Kuala Lumpur, muisumut.or.id 30 Oktober 2024 – Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menyempatkan mengunjungi ikon kota Kuala Lumpur, sebelum bertolak ke Uzbekistan untuk mempelajari pendekatan negara jiran ini dalam menyambut wisatawan, khususnya di sektor wisata halal. Kunjungan ini mengajarkan pentingnya menjadi tuan rumah yang baik guna menciptakan iklim wisata halal yang nyaman dan profesional bagi semua pengunjung, baik yang Muslim maupun non-Muslim. Salah satu ikon yang menarik perhatian rombongan adalah Masjid Putrajaya, simbol keramahtamahan Malaysia dalam wisata halal.
Masjid Putrajaya telah menjadi destinasi wajib bagi para wisatawan yang datang ke Kuala Lumpur. Menariknya, masjid ini tidak hanya menarik bagi Muslim, tetapi juga banyak dikunjungi oleh wisatawan non-Muslim yang tertarik dengan keindahan arsitekturnya dan ingin mengenal lebih dekat budaya serta ajaran Islam. Untuk wisatawan non-Muslim, pengelola masjid menyediakan area khusus yang dapat dikunjungi tanpa mengganggu ibadah dan ritual keagamaan. Di area ini, pengunjung yang tidak menutup aurat juga disediakan pakaian khusus, sehingga tetap memenuhi etika ketika memasuki kawasan masjid. Selain itu, pengenalan singkat mengenai Islam dan tempat-tempat suci seperti Kabah dan Masjid Nabawi juga disajikan di area tersebut, menambah wawasan wisatawan sekaligus mempererat hubungan antarbudaya.

Kenyamanan pengunjung juga menjadi perhatian utama. Rombongan MUI Sumut mengakui kenyamanan yang dirasakan, bahkan dari hal-hal sederhana seperti area penyimpanan alas kaki yang bersih dan terorganisir dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan yang nyaman dan tertata dapat membuat wisatawan merasa dihargai serta meningkatkan minat untuk berkunjung kembali.


Jika kita menengok ke Kota Medan, sebenarnya terdapat beberapa masjid indah dan sarat sejarah yang memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata halal unggulan, seperti Masjid Raya Al Mashun, Masjid Osmani, dan Masjid Lama Gang Bengkok. Keunikan arsitektur dan nilai historisnya merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, agar masjid-masjid ini mampu menarik lebih banyak pengunjung, perlu adanya dukungan dari pemerintah. Dukungan ini bisa berupa kebijakan khusus untuk mendorong wisatawan mengunjungi beberapa destinasi wisata halal penting, seperti Istana Maimun dan bangunan bersejarah lainnya, sebagai bagian dari paket wisata.
Peran pemerintah dalam mengembangkan wisata halal sangatlah penting. Dengan kebijakan yang mendorong, bahkan “mewajibkan” wisatawan mengunjungi destinasi-destinasi wisata halal, seperti masjid bersejarah dan istana budaya, pemerintah dapat memastikan bahwa ikon-ikon ini mendapat perhatian dan kunjungan yang signifikan. Hal ini tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga memperkenalkan budaya dan nilai-nilai Islam kepada wisatawan dari berbagai latar belakang, dalam suasana yang ramah dan profesional.
Belajar dari kesuksesan Malaysia dalam membangun iklim wisata halal yang nyaman, Kota Medan memiliki peluang besar untuk mengikuti langkah tersebut, bahkan lebih karena Medan dan sekitarnya (misalnya Danau Toba) memiliki pesona wisata yang luar biasa “kepingan surga”. Dengan perencanaan yang matang, fasilitas yang mendukung, dan dukungan pemerintah, wisata halal di Medan dapat tumbuh pesat. Hal ini akan membantu membangun citra kota yang ramah, berbudaya, dan menjadi pusat wisata halal yang nyaman bagi semua wisatawan.






