muisumut.or.id., Medan, 4 Muharram 1447 H/30 Juni 2025, Fenomena hijrah belakangan ini tumbuh subur di tengah masyarakat. Dari kalangan pemuda hingga publik figur, semangat untuk kembali kepada ajaran Islam mulai menggeliat. Tanda-tanda hijrah pun tampak nyata: mulai dari perubahan penampilan, pola pikir, hingga munculnya gairah untuk menyampaikan kebaikan. Namun, muncul pula fenomena baru—orang-orang yang belum lama berhijrah tiba-tiba menjadi pendakwah publik, baik secara langsung maupun lewat media sosial.
Bagaimana kita menyikapinya? Apakah semangat itu cukup untuk berdakwah? Bagaimana posisi ilmu dalam proses transformasi spiritual ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini kami ajukan kepada Prof. Dr. H. Mohd Hatta, Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, yang juga merupakan Ketua Baznas Sumatera Utara, seorang akademisi dan ulama yang telah puluhan tahun menggeluti dunia dakwah dan pendidikan Islam.
Hijrah: Sebuah Awal, Bukan Akhir
Bagi Prof. Hatta, hijrah adalah momentum yang sangat berharga. Ia menyebutkan bahwa semangat hijrah di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk artis dan selebritas, merupakan pertanda baik bagi kehidupan beragama.
“Hijrah itu proses panjang, bukan sekadar perubahan penampilan. Ia harus diikuti dengan belajar, muhasabah, dan istiqamah,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa hijrah harus diarahkan kepada kedalaman iman, bukan hanya impresi luar.
Publik Figur Hijrah, Langsung Berdakwah?
Dalam pengamatan MUI, banyak artis atau publik figur yang setelah hijrah merasa terdorong untuk langsung menyampaikan nasihat agama, bahkan ceramah. Beberapa memang memiliki niat baik dan pengaruh besar, namun tak sedikit pula yang tergelincir karena kurangnya bekal ilmu.
“Semangat itu penting, tapi tidak cukup. Dakwah itu ibadah yang berat. Ia menuntut ilmu, akhlak, dan keikhlasan,” ujar Prof. Hatta tegas. Ia mencontohkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menerima wahyu dan bimbingan selama bertahun-tahun sebelum aktif menyampaikan risalah ke tengah masyarakat.
MUI sendiri tidak melarang siapa pun untuk menyampaikan kebaikan. Namun, ia menekankan pentingnya ada proses pembinaan dan pengawasan. “Kami khawatir, jika yang disampaikan tidak tepat, akan terjadi misinformasi agama. Akibatnya, umat bisa bingung atau bahkan salah paham.”
Popularitas Bukan Jaminan Kebenaran
Menurut Prof. Hatta, di era digital ini, jumlah pengikut dan penonton sering dijadikan tolok ukur keberhasilan dakwah. Padahal dalam Islam, keberhasilan dakwah tidak diukur dari viralitas, tetapi dari ketepatan isi dan keikhlasan niat.
“Jangan sampai popularitas mengalahkan urgensi ilmu. Rasulullah berdakwah bukan karena ia terkenal, tetapi karena ia membawa kebenaran,” tutur beliau.
Ia mengingatkan bahwa pendakwah adalah perpanjangan lisan Nabi. Maka, setiap kata yang diucapkan harus melewati pertimbangan ilmu dan akhlak. Ia mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima konten keagamaan dan tidak menjadikan status publik figur sebagai legitimasi kebenaran.
Peran MUI: Membina dan Mendampingi
MUI Sumatera Utara melalui Bidang Dakwah memiliki program khusus untuk membina calon-calon dai dan para muallaf hijrah yang ingin aktif berdakwah. “Kami tidak ingin mematikan semangat. Justru kami ingin membimbing agar semangat itu terarah,” katanya.
MUI juga mendorong para publik figur yang berhijrah untuk ikut serta dalam pelatihan dakwah, kajian mendalam, dan berguru kepada ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. “Kalau sudah siap, mereka bisa menjadi pendakwah yang bukan hanya menarik, tetapi juga mendidik,” tambahnya.
Dakwah adalah Amanah
Menutup perbincangan, Prof. Hatta menyampaikan pesan yang menyentuh: “Dakwah itu bukan profesi untuk tenar. Ia adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Kalau belum siap, lebih baik perkuat diri dulu dengan ilmu dan akhlak. Jika nanti berdakwah, maka dakwahlah dengan hati yang bersih dan tujuan yang ikhlas.”
Semangat hijrah adalah awal yang mulia, tetapi setiap awal butuh arah. Dan arah itu hanya bisa dicapai jika semangat dibimbing oleh ilmu, akhlak, dan bimbingan para ulama.






