Medan, muisumut.or.id Ahad 24 Agustus 2025– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara kembali menggelar Muzakarah Rutin Bulanan pada Ahad, 30 Shafar 1447 H/24 Agustus 2025 M di Aula MUI Sumut, Medan. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menghadirkan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S. sebagai narasumber dengan tema “Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan RI”. Adapun moderator acara adalah Dr. Sori Monang An-Nadwi, Lc., M.Th., Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sumut.
Dalam pemaparannya, Prof. Ichwan Azhari menekankan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar para ulama dan santri. Menurutnya, figur-figur ulama seperti Buya Hamka, KH. Zainul Arifin, Tuan Syekh HM. Arsyad Thalib Lubis, dan Syekh Ismail Abdul Wahab Harahap telah memberikan kontribusi nyata, baik melalui dakwah, pendidikan, maupun perjuangan bersenjata.
“Masjid Jamik yang kini dikenal sebagai Masjid Mujahidin adalah salah satu jejak sejarah penting. Dari sinilah lahir pasukan bersenjata Indonesia yang mengobarkan perlawanan besar, termasuk dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dengan komandan seorang tokoh asal Barus, Sumatera Utara, yakni KH. Zainul Arifin,” jelasnya.
Prof. Ichwan menambahkan, di kawasan masjid itu pula Jepang memobilisasi ribuan santri di Jawa untuk dilatih militer di bawah panji Hizbullah dengan komando KH. Zainul Arifin Pohan. Gerakan ini, imbuhnya, memperlihatkan peran ulama dan santri yang sangat strategis dalam menyiapkan kekuatan rakyat menghadapi penjajah.
Lebih jauh, ia menguraikan tentang Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh KH. Hasyim Asy’ari. Resolusi tersebut mewajibkan setiap muslim, khususnya laki-laki dalam radius 94 km dari Surabaya, untuk angkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan. “Resolusi Jihad membakar semangat rakyat. Suara takbir dari masjid dan musala menjadi pendorong keberanian rakyat Surabaya menolak ultimatum pasukan sekutu pada 9 November 1945. Penolakan inilah yang memicu pecahnya pertempuran 10 November,” terangnya.
Menurut Prof. Ichwan, kantor Pengurus Cabang NU (dahulu Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama) juga menjadi pusat pergerakan Islam kala itu. Di sinilah fatwa Resolusi Jihad dicetuskan, yang kemudian menjadi penentu arah perjuangan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Oleh karena itu, sejarah perjuangan bangsa tidak boleh dipisahkan dari peran ulama. Mereka bukan hanya guru dan pembimbing umat, tetapi juga motor perlawanan yang meletakkan dasar kuat bagi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.






