muisumut.or.id., Medan, 12 September 2025 – Panitia Penyusunan Buku 50 Tahun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara terus menghimpun catatan sejarah dari para tokoh yang pernah berkiprah di lembaga ini. Pada Jumat, 12 September 2025, bertempat di ruang rapat MUI Sumut, panitia mewawancarai Ustaz Abdul Muin Isma Nasution, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Sumut, yang pernah menjabat Sekretaris Umum MUI Sumut dua periode, 1995–2005, mendampingi Ketua Umum almarhum Ustaz Mahmud Aziz Siregar.
Dalam wawancara, Ustaz Muin menegaskan bahwa pada periode kepengurusan tersebut MUI Sumut lebih fokus pada pembenahan internal.
“Pada periode ini tidak begitu ada hal yang krusial. Lebih banyak memperbaiki administrasi. Baru dimulai sistem digitalisasi. Kita pada saat itu bisa menghitung berapa surat keluar dan berapa yang masuk, sehingga dari situ kita melihat aktivitas dan keaktifan kantor,” ungkapnya.
Ketegasan Terhadap Wacana Lokalisasi Judi
Ustaz Muin juga mengenang peristiwa penting ketika muncul wacana lokalisasi judi di Sumut pada masa Gubernur Raja Inal Siregar.
“Ketika itu muncul wacana dari gubernur untuk membuat lokalisasi judi. Tapi Ketua Umum, Ustaz Mahmud Aziz Siregar, menegaskan: dimanapun judi berada, tetap hukumnya haram. Jadi tidak ada tawar-menawar. Ketegasan inilah yang membuat wacana itu batal,” ujarnya.
Kisah Tsunami Aceh 2004
Mengenang bencana tsunami tahun 2004, Ustaz Muin menceritakan bagaimana MUI Sumut turun langsung membantu.
“Ketika tsunami melanda, Nias hancur dan banyak tidak tertanggulangi fardu kifayahnya. Kita kirim sukarelawan dan kader ulama kita,” tuturnya.
Beliau juga mengungkap fenomena pemurtadan pasca-tsunami.
“Waktu itu ada seorang pendeta dari Aceh yang lari ke sini karena diburu masyarakat. Pencegahan pasca-tsunami memang rawan dimanfaatkan untuk pemurtadan, khususnya terhadap anak-anak. Karena itu kita bekerja sama lintas provinsi dengan MPU Aceh,” jelasnya lagi.
Warisan Intelektual dan Perpustakaan
Selain itu, Ustaz Muin menekankan bahwa kepengurusan MUI pada masanya sangat memperhatikan dokumentasi keilmuan.
“Penerbitan buku banyak dilakukan. Ceramah dan muzakarah dibukukan karena dianggap sebagai warisan untuk umat,” katanya.
Ia juga menceritakan tentang perpustakaan MUI Sumut.
“Almarhum Ustaz Ahmad Hasan Lubis pernah pulang dari Mesir membawa banyak buku. Tidak tahu mau ditaruh di mana, akhirnya dibawa ke MUI. Ongkos angkutnya ditanggung oleh Dr. Gading Hakim. Dari situ lahirlah perpustakaan MUI yang lengkap, bahkan mahasiswa pascasarjana banyak merujuk ke sini. Dulu, UIN juga mensyaratkan surat keterangan bebas pustaka dari MUI bagi mahasiswa yang akan lulus,” ujarnya sambil tersenyum mengenang.
Inisiatif Pembangunan Islamic Center
Ustaz Muin juga menyinggung peran MUI Sumut dalam gagasan besar pembangunan Islamic Center.
“Ide pembangunan Islamic Center itu dulunya mendapat lahan 17 hektare. Itu inisiatif dari MUI Sumut bersama para ulama Sumatera,” jelasnya.
Wawancara ini menjadi bagian dari penyusunan Buku 50 Tahun MUI Sumut yang diketuai oleh Prof. Dr. Hasan Bakti Nasution, MA. Buku tersebut rencananya akan diluncurkan pada Musyawarah Daerah (Musda) MUI Sumut Desember 2025 mendatang.
“Kita berharap buku ini bukan hanya dokumentasi sejarah, tapi juga menjadi pelajaran berharga untuk generasi berikutnya,” pungkas Ustaz Muin.






