Thursday, January 29, 2026
spot_img

Alumni PTKU MUI Sumut menjadi narasumber Acara Workshop & Seminar di Surabaya

muisumut.or.id. Acara workshop seminar pemikiran dan peradaban Islam dihadiri oleh Ketua STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya Oscar Wardhana W.S., S.T.P., Lc., M.Pd. di ruang C-03 STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya. Selasa (31/10).

Turut hadir bersama rombongan PKU dosen UNIDA Gontor Ustadz M. Faqih Nidzom, M.Ag., Ustadz Fachri Khoeruddin, M. Ag., dan Ustadz Aldy Pradhana. M. Phil. sebagai perwakilan kata sambutan.

Dalam seminar ini tidak ada pertanyaan, namun sebuah tanggapan yang diberikan perwakilan Yayasan yaitu Ustadz Ali Bazher.

Dalam seminar ini saya Saddan Yasir selaku pemateri bersama Ajhar Yusuf dan Alip Eko, saya menjelaskan  “perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan telah menuai kecaman dari pelbagai pihak, salah satunya ChatGPT. Contoh kasus Di Universitas Tokyo Shopia, Jepang, pihak kampus melarang mahasiswanya menggunakan ChatGPT untuk menulis tugas seperti esai, laporan, dan tesis. Sehingga ChatGPT di banned di berbagai negara”.

Saddan menerangkan ChatGPT mengacu pada model pembelajaran mendalam dari data Wikipedia atau kumpulan karya dan mampu belajar untuk menghasilkan kemungkinan yang diminta. Sehingga, dapat menfasilitasi pembelajaran yang adaptif melalui pendekatan konstruktivisme, menghadirkan peluang umpan balik individual, membantu dalam penulisan.

Namun ancaman serius ditimbulkan ChatGPT, diantaranya dapat memberikan informasi yang salah, dapat menyebabkan praktik pembelajaran tidak etis dan ekuitas, memilki potensi bias dan pemalsuan informasi, mengurangi keahlian lulusan, dan menghilangkan penilaian utama hasil belajar siswa, mempengaruh integritas akademik dan pembelajaran siswa.

Melihat ancaman ini Saddan mengutip gagasan adab perspektif Syed Naquib al-Attas dalam penggunaan  ChatGPT. Adapun penerapannya, yaitu dengan memahami bahwa teknologi seyogyanya menjadi sebuah alat yang berguna, dengan memahami tanggung jawab dirinya kepada Tuhan dan menunaikan keadilan kepada dirinya dan masyarakat. Sebab, ledakan perkembangan teknologi informasi mengakibatkan pelbagai kebingungan, ditambah lagi muatannya yang berbahaya secara etis, kultural, dan sosial. Sehingga, perkembangan ini hanya bisa diatasi oleh individu yang secara instrinsik baik dalam pengertian adab.

Rabu, 1 November 2023

9.00 di STKIP Al-Hikmah Surabaya

Dalam acara ini, ada beberapa pertanyaan yang di lontarkan peserta seminar. Adapun pertanyaan yang diberikan kepada kami terkait pemaparan Problem Moralitas ChatGPT, yaitu terkait bagaimana implementasi adab terhadap penggunaan ChatGPT dalam dunia pendidikan, baik tenaga pendidik maupun instansi. Bagi kami, penerapan adab yang saya paparkan adalah pada tingkatan diri sendiri, dimana seseorang itu memahami konsep adab. Selanjutnya, pada tataran guru, pemaparan saya pada konsep adab adalah ta’dib, dimana seorang guru dapat menanamkan adab tersebut secara berangsur-angsur kepada peserta didik. Akhirnya, pada tataran tertinggi seperti lembaga pendidikan hingga perumus pendidikan kita, yaitu dengan memperhatikan penerapan adab, dimana lembaga pendidikan tidak sekedar memperbaiki metode pendidikan yang berbasis teknologi modern melainkan muatannya. Dalam kaitan terhadap metode pendidikan dan muatan, muatan seperti penanaman adab lebih penting ketimbang metode itu sendiri, sebab metode yang ditawarkan kebanyakan bermuara pada sikap pragmatis dan materialistis semata. Sehingga, ketika kecondongan terhadap metode canggih ala barat dengan dalih  mengikuti perkembangan zaman tidak dianggap benar jika mengabaikan hal yang lebih fundamental yaitu muatan seperti adab.

Pertanyaan lainnya dari peserta Kevin terkait bagaimana menyikapi perkembangan AI yang jikalau nantinya bisa melampaui manusia seperti memiliki kesadaran dan emosional. Dalam menjawab hal ini, hal yang kita pahami bahwa manusia itu merupakan makhluk luar biasa dengan segala kapasitas dan potensi komplek yang diciptakan Tuhan. Untuk itu, teknologi AI secanggih apa pun nantinya tidak akan pernah bisa mengalahkan sifat kemanusiaan. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana potensi yang kita miliki dapat dikembangkan lebih optimal, khususnya perkembangan spritual dan emosional. Sebab, ada potensi intelektual kita dikalahkan oleh perkembangan AI yang semakin pintar. Sehingga, untuk mempertahankan sisi kemanusiaan agar tidak dikalahkan AI adalah dengan memahami dan bijaksana dalam menyikapinya.

Turut hadir dalam acara Wakil Ketua STKIP Al-Hikmah mengatakan bahwa “hari ini kita dihadapkan pada situasi dilematis, dimana perkembangan AI seperti ChatGPT sudah merebak dalam penggunaanya, sehingga mahasiswa terkadang mencari jalan pintas dalam mengerjakan tugasnya dengan memanfaatkan ChatGPT”, ungkapnya.

Selain kasus ChatGPT, hal yang mengkhawatirkan adalah fenomena kesenjangan hubungan guru dan murid. Dimana, murid tidak lagi menghargai sosok guru sebagai wasilah transmisi ilmu. Akibatnya, hal-hal pelanggaran seperti penyindiran, pemukulan, dan pelaporan kerap terjadi.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles