan pengorbanan fisik, tetapi juga pengorbanan spiritual dan mental yang mendalam, mengajak kita merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah sebuah narasi penuh inspirasi tentang ketundukan dan ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim dihadapkan pada ujian berat ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail. Namun, sesungguhnya perintah Allah tersebut bukanlah untuk membunuh Ismail, melainkan untuk menguji dan menghilangkan rasa kepemilikan mendalam terhadap Ismail. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa pada hakikatnya, segala sesuatu adalah milik Allah.
Dalam kehidupan modern, setiap individu memiliki ‘Ismail’ masing-masing yang bisa berupa harta benda yang dikumpulkan dengan susah payah, jabatan yang diraih dengan perjuangan panjang, gelar akademis yang dibanggakan, atau ego yang sering menjadi penghalang terbesar dalam bersikap rendah hati. Allah mengajarkan kita untuk mengikhlaskan semua itu, mengingatkan kita bahwa harta, jabatan, gelar, dan ego bukanlah milik kita secara mutlak, melainkan titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh-Nya.
Pelajaran dari keshalihan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail seharusnya menjadi landasan dalam menjalani kehidupan. Dengan mampu mengikhlaskan ‘Ismail’ dalam hidup kita, kita belajar untuk tidak menghinakan orang lain dengan harta, jabatan, atau gelar yang dimiliki. Di hadapan Allah, yang diterima hanyalah ketakwaan kita. Kesadaran akan hakikat kepemilikan ini seharusnya membimbing kita untuk hidup lebih tawadhu, menghargai sesama, dan tidak menganggap diri lebih tinggi hanya karena status duniawi.
Idul Adha mengajarkan pentingnya mengorbankan hal-hal yang kita anggap paling berharga sebagai wujud kepatuhan dan pengabdian kepada Allah. Pengorbanan ini bukan semata-mata tentang kehilangan, melainkan tentang meraih kebijaksanaan dan kedekatan yang lebih hakiki dengan Sang Pencipta. Setiap kali merayakan Idul Adha, kita diingatkan untuk meneladani keshalihan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail, menjadikan mereka panutan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk meneladani keshalihan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, agar kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Idul Adha bukan sekadar hari raya, melainkan momentum untuk refleksi dan perbaikan diri. Kita semua diundang untuk menjadi ‘Ibrahim’ yang mampu mengikhlaskan ‘Ismail’ dalam hidup kita, menjadikan ketaqwaan sebagai pilar utama dalam berhubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Selamat Hari Raya Idul Adha.
4o






