muisumut.or.id. Medan, 9 Agustus 2025 – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr. H. Anwar Abbas, M.M, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap berbagai faktor yang menyebabkan umat Islam di Indonesia menjadi lemah, khususnya dalam bidang ekonomi. Pesan ini disampaikan dalam Pengajian Akbar Milad ke-50 MUI yang digelar MUI Sumatera Utara di Aula Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sabtu (9/8/2025).
Menurut Buya Anwar, akhir-akhir ini terdapat kelompok sekuler radikal yang ingin menjauhkan agama dari kehidupan bernegara. “Mereka menginginkan negeri ini berjalan tidak sesuai konstitusi. Agama jangan dibawa-bawa dalam mengurus negara, dan mereka tidak mau kita berargumentasi dengan ajaran agama. Semua ingin diselesaikan hanya dengan rasio akal pikiran,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa meski umat Islam dulunya berjumlah 95 persen dari total penduduk, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 88 persen. Namun, yang menentukan kekuatan sebuah bangsa bukan hanya jumlah, melainkan penguasaan kapital ekonomi. “Ekonomi umat Islam saat ini lemah. Kita tidak memiliki mental entrepreneur, hanya mental pegawai. Padahal Nabi mengajarkan kita untuk berhijrah, termasuk berhijrah mental, dari mental pegawai menuju mental wirausaha,” ujarnya.
Mengutip pandangan pengusaha nasional almarhum Ciputra, Buya Anwar menjelaskan bahwa terbentuknya mental entrepreneur membutuhkan tiga pilar utama: orang tua, masyarakat, dan guru. Sayangnya, menurutnya, banyak orang tua pribumi yang tidak memiliki pola pikir kewirausahaan, masyarakat yang kurang mendukung, dan dunia pendidikan yang lebih fokus mencetak pekerja dibanding pembuat lapangan kerja.
Ia menilai peran pemerintah sangat penting dalam mengalokasikan sumber daya untuk mencetak wirausahawan baru. “Jika pemerintah dan kita semua tidak mengantisipasi, negeri ini tidak akan berada dalam kondisi aman. Tingginya pengangguran dan kemiskinan akan memicu meningkatnya kriminalitas,” tegasnya.
Buya Anwar juga menyoroti persoalan persatuan bangsa yang kian rapuh akibat kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat banyak, melainkan hanya menguntungkan segelintir orang. “Untuk itulah MUI harus berperan menyatukan umat, memperkuat ekonomi, dan menjaga nilai-nilai agama agar bangsa ini tetap berada di jalan yang benar,” pungkasnya.






