Padang Lawas, muisumut.or.id., 22 November 2024 – Tim Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (Infokom MUI) Sumatera Utara melakukan kunjungan ke makam Sultan Hamid Al-Muktadir di Desa Pagaran Bira, Kecamatan Sosopan, Padang Lawas. Makam yang sudah menjadi cagar budaya yang dikenal dengan Jiret Mertuah (ada yang mengatakan Jiret Bertuah) Makam ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Sultan Hamid, seorang tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Padang Lawas.

Situs makam keramat Jiret Mertuah disebut dengan nama Pageran Bira. Lokasinya di Desa Pageran Bira Jae, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas. Untuk menuju situs Pageran Bira Tim Infokom didampingi MUI kab Padang Lawas dan Ustaz Drs. Royhan.
Memasuki Pageran Bira Jae kita akan terlebih dulu bertemu dengan Masjid Nurul Imam yang diyakini sebagai peninggalan sejarah dari Sultan Hamid Al Muktadir. Di Masjid Nurul Imam Tim Infokom menyempatkan menikmati air yang sangat jernih dan dingin. Air yang berasal dari Bukit Barisan itu digunakan untuk wudhu.
Selain itu tampak juga beduk masjid yang berusia ratusan tahun masih utuh. Tiang masjid masih kokoh. Bagian interiornya pun masih original belum pernah diubah.

Dari Desa Pageran Bira Jae, perjalanan dilanjutkan ke makan keramat Jiret Mertuah melewati jalan setapak sekira 200 meter.
Ustaz Royhan mengajak beberapa tokoh masyarakat untuk bersama ke makam dan berdoa yang di pimpin Ketua Bidang Infokom, Dr.Akmaludddin Syahputra
Sultan Hamid dan Perjuangan Islam di Padang Lawas
Ustadz Drs. Rohyan, M.Pd., yang turut mendampingi kunjungan, menjelaskan bahwa Sultan Hamid merupakan tokoh yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Sultan Hamid adalah bagian dari Kesultanan Aru Barumun, yang terus berdakwah meski menghadapi tantangan besar.
“Kesultanan Aru Barumun pernah diserang oleh Kesultanan Selat Malaka, yang menyebabkan benteng dan armada lautnya hancur. Sultan Hamid akhirnya menjauhkan diri ke hulu Sungai Barumun. Dan naik ke sebelah kanan sungai Barumun dan menetap di pagaran bira.
Makam Sultan Hamid

Makam Sultan Hamid terletak di kawasan perbukitan Bukit Barisan, sekitar satu kilometer dari hulu Sungai Barumun. Ustadz Rohyan menyebutkan bahwa makam ini merupakan saksi sejarah perjuangan dakwah Islam di wilayah Padang Lawas.
“Makam ini adalah bagian dari sejarah Islam di Padang Lawas. Keberadaannya menjadi pengingat perjuangan Sultan Hamid dalam menyebarkan Islam, bahkan di tengah keterbatasan,” jelasnya.
Di area makam, terdapat dua pusara yang diyakini sebagai makam Sultan Hamid dan istrinya. Lokasi ini telah menjadi tempat ziarah.
Harapan untuk Pelestarian Sejarah
Ustadz Rohyan berharap kunjungan Infokom MUI Sumut ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap situs-situs sejarah Islam di Padang Lawas. Menurutnya, pelestarian makam Sultan Hamid dan peninggalan sejarah lainnya sangat penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap warisan Islam di daerah ini.
“Kami berharap situs ini terus dirawat, bukan hanya sebagai bukti sejarah, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dakwah Islam yang patut diteruskan oleh generasi mendatang,” tutup Ustadz Rohyan.






