Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id.,3 November 2024, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak saat berziarah ke makam sufi Abd al Khaliq Gijduvani di Bukhoro, Ahad 3 November 2014, menyampaikan pesan Imam Al-Ghazali mengenai tujuan utama dalam praktik ziarah kubur yang telah lama diamalkan umat Islam. Menurut Al-Ghazali, ziarah kubur memiliki dua manfaat: pertama, peziarah dapat memetik hikmah dari peristiwa kematian orang yang diziarahi; kedua, ahli kubur memperoleh manfaat doa dari peziarah. Dari sini, Al-Ghazali menyarankan agar peziarah mendoakan ahli kubur terlebih dahulu, kemudian merenung dan mendoakan diri sendiri.


Dr. Maratua juga mengutip Sayyid Az-Zabidi, yang menganjurkan agar peziarah mendahulukan doa untuk ahli kubur sebelum berdoa untuk dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abu Darda ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Tiada seorang hamba muslim mendoakan saudaranya secara sembunyi (ghaib) melainkan ada malaikat yang mendoakannya, ‘Untukmu semisal itu.’”
Bukhara dan Peninggalan Sufi Terkenal Abd al-Khaliq Gijduvani
Bukhara menyimpan warisan budaya Islam yang berharga, salah satunya adalah makam sufi besar Abd al-Khaliq Gijduvani (wafat 1180/1220). Gijduvani merupakan murid Syekh Yusuf al-Hamadani dan pendiri tarekat “Hajagan” (Jalan Para Guru), yang kemudian melahirkan ajaran Naqsyabandiyah. Pada tahun 1432-1433, Mirzo Ulugbek, penguasa Maverannakhr, membangun madrasah di samping makamnya sebagai bentuk penghormatan.

Di awal abad ke-21, sebuah memorial modern juga didirikan untuk mengenang Gijduvani, menampilkan iwan kayu berukir dengan kubah biru di atas makamnya. Lahir pada tahun 1118 di Gijduvan, Abd al-Khaliq berasal dari keluarga religius dan sejak kecil dikelilingi oleh nilai-nilai Islam. Pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an dan sejak usia muda bersemangat mencari ilmu keagamaan.

Selama berada di Bukhara, ia mendalami pengetahuan di berbagai perpustakaan yang menyimpan manuskrip berharga. Pertemuannya dengan Syekh Yusuf al-Hamadani membawa Gijduvani menjadi murid kesayangan dan kelak menjadi tokoh penting dalam perkembangan tasawuf di Asia Tengah.






