Kholid Jamhuri Harahap, mahasiswa MUI SUMUT utusan MUI Tapanuli Selatan.
Nama saya Kholid Jamhuri Harahap, saya lahir di Desa Nanggar Jati Huta Padang, pada 1 November 2002. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan almarhum Bapak Lapangan Harahap dan Ibu Nur Kholilan Siregar. Di kampung, saya sering dipanggil dengan nama Jamhuri, sedangkan di kampus saya dipanggil dengan nama depan saya, Kholid. Saya berasal dari keluarga sederhana; ayah saya seorang guru ngaji di kampung, dan ibu saya seorang petani. Sejak kecil, saya selalu dinasihati oleh ayah saya untuk selalu beribadah, jujur, dan baik terhadap sesama.
Ketika saya berumur enam tahun, saya memulai pendidikan di TK Hanopan Desa Aek Haminjon dari tahun 2008-2009. Setelah lulus, saya melanjutkan pendidikan ke SDN 100409 Huta Padang, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, dari tahun 2009-2015. Kemudian, saya melanjutkan sekolah ke Pesantren Modern Mangaraja Panusunan Achir Hasibuan Gunung Tua Pargarutan dari tahun 2015-2018, dan selanjutnya ke Pesantren Zakiyun Najah Sei Rampah dari tahun 2018-2021. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan S1 di Pendidikan Tinggi Kader Ulama Provinsi Sumatera Utara (PTKU SU) dari tahun 2021-2024.
Waktu saya masih duduk di bangku SD, almarhum ayah saya berpesan, “Bersungguh-sungguhlah dalam belajar karena penyesalan selalu datang di akhir, Nak.” Kata-kata itulah yang selalu saya ingat ketika saya mulai goyah dalam belajar. Ketika ayah saya meninggal saat saya duduk di bangku Tsanawiyah kelas VIII, dunia ini terasa hampa. Hampir setiap hari saya menangis dan menganggap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk saat tidur. Melihat kondisi saya yang uring-uringan seperti itu, kakak saya menasihati saya dan berkata, “Kita semua merasa kehilangan, tapi jika bersedih terus, maka tidak akan mengubah apapun juga karena semua ini ketetapan Allah.” Mulai dari situ, saya perlahan bangkit dan mulai menjalani kehidupan seperti biasa. Walaupun terasa berat pada awalnya, perlahan tapi pasti, akhirnya saya dapat menerima kepergian ayah saya untuk selamanya.
Dengan perjalanan yang tidak mudah dan penuh tantangan untuk sampai di titik ini, mengingat saya adalah anak laki-laki sematawayang kedua orang tua saya yang harus bertanggung jawab atas keluarga saya semenjak ayah saya meningeal, ibu, kakak dan adik saya menaruh harapan besar kepada saya agar saya menjadi orang yang sukses. Setiap saya hendak pulang kampung dari kampung ke medan ibu saya selalu berpesan “selalu niatkan untuk menuntut ilmu jangan pernah ubah niat mu dan jangan tinggalkan sholat, perkara mau jadi apa kita di masa depan itu urusan Allah Swt.” Kata-kata itulah yang selalu mendongkrak semangat saya Kembali Ketika saya sedang malas dalam belajar. Dan saya berpesan kepada seluh pembaca tetaplah bersyukur sesulit apapun kehidupan yang kita hadapi dan jalani, karna waktu itu cepat berlau dan berubah. Kesuksesan hanya datang kepada orang yang berusa dan bekerja keras bukan kepada orang yang duduk diam dan bermalas-malasan.






