Tuesday, March 10, 2026
spot_img

Dr. Faridah Yafizham Jelaskan Adab Berbicara Saat Berpuasa dalam Pengajian KPRK MUI Sumut

Medan, muisumut.or.id | Senin, 9 Maret 2026
Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara kembali menggelar pengajian Ramadan yang disiarkan melalui Studio Podcast MUI Sumut, Senin (9/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Hj. Faridah Yafizham dengan tema “Adab Berbicara Ketika Berpuasa.”

Pengajian yang dilaksanakan pada 19 Ramadan 1447 H tersebut dipandu oleh host Dra. Hj. Nasrillah dan diikuti oleh pengurus serta anggota KPRK dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara melalui siaran daring.

Dalam pengantarnya, Nasrillah menyampaikan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu, pembahasan tentang adab berbicara menjadi penting agar umat Islam dapat menjaga lisan selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Faridah Yafizham menjelaskan bahwa ibadah dalam Islam sangat erat kaitannya dengan bahasa. Banyak bentuk ibadah yang dilakukan melalui ungkapan lisan, seperti membaca dua kalimat syahadat, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta berbagai bentuk dzikir lainnya.

Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman dengan tujuan agar mereka mencapai derajat ketakwaan.

Menurutnya, ketakwaan tidak dapat diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan spiritual yang konsisten, termasuk menjaga perkataan dan perilaku selama menjalankan ibadah puasa.

“Puasa adalah ibadah yang istimewa karena Allah sendiri yang menilai dan memberikan balasannya. Oleh karena itu, menjaga lisan menjadi bagian penting dari upaya meraih ketakwaan,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Faridah menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan berbagai pedoman tentang cara berbicara yang baik. Salah satunya adalah qaulan sadidan, yaitu perkataan yang benar dan jujur sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 70.

Ia mencontohkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari seseorang sering kali tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kebenaran, bahkan dalam situasi yang tampak sederhana. Oleh karena itu, kejujuran dalam berbicara harus menjadi kebiasaan yang dijaga oleh setiap Muslim.

Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan konsep qaulan ma’rufa, yakni perkataan yang baik dan pantas disampaikan kepada orang lain. Menurutnya, perkataan yang baik dapat menjadi sarana untuk menenangkan hati, memberikan nasihat, serta mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.

Dr. Faridah juga menjelaskan konsep qaulan layyinan, yaitu perkataan yang disampaikan dengan lemah lembut. Prinsip ini dicontohkan dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan Allah untuk berdakwah kepada Fir’aun dengan cara yang lembut.

“Berbicara dengan lemah lembut bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan kebijaksanaan dalam menyampaikan pesan agar dapat diterima oleh orang lain,” jelasnya.

Selanjutnya ia menjelaskan konsep qaulan kariman, yakni perkataan yang mulia, khususnya ketika berbicara kepada orang tua. Dalam hal ini ia mengutip QS. Al-Isra ayat 23 yang menegaskan larangan berkata kasar kepada orang tua, bahkan hanya sekadar mengucapkan kata yang menunjukkan kejengkelan.

Menurutnya, menjaga adab berbicara kepada orang tua merupakan bentuk penghormatan yang sangat ditekankan dalam Islam.

Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan beberapa bentuk komunikasi lainnya, seperti qaulan maisura (perkataan yang pantas), qaulan baligha (perkataan yang membekas dan menyentuh hati), qaulan tsaqila (perkataan yang berbobot), serta qaulan ahsana (perkataan terbaik yang mendorong kepada kebaikan).

Dr. Faridah menegaskan bahwa seluruh konsep tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya etika komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, menurutnya Al-Qur’an lebih banyak memerintahkan manusia untuk menggunakan perkataan yang baik dibandingkan memperingatkan tentang perkataan yang buruk.

“Jika kita perhatikan, sebagian besar ayat Al-Qur’an mengajarkan bagaimana berkata baik, lembut, benar, dan mulia. Artinya, Islam menuntun kita untuk lebih banyak menggunakan kata-kata yang membawa kebaikan,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa salah satu bentuk perkataan yang sangat dilarang adalah ucapan yang mengandung fitnah atau tuduhan tanpa dasar, karena dapat merusak kehormatan seseorang dan menimbulkan dosa besar.

Di akhir penyampaiannya, Dr. Faridah mengajak umat Islam untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum latihan untuk menjaga lisan, membiasakan perkataan yang baik, serta menghindari ucapan yang dapat menyakiti orang lain.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles