Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id., 4 November 2024 – Dalam upaya mempererat spiritualitas dan menghidupkan kembali jejak sejarah peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan kunjungan ziarah ke makam Amir Timur, atau Gur-e Amir Maqbarasi, di Samarkand. Kegiatan ziarah ini bertujuan untuk meneladani tokoh Islam besar, mengenal arsitektur bersejarah, dan menguatkan nilai-nilai persaudaraan antarbangsa.
Setibanya di lokasi, rombongan MUI Sumut terpesona oleh keindahan arsitektur bangunan bersejarah yang memiliki kubah berwarna biru eksotis, yang menjadi salah satu ciri khas kompleks Gur-e Amir. Selain mempelajari sejarah Amir Timur dan kontribusinya dalam perkembangan peradaban Islam, rombongan juga mendengarkan kisah-kisah menarik yang disampaikan oleh pemandu wisata, Adil Bek. Beberapa kisah misteri seputar makam ini menambah daya tarik bagi para pengunjung.
Di dalam mausoleum, rombongan melihat batu nisan Amir Timur yang terbuat dari batu zamrud berwarna hijau tua, sekilas tampak seperti hitam. Batu zamrud ini dipercaya sebagai batu terbesar yang ditemukan pada masa cucu Amir Timur, Ulugh Beg, yang terkenal dengan observatoriumnya di Samarkand. Konon, batu ini ditemukan di Tiongkok dan telah diukir dengan nama Amir Timur sebagai pengingat garis keturunan langsungnya dari Ghengis Khan.
Rombongan MUI Sumut dipandu Adil Bek, yang memandu menyusuri area kompleks makam Amir Timur. Setibanya di sana, rombongan terkesima dengan kemegahan arsitektur bangunan, khususnya kubah biru yang khas dan megah. Kompleks Gur-e Amir ini juga menjadi tempat peristirahatan bagi beberapa anggota keluarga Dinasti Timurid, termasuk Ulugh Beg, cucu Amir Timur yang terkenal atas kontribusinya dalam ilmu astronomi di Samarkand
Selama kunjungan, rombongan juga menjumpai puing-puing bekas bangunan madrasah yang terletak di sekitar area makam. Puing-puing ini menjadi saksi bisu kejayaan pendidikan Islam pada masa Dinasti Timuri, yang dulu mendirikan madrasah sebagai pusat pendidikan. Madrasah satu lantai yang ada kini menampung toko kerajinan. Di sebelah madrasah terdapat masjid yang masih berfungsi. Ketiga bangunan ini membentuk satu ansambel. Reruntuhan madrasah ini mengingatkan pengunjung akan pentingnya peran pendidikan dalam mengembangkan peradaban.

Saat berada di dalam mausoleum, rombongan mengamati batu nisan Amir Timur yang sangat eksotis, terbuat dari batu zamrud berwarna hijau tua yang sekilas tampak hitam. Batu zamrud ini konon adalah yang terbesar pada zamannya, didatangkan dari Tiongkok, dan memiliki ukiran nama Amir Timur sebagai simbol garis keturunannya dari Ghengis Khan. Keunikan batu zamrud ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat pengunjung terkagum-kagum akan sejarah dan kemegahan Dinasti Timurid.

Rombongan MUI Sumatera Utara yang dipimpin Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak menyempatkan untuk berdoa bersama di depan kuburan Amir Timur dan beberapa kuburan disebelahnya, Untuk mengenali kuburannya ada papan pengumuman sehingga lebih mudah pengunjung untuk mengetahui posisi makam tersebut, di samping bahwa makam Amir Timur berbeda karena terbuat dari Zamrud berwarna hijau tua yang tampak seperti warna hitam

Selain itu, rombongan juga menemukan area belanja suvenir yang menarik, berada dalam bangunan menyerupai gua di sekitar kompleks makam. Beberapa orang menganggap Gur-e Amir, makam Ruhabad, dan makam Aksaray sebagai satu ansambel karena letaknya yang berdekatan. Ruhabad (abad ke-14) adalah sebuah makam kecil dan konon berisi sehelai rambut Nabi Muhammad. Madrasah satu lantai yang ada kini menampung toko kerajinan. . Tempat ini menyediakan berbagai suvenir khas, mulai dari kerajinan lokal hingga cendera mata dengan nuansa sejarah Islam, yang bisa menjadi kenang-kenangan dari kunjungan mereka ke Samarkand. Keberadaan tempat suvenir ini menambah pengalaman tersendiri bagi rombongan, yang turut berinteraksi dengan masyarakat setempat serta mendukung ekonomi lokal.

Ziarah ini tak hanya memberikan wawasan sejarah yang kaya, tetapi juga membawa pengalaman spiritual yang mendalam. Ketua MUI Sumut menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ziarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghormati jasa besar Amir Timur dalam sejarah peradaban Islam dan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Islam yang berharga.
Dengan menghidupkan kembali tradisi ziarah, rombongan MUI Sumut berharap agar umat Islam semakin mengenal sejarah dan meneladani tokoh-tokoh besar Islam, serta mempererat persaudaraan di antara umat Islam di seluruh dunia






