Tuesday, February 17, 2026
spot_img

Berbelanja di Trading Domes, Mengingat Kuatnya Ekonomi Islam

Bukhara, Uzbekistan,muisumut.or.id, 2 November 2024 — Dalam rangkaian perjalanan mengunjungi situs-situs bersejarah di kota tua Bukhara, rombongan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) menyempatkan diri untuk merasakan atmosfer perdagangan di bazar kubah atau “trading domes” yang masih aktif hingga kini. Keberadaan kubah-kubah perdagangan ini menjadi pengingat akan kuatnya ekonomi Islam yang dulu mewarnai sejarah Jalur Sutra, sebuah jaringan perdagangan global yang menghubungkan Asia dengan Eropa.

Pada masa kejayaannya di abad pertengahan, Bukhara dikenal sebagai pusat perdagangan internasional yang sangat ramai. Pedagang dari berbagai negara, seperti Asia Tengah, Iran, India, Rusia, hingga Tiongkok, menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan dalam kegiatan bisnis mereka. Di sana, berbagai jenis produk dijajakan di sepanjang jalan utama kota, yang dipenuhi oleh area perbelanjaan dan karavanserai yang memfasilitasi para pedagang untuk beristirahat dan bertransaksi.

Bangunan berkubah atau “toki” yang masih berdiri hingga saat ini merupakan inovasi arsitektur pada masanya. Kubah-kubah ini didirikan di alun-alun dan persimpangan kota, menciptakan suasana yang nyaman untuk aktivitas jual beli, bahkan di musim panas. Struktur bangunan yang luas dengan lengkungan dan kanopi melindungi para pedagang dan pengunjung dari teriknya matahari. Sejarah mencatat bahwa konstruksi bangunan ini dimulai pada masa pemerintahan Abdullah-khan II lebih dari 400 tahun yang lalu, dan beberapa di antaranya masih digunakan sebagai pusat perdagangan hingga sekarang.

Adapun tiga kubah perdagangan utama yang bertahan di Bukhara saat ini adalah Toqi Zargaron, Toqi Sarrafon, dan Toqi Tilpak-Furushon. Selain ketiga kubah tersebut, terdapat juga Tim Abdulla Khan, sebuah bangunan berkubah besar yang berfungsi sebagai pusat penjualan sutra.

Toqi Zargaron: Pusat Perhiasan Bersejarah

Toqi Zargaron adalah kubah perdagangan paling utara dan terbesar di antara yang lainnya. Berdiri megah di pusat bersejarah Bukhara, Toqi Zargaron menjadi destinasi favorit rombongan MUI Sumut. Nama “Zargaron” berasal dari kata “Zargar,” yang berarti perhiasan, mengacu pada 36 bengkel dan toko perhiasan yang memenuhi area tersebut. Dibangun pada tahun 1569-1570, Toqi Zargaron menjadi saksi bisu kejayaan ekonomi Bukhara saat itu, yang baru saja dikukuhkan sebagai ibu kota wilayah.

Dengan lokasi strategisnya yang berada di persimpangan antara kompleks Poi Kalon di barat dan madrasah Ulugbeg serta Abdulaziz Khan di timur, Toqi Zargaron terus menarik pengunjung dari berbagai belahan dunia, termasuk rombongan MUI Sumut yang menikmati pengalaman berbelanja di tempat penuh sejarah ini. Atmosfer yang tercipta membawa kembali ingatan akan pertukaran barang dan budaya di masa lampau, yang menjadi jantung peradaban Islam dan kontribusi penting dalam ekonomi global.

Tim Abdulla Khan: Harmoni Arsitektur dan Kenyamanan

Sekitar 100 meter di selatan Toqi Zargaron, terdapat kubah perdagangan lain, Tim Abdulla Khan, yang dibangun pada tahun 1577. Bangunan ini memiliki ciri khas pencahayaan yang unik, dengan jendela-jendela kecil dan lubang-lubang di kubahnya, menciptakan suasana sejuk yang tetap nyaman meskipun berada di bawah panas matahari. Rombongan MUI Sumut menikmati suasana Tim Abdulla Khan yang hingga kini masih ramai dengan pedagang kain dan karpet, menampilkan kekayaan tekstil dari masa lalu yang tetap relevan di masa kini.

Kunjungan MUI Sumut ke bazar-bazar berkubah ini tidak hanya menjadi momen wisata sejarah, tetapi juga sebagai refleksi atas pentingnya peran Islam dalam perkembangan ekonomi global. Perjalanan ini menyadarkan kembali betapa Islam memberikan kontribusi besar dalam bidang perdagangan, di mana nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan keseimbangan menjadi prinsip utama dalam aktivitas bisnis di sepanjang Jalur Sutra.

Dengan melestarikan dan memahami warisan ini, masyarakat Muslim di era modern diharapkan dapat terus menginspirasi dan memperkuat perekonomian berbasis syariah yang mendukung kesejahteraan umat secara berkelanjutan. Rombongan MUI Sumut membawa pulang bukan hanya oleh-oleh khas Bukhara, tetapi juga semangat ekonomi Islam yang pernah memajukan peradaban di masa silam.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles