Tuesday, May 26, 2026
spot_img

WUKUF DI ARAFAH: Sekolah kehidupan

muisumut.orid.,  Arafah,  9 Zulhijjah 1447 H, 26 Mei 2026, Ritual wukuf di Padang Arafah adalah puncak manasik haji dan menjadi rukun kunci haji yang tidak bisa tidak wajib dikerjakan oleh seluruh jamaah haji. Karenanya, secara fiqih jika wukuf tidak dilakukan maka hajinya menjadi tidak sah.

Secara filosofis atau hikmah bahwa wukuf di Padang Arafah adalah pendidikan atau sekolah kehidupan. Mengapa?

Pertama, Arafah secara bahasa berarti mengenal, mengetahui, menyadari. Disebut demikian, secara historis, Nabi Adam AS dan Siti Hawa saling mengenal, mengetahui menyadari tentang dirinya dan dosanya saat di Arafah. Demikian pula dengan Nabi Ibrahim AS mengenal mengetahui dan meyakini sepenuh hati bahwa perintah menyembelih anaknya Ismail AS adalah wahyu dari Allah SWT saat di Arafah. Dalam riwayat lain, Malaikat mengajari Nabi Ibrahim manasik haji dan menanyakan, hal Arafta dan Nabi Ibrahim AS menjawab: araftu.

Oleh karena itu, sekolah kehidupan dimulai dari mengenal siapa diri. Dari mengenal diri kita dapat mengenal Tuhan, man ‘arafa nafsah, ‘arafa rabbah. Lalu, siapa kita sebenarnya? Manusia terdiri dari dua (2) unsur, jasmaniah dan ruhaniah. Secara jasmaniah, manusia berasal dari tanah (QS. Assajadah: 7), lalu keturunannya dari air yang hina, ma’ mahin (QS. Assajadah: 8). Betapa, sungguh tak pantas kita menjadi sombong dan angkuh jika kita sadar kita dari air yang jangan orang lain, kita sendiri pun jijik melihatnya. Kita hanya mulia jika beriman dan beramal shaleh dan menjadi paling rendah jika kafir dan berbuat kerusakan. (QS. At Tin: 4-5).

Namun jangan lupa dan terlena, kita berasal dari tiupan ruhNya, “kemudian Dia sempurnakan dan meniupkan Ruh penciptaNya (QS. Assajadah: 8).” Inilah sisi rohaniah yang harus kita pahami. Jika tanah dan air pulang ke tanah kembali melalui proses kimiawi, sedangkan ruh pulang ke TuhanNya melalui proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) (QS. Asy Syam: 9).

Pada konteks inilah, wukuf di Padang Arafah kita berzikir untuk menetapkan dalam hati, Tiada Tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada syarikat baginya, Dia yang hidup dan tidak mati, dalam kekuasaan-Nya kebaikan dan Dia-lah yang berkuasa atas sesuatu.

Kedua, wukuf berarti berhenti. Kita harus memahami perjalanan hidup sebagaimana makna dalam ritual thawaf, maka kita sedang bergerak, beraktivitas, sibuk dalam berbagai kegiatan, dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat, pekerjaan bahkan juga kenegaraan. Dalam berbagai kesibukan itu, kita diperintahkan untuk berhenti (wukuf) sejenak. Berhenti dalam ketenangan untuk mengevaluasi, sedang dimana kita dan berapa jauh lagi kita harus melangkah. Ada satu pertanyaan Allah dalam surah Al Takwir, mau kemana kamu?. (QS. At-Takwir: 26).

Dalam kehidupan, terkadang kita sibuk sekali dan tidak mengetahui tujuan kesibukan itu. Dalam konteks itulah, Wukuf mengajarkan untuk berhenti dan tenang dalam kehidupan. Sungguh dengan berzikir hatimu akan tenang. Lebih dari itu, hanya jiwa jiwa yang tenanglah yang ditempatkan di surga kelak. (QS. Al Fajr: 27-30).

Ketiga, siap menjalankan perintah Allah dan meninggalkan  laranganNya. Dalam sejarah wukuf, saat Rasulullah berhaji wada’, Allah menegaskan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna dan diridhaiNya (QS. Al Maidah: 3). Dan Rasulullah menegaskan kesempurnaan Islam dan Khutbah Wada’ yang intinya: bertaqwa kepada Allah SWT, berbuat baik kepada manusia dan semua makhluk, kewajiban memegang amanah, tidak memakan riba dalam kehidupan, menjaga istri yang telah kita ambil atas nama Allah.

Keempat, wukuf berarti berhenti dari denyut kehidupan, kaki dan tangan berhenti bergerak, mata berhenti berkedip, terjadilah kematian. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Wukuf di Padang Arafah adalah simulasi kematian. Kita akan dikumpulkan di padang mahsyar kelak. Wukuf di Padang Arafah adalah miniatur dari Padang Mahsyar yang tidak bisa tidak adalah tempat berkumpulnya kita nanti. Di Padang Arafah kita mohon kepada Allah agar kiranya Allah ampuni dosa-dosa kita. Di hari Arafah ini kita mohon diampuni oleh Allah atas semua kesalahan dan dosa.

Disebutkan sebuah hadis, dari Anas bin Malik Ra. suatu kali Nabi Muhammad wukuf di Padang Arafah di saat matahari hampir tenggelam lalu Rasulullah berkata “Wahai Bilal Suruhlah umat manusia mendengarkan saya, maka Bilal pun berdiri dan menyeru manusia. Rasulullah bersabda: Wahai umat manusia baru saja Jibril datang kepadaku, Tuhanku dan mengatakan sungguh Allah mengampuni dosa-dosa orang-orang yang berwukuf di Arafah dan orang-orang yang bermalam di Mas’aril Haram atau Muzdalifah dan menjamin membebaskan mereka dari tuntutan balasan dari dosa-dosa mereka. Umar Bin Khattab pun berdiri dan bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah apakah ini khusus untuk kita saja Rasulullah menjawab, ampunan ini untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang setelah kalian hingga hari kiamat kelak Umar pun berkata kebaikan Allah sungguh banyak dan Dia Maha Pemurah.

Dalam hadis dari Aisyah Rasulullah bersabda: Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka selain hari Arafah. Wallahu’alam.

Arafah, 9 Zulhijjah 1447 H
MKR

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles