Bukhara, muisumut.or.id, 1 November 2024 — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara (Sumut) melanjutkan perjalanan ziarah spiritual mereka ke Chashma Ayub Mausoleum di kota bersejarah Bukhara, Uzbekistan, setelah sebelumnya mengunjungi Makam Samanid. Delegasi ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak yang bersama-sama delegasi lainnya mengunjungi salah satu situs paling sakral dalam tradisi Islam, yang diyakini sebagai tempat Sumur Nabi Ayub.
Sumur ini diyakini sebagai titik di mana Nabi Ayub AS, setelah menghadapi berbagai cobaan hidup, dengan izin Allah SWT, menghentakkan kaki atau tongkatnya ke tanah, dan dari sana memancar mata air yang membawa kesembuhan. Kisah ini menggambarkan ketabahan dan kesabaran Nabi Ayub yang menghadapi ujian berat, dan tetap berserah diri kepada Allah SWT. Ziarah ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik, namun juga kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk memperkuat keimanan dan menggali nilai-nilai keteladanan yang diwariskan oleh para nabi dan ulama terdahulu.
Bukhara: Kota Bersejarah dan Pusat Spiritualitas Islam
Bukhara adalah salah satu kota tertua di dunia, yang selama berabad-abad telah menjadi pusat politik, administrasi, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama di Asia Tengah. Kota ini dipenuhi dengan monumen bersejarah yang masih berdiri megah hingga saat ini, menarik ribuan wisatawan dan peziarah dari seluruh penjuru dunia. Salah satu tempat ziarah utama di Bukhara adalah Chashma Ayub Mausoleum, yang menjadi daya tarik khusus bagi delegasi MUI Sumut.
Di dalam bangunan Chashma Ayub, terdapat sebuah sumur yang telah ada sejak zaman kuno dan hingga kini diyakini oleh banyak orang sebagai Sumur Nabi Ayub. Mata air ini dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan, mencerminkan keajaiban dari kisah Nabi Ayub AS. Dalam bangunan tersebut, terdapat tiga keran air yang dapat diambil oleh para pengunjung, di mana air tersebut sering dijadikan sebagai simbol berkah dan diyakini memiliki manfaat untuk kesehatan.


Melihat Sejarah Arsitektur Chashma Ayub Mausoleum
Chashma Ayub Mausoleum bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi saksi sejarah perkembangan arsitektur di Asia Tengah. Makam ini dibangun dalam tiga era yang berbeda. Bagian pertama dari bangunan ini, dikenal sebagai “gurkhana,” dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Arslankhan dari Dinasti Karakhanid. Pada masa itu, Arslankhan memerintahkan pembangunan struktur yang megah di atas makam yang sebelumnya sederhana.
Bagian kedua dari makam ini dibangun pada masa Sultan Movarounnahr dan Khurasan Amir Temur. Pada era Amir Temur, bangunan ini diperindah dan diperkokoh dengan ciri khas arsitektur Islam Asia Tengah. Sementara itu, bagian ketiga dari makam ini disempurnakan pada abad ke-16 selama pemerintahan Dinasti Sheibanid. Chashma Ayub Mausoleum saat ini berdiri sebagai saksi arsitektur megah yang menunjukkan kemajuan peradaban dan seni Islam di wilayah ini.
Mengenal Sejarah Laut Aral dan Sistem Pengairan Kuno di Bukhara
Selama kunjungan, delegasi MUI Sumut juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sejarah sistem pengairan kuno yang menjadi bagian dari pengelolaan air di daerah ini. Bukhara, yang terletak di wilayah gurun, memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan sumber daya air yang terbatas. Di dalam Chashma Ayub Mausoleum, terdapat museum yang menjelaskan tentang pengelolaan air di wilayah tersebut dan sejarah Laut Aral. Laut Aral dahulu adalah salah satu danau terbesar di dunia, namun sejak tahun 1960-an, danau ini mengalami penyusutan drastis akibat proyek irigasi besar-besaran oleh Uni Soviet.


Proyek ini telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, terutama bagi komunitas lokal yang hidup di sekitar Laut Aral. Saat ini, upaya pemulihan hanya terfokus pada bagian utara danau tersebut, sementara bagian selatan masih menghadapi ancaman kerusakan. Melalui museum ini, delegasi MUI Sumut belajar bagaimana Bukhara, dengan keterbatasan sumber daya alam, berhasil mengelola air secara efisien dan menjaga keberlanjutan ekosistemnya.
Doa Bersama di Makam Guru Imam Bukhari
Selain berziarah ke Chashma Ayub Mausoleum, delegasi MUI Sumut juga menyempatkan diri untuk berdoa di makam salah satu ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu guru dari Imam Bukhari. Imam Bukhari adalah tokoh penting dalam penyusunan kitab hadits yang menjadi rujukan utama dalam ajaran Islam. Berdoa di makam ini menjadi momen yang penuh khidmat bagi delegasi, yang merasakan kehadiran spiritual dari sosok yang telah berkontribusi besar terhadap penyebaran dan pemahaman hadits di dunia Islam.
Di sela-sela kunjungan, Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, LC, MA, memimpin doa bersama di depan makam guru Imam Bukhari. Doa ini diharapkan menjadi simbol keteguhan hati umat Islam, mengingatkan pada ketabahan Nabi Ayub yang selalu berserah diri kepada Allah SWT. Dr. Ardiansyah juga menyampaikan bahwa keteladanan para nabi dan ulama, seperti Nabi Ayub dan Imam Bukhari, menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk senantiasa menguatkan iman dan menjaga kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup.

Warisan Nilai Spiritual dan Kebudayaan Islam
Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk mendalami warisan nilai spiritual dan kebudayaan Islam yang kaya akan pelajaran hidup dan hikmah. Melalui kisah-kisah para nabi dan ulama terdahulu, umat Islam diharapkan dapat mengambil teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seperti halnya Nabi Ayub yang menunjukkan kesabaran luar biasa, umat Islam juga diajak untuk selalu bersyukur dan ikhlas dalam menghadapi segala bentuk ujian.
Kunjungan ke Chashma Ayub Mausoleum ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian ziarah spiritual delegasi MUI Sumut di Uzbekistan. Dengan pengalaman ini, delegasi MUI Sumut berkomitmen untuk terus menjaga dan menghormati warisan budaya serta spiritual Islam. Melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap kisah-kisah ini, umat Islam diharapkan semakin kuat dalam memelihara keimanan dan memperkokoh identitasnya sebagai bagian dari komunitas global yang menghormati nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para nabi dan ulama.






