Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id, 1 November 2024, Rombongan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) setelah mengadakan ziarah ke makam Sayyid Amir Kulol, guru dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi. langung mengunjungi untuk berziarah ke Syeh Bahauddin Naqsyabandi. Ziarah ini bukan hanya menjadi momen untuk berdoa, tetapi juga kesempatan untuk merasakan suasana spiritual yang mendalam di kompleks makam yang lebih besar lagi di wilayah tersebut.Suasana dimakam ini begitu mengundang spritualitas keimanan, banyak makam lain yang terpisah namun masih satu komplek pemakaman.

Suasana di tempat wudhu kompleks makam sangat bersih dan tertata dengan baik. Tidak terlihat sampah ataupun kotoran, yang didukung oleh perencanaan pembangunan yang sangat baik. Meski tidak ada peraturan larangan alas kaki, orang yang memasuki area wudhu tetap memakai alas kaki. Setiap keluar, lantai langsung dipel menggunakan handuk khusus, menjaga kebersihan tanpa cela.

Sepanjang jalan menuju masjid, terdapat taman yang ditumbuhi pohon dan bunga, menciptakan suasana harum dan nyaman menjelang waktu Maghrib. Di taman kecil tersebut, terdapat papan-papan berisi petuah dari Imam Bahauddin al-Naqsyabandi dalam bahasa Rusia dan Inggris, yang mengingatkan pengunjung tentang ajaran-ajaran beliau sebagai pedoman hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua MUI Sumatera Utara juga menerima bingkisan sajadah dan Al-Qur’an dari penjaga makam. Penjaga tersebut kemudian membuka sebuah ruangan yang dikenal sebagai “cilahona,” tempat Syekh Bahauddin dahulu sering melakukan zikir hingga 41 malam. Para rombongan MUI pun berkesempatan berdoa dan berzikir di tempat tersebut, merasakan atmosfer spiritual yang mendalam sehingga beberapa anggota rombongan tampak enggan meninggalkan lokasi tersebut.

Ziarah ini juga disempurnakan dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut di depan makam Imam Bahauddin. Makam beliau berada di halaman dalam masjid, dikelilingi pagar beton dan dihiasi bunga yang tertata rapi. Makam ini tidak menimbulkan kesan angker atau kotor, tetapi penuh ketenangan dan keindahan. Selain itu, terdapat dua pohon rindang yang menaungi area makam, menyediakan tempat duduk melingkar yang menambah kenyamanan bagi peziarah.

Di bagian belakang masjid, berdiri sebuah menara tinggi yang dibangun dari batu bata tanpa penguat baja, mengikuti arsitektur khas bangunan-bangunan bersejarah di Uzbekistan seperti di Bukhara, tempat kelahiran Imam Bukhari. Menara ini mengingatkan para pengunjung akan keindahan arsitektur Islam kuno dan nilai sejarah tarekat Naqsyabandiyah yang terus berkembang hingga saat ini.

Ziarah ke makam Imam Bahauddin al-Naqsyabandi ini tidak hanya memberikan pengalaman spiritual, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antara MUI Sumut dengan komunitas Tarekat Naqsyabandi, sekaligus menjadi kesempatan untuk merenungi ajaran-ajaran luhur para pendahulu dalam menapaki kehidupan yang lebih baik dan penuh makna.
Sepanjang jalan menuju masjid, terdapat taman yang ditumbuhi pohon dan bunga, menciptakan suasana harum dan nyaman menjelang waktu Maghrib. Di taman kecil tersebut, terdapat papan-papan berisi petuah dari Imam Bahauddin al-Naqsyabandi dalam bahasa Rusia dan Inggris, yang mengingatkan pengunjung tentang ajaran-ajaran beliau sebagai pedoman hidup.






