muisumut.or.id, Medan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Dr. H. Ardiansyah LC, MA. dengan tegas menyatakan bahwa faham-faham yang berkaitan dengan, radikalisme, libarisme, sekularisme dan pluralisme agama tidak ada dalam Islam.“ Faham–faham ini tidak dikenal dalam Islam “ ungkapnya.
Penjelasan itu disampaikan saat membuka diskusi pemberdayaan Majelis Taklim menangkal radikalisme , liberalisme, sekularisme dan pluralisme agama. ( 7/10) di Aula pertemuan MUI SU yang dihadiri majelis-majelis taklim dan MUI Kabupaten/Kota se- Sumatera Utara.
Menurutnya kita prihatin masalah faham ini dituduhkan kepada oknum-oknum atau personal umat Islam. bahwa paham itu tidak ada irisannya dan singgungannya dengan Islam. dengan mengutip penjelasan dari Ketua MUI Pusat non aktif, Prof KH Ma’ruf Amin bahwa semangat kita di MUI adalah mengusung tiga ukhuwah, Islamiyah, Basyariah dan Wathaniyah.
Ukhuwah Islamiyah kata, Dr Ardiansyah yang juga dosen di UINSU, persaudaran sesama Islam. Dengan mengutip hadis tentang saling melindungi, saling menyayangi satu sama lainnya tentang sakitnya suatu anggota tubuh maka sakit seluruhnya. Begitu juga senang kita senang saudara kita dan sebaliknya, “ Untuk itu kita harus terus menjalin ukhuwah ini “ ajaknya .
Adapun ukhuwah basyariah persaudaraan sesama manusia yang sifatnya universal. Ia kemabali mengutip hadis dimana Rasul menyuruh kita menyembelih hewan peliharan yang akan dimakan dengan pisau yang tajam, agar tidak menyakitinya. “ jika Kepada binatang saja kita berbuat demikian apalagi sesama manusia manusia “ paparnya . Begitu terhadap jenazah, barang siapa yang mematah tulang jenazah maka sama dosanya dengan mematahakan tulangnya selagi hidup .” Kita tidak boleh menyakiti seseorang baik semasa hidup maupun mati, tambahnya.
Maka ditinjau berkaitan dengan covid ini MUI telah mengeluarkan fatwa no 17 dan 18 tahun 2020 tentang wajibnya memuliakan jenazah yang telah terpapar dengan covid 19.
Adapun ukhuwah wathaniyah adanya persaudaran sebangsa dan setanah air yang perlu dirawat dan menjaganya karena umat Islam moyoritas di negara ini. Maka baik umat Islamnya maka baiklah negara ini, sebaliknnya jika penduduk terbesar ini terbelah- belah ini, akan merusak kita menjadi lemah.
Pada kesempatan itu Sekum MUI SU berterima kasih kepada bidang Pengkajian dan penlitian dalam mendikusikan faham tersebut, sehingga dengan pertemuan ini akan menambah wawasan dan menyatukan persepsi terhadap paham-paham yang menyimpang sekaligus mampu menangkalnya.
Sementara itu Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI SU, Prof. Dr. H. Fachruddin Azmi MA, dilaksanakn pertemuan ini , setelah bidang ini melakukan penlitian dan pengkajian keberapa daerah, termasuk laporan yang diterima pihaknya , adanya kelompok dari masyarakat yang masih menganut beberapa paham yang dapat menjurus pada paham yang menyimpang, dalam hal itu perlu dilaksanakan suatu pertemuan seperti hari ini dengan tujuan pemberdayaan Majelis taklim untuk menangkal radikalisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme di Sumatera Utara.
Hal ini dilakukan mengingat kebeadaan majelis taklim, termasuk MUI Kabupaten /Kota, merupakan terdepan yang berhadapan langsung dengan kelompok yang dianggap menyimpang itu. Sehingga dengan dilakukannya penangkalan kelompok tersebut dapat diselamatkan dari paham-paham yang penyimpang.
Prof. Fackhruddin Azmi, menambahkan bahwa keberadaan bidang Pengkajian dan Penlitian selama ini melakukan penelitian dari laporan masyarakat atau dari MUI /Kabupaten kota. Hanya saja cara ini akan terlalu lama untuk penyelesaian. Seperi penelitian di kampung Kasih sayang yang juga dianggap ada penyimpang dalam beberapa kegiatan masyarakatnya,. Untuk itu pihaknya memerlukan waktu lama dan biaya tinggi dalam menelusurinya dan menyelidikinya. Jadi dengan kehadiran MUI dan majelis taklim, hal lebih cepat dilakukan penelitian dan cukup membantu kinerja bidang pengkajian. Dengan demikian kita lebih cepat menyelamatkan umat dari faham –faham menyimpang lebih luas.. “ Kita berharap pertemuan ini adalah tugas dakwah untuk menyelamatkan umat.
Pertemuan upaya pembedayaan Majelis taklim ini cukup mendapat sambutan dari peserta. ini terlaihat dalam diskusi yang disampaikan nara sumber. Adapun nara sumber pada pertemuan itu , Prof Dr H Syakur Kholil DlT MA, Brigjen Ruh ruh AS dari Kabinda Sumut, AKBP Budiman dari Poldasu dan Wasito.
Prof Syukur Kholil , menyimpulkan, Radikalisme, sekularisme, liberalime dan puralisme agama, muncul karena berbagai faktor. Termasuk karena pemahaman agama yang sempit dibarengi fanatisme berlebihan . karena itu majelis taklim diharapkan perannya untuk menanamkan pemahaman agama yang moderat dan berwawasan luas.( husni as)






