Bukhara, muisumut.or.id., 1 November 2024 — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berkesempatan melaksanakan ziarah ke Makam Samanid di Bukhara, Uzbekistan. Monumen bersejarah ini berasal dari masa kejayaan Dinasti Samanid, dan ziarah ini menjadi bagian dari kunjungan budaya dan sejarah untuk mengeksplorasi warisan Islam yang mempengaruhi Asia Tengah, khususnya di kota Bukhara yang dikenal sebagai “Kota Para Wali.”
Sebagai pusat peradaban Islam di masa Dinasti Samanid, Bukhara menyimpan banyak peninggalan berharga. Kota ini menawarkan suasana yang lebih sederhana dibandingkan Samarkand atau Tashkent, dengan kolam-kolam kuno yang dahulu dibangun untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat yang hidup di tengah padang pasir.

Kekaguman pada Makam Samanid, Ikon Arsitektur Islam Kuno
Di pusat ziarah ini, delegasi MUI Sumut mengunjungi Makam Samanid yang terletak di bagian barat laut Bukhara. Makam yang dibangun pada abad ke-10 ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi keluarga Dinasti Samanid, termasuk tokoh penting Nasr II. Makam ini merupakan contoh ikonik arsitektur Islam awal dan menjadi bangunan pemakaman tertua dalam sejarah arsitektur Asia Tengah.
Struktur makam yang terbuat dari bata bakar memiliki kubah besar di tengah serta empat kubah kecil di setiap sudutnya. Keunikan makam ini terletak pada dindingnya yang setebal 1,8 meter serta desain simetris yang menciptakan tampilan identik di setiap sisinya, sebuah pendekatan yang disebut komposisi sentrik dalam seni arsitektur Asia Tengah. Selain itu, teknik susunan bata yang digunakan menghasilkan pola geometris yang berubah sesuai arah cahaya matahari, menciptakan efek artistik berbeda sepanjang hari dan lebih memukau di bawah sinar bulan.

Warisan Abadi di Kota Para Wali
Bukhara juga dikenal sebagai kota suci, tempat terdapatnya tujuh makam sufi besar yang menjadikannya pusat spiritualitas bagi umat Islam. Keberadaan Makam Samanid tetap lestari, bahkan saat invasi Genghis Khan, karena area makam ini tersamarkan oleh pemakaman lain di sekitarnya. Pada tahun 1993, Makam Samanid diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menegaskan nilainya sebagai warisan budaya dan spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam kesempatan ziarah tersebut, delegasi MUI Sumut turut melaksanakan doa bersama di area makam yang dipimpin oleh K.H. Akhyar Nasution. Doa ini dipanjatkan untuk mendoakan keberkahan, kekuatan iman, dan keteguhan umat Islam dalam menjaga warisan budaya dan spiritual Islam. Kehadiran delegasi MUI Sumut di Bukhara ini sekaligus menginspirasi umat Islam di Sumatera Utara akan pentingnya menghormati peninggalan sejarah dan menghidupkan nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para pendahulu.






