Monday, February 2, 2026
spot_img

KEISTIMEWAAN LAILATUL QADAR DAN UPAYA MENDAPATKANNYA

Oleh  :  H. Ahmad Fuad Said.*

PENGERTIAN.

Lailatul” artinya “malam”  dan “Qadar “ artinya “ nilai” , “mulia”,”ketentuan” dan “sempit”.

Dinamakan dengan “malam bernilai” atau “mulia”, kerena pada malam itu  diturunkan  Al-Qur’an  yang nilainya  cukup tinggi,  dan amal ibadah orang malam itu lebih baik dari pada 1000 bulan atau 83 tahun  empat bulan, sebagaimana  firman Allah  pada surah Al-Qadar ayat  1-5:

إنَّآ أنْزََلْنَاهُ فِىلَيْلَةِالْقَدْرِ. وَمَآ أدْراَكَ ماَ لَيْلَةُالْقَدْرِ. لَيْلَةُالْقَدْرِ خَيْرٌمِنْ ألْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَ ئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرِ, سلاَمٌ هِيَ حَتّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ. (القدر1-5

Maksudnya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Qur’an) pada kamu pada malam kemuliaan . Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu  lebih baik  dari seribu bulan. Pada malam itu turum Malaikat-malaikat  dan Jibril  dengan izin Tuhan mereka  untuk mengatur  segala urusan  Malam itu (penuh) kesejahteraan, sampai tebit  (fajar).

Berdasarkan  ayat-ayat tersebut, malam itu mengandung tiga macam kelebihan yaitu:

  1. Beramal ibadah  pada malam itu lebih baik daripada beramal ibadah  seribu bulan atau 83 tahun empat bulan.
  2. Malaikat-malaikat turun kemuka bumi, mengucapkan salam kesejahteraan  kepada orang-orang yang beriman.
  3. Malam itu penuh  dengan kesejahteraan  sampai terbit fajar.

Dinamakan juga malam itu dengan “Malam Ketentuan” , karena pada malam itu  Allah  menyerahkan  4 buah  daftar urusan  pentadbiran  alam  semesta kepada  4 pemuka  malaikat, yaitu:

  1. Daftar rahmat  dan azab kepada Jibril
  2. Daftar tumbuh-tumbuhan dan rezeki  kepada Mikail.
  3. Daftar  hujan, angin dan bencana  alam kepada Israfil.
  4. Daftar ajal, memuat nama-nama orang  yang akan dicabut  nyawanya  dari Ramadhan  ini sampai ke Ramadhan yang akan datang, kepada  Izrail atau Malaikal Maut.

Pengaturan  urusan  pentadbiran  alam semesta itu, dilakukan sesuai  dengan firman Allah  surah Ad-Dhukhan 4.

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ (الدخان. ٤)

Maksudnya: Pada malam  itu dijelaskan segala urusan  yang penuh hikmah.

Dilakukan pengaturan alam semesta setiap malam Qadar itu,  bukan berarti  bahwa Allah  itu, belum menentukan keadaan  alam kita ini, malahan  sebaliknya, sebelum alam ini ada, Allah telah menentukan segala sesuatunya pada Ilmu-Nya. Pada malam itu hanya merupakan penentuan  yang lebih terperinci  kepada malaikat-malaikat yang harus dilaksanakan mereka  dalam tahun itu.

“Qadar” juga berarti  “sempit”. Dinamakan demikian karena pada malam itu bumi kita ini penuh sesak atau sempit dengan  para malikat.

Turun malikat kemuka bumi pada malam itu, adalah  untuk memberikan ucapan selamat dan memintakan ampun segala dosa-dosa manusia  yang beriman. Hal ini dilakukan mereka, mengingat mereka pernah menuduh manusia itu adalah menumpahkan darah dan membikin keonaran dimuka bumi, ketika Allah  menyatakan kepada mereka bahwa Dia  akan mengangkat Nabi Adam  menjadi  khalifah  di muka bumi. Pada waktu  itu  mereka mengatakan  (firman Allah  surah  Al-Baqarah 30)

Mengapa Engkau hendak  menjadikan Khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kebinasaan  padanya dan menumpahkan  darah, pada hal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? “Tuhan  berfirman : Sesungguhnya  Aku mengetahui  apa yang tidak kamu ketahui.”

Menurut Imam Fakhrur Razi, apabila terbit fajar  malam Lailatul Qadar, Jibril  berseru, ‘Hai malaikat-malaikat, berangkat, berangkatlah! Mereka menjawab dalam bentuk  pertanyaan, “Apa yang telah  dilakukan  Allah kepada orang orang mukmin  pada malam ini?” Jibril menjawab: “ Sesungguhnya Allah  memandang  mereka  dengan penuh rahmat dan kasih sayang  serta mengampuni segala  kesalahan mereka, kecuali  4 orang, yaitu peminum arak, mendurhakai ibu bapa, memutuskan silaturrahim  dan  bereseteru sesama Muslim lewat tiga hari.”

SEBAB TURUN AYAT TERSEBUT

Menurut  Sunnaniah   yang dikutip  Durratun Nashihin  bahwa sebab turun  ayat-ayat  tersebut  adalah: “tatkala masa kewafatan  Nabi  telah  semakin  mendekat, beliau  merasa sedih  dan menangis, akan  berpisah  dengan umatnya.”

Beliau  bersabda, “’  Apabila  saya telah  meninggal  dunia, maka siapa  lagi yang akan  menyampaikan  salam Allah kepada umatku?”

Maka  Allah menurunkan Al-Qodar itu, untuk menghibur  atau membesarkan  hati Nabi  dengan  dinyatakan-Nya malaikat  turun  ke bumi  untu k menyampaikan salam  Allah dimaksud.

Menurut Imam Ibnu Abbas, sebab  turunnya surah Al-Qadar  itu  adalah  sebagai  berikut:

Jibril  menerangkan kepada Nabi  kita  tentang  seorang hamba Allah  di kalangan Bani Israil, bernama Syam’un  Al-Ghazi yang memerangi  orang-orang kafir  selama 1000 bulan dengan hanya bersenjatakan jenggot unta. Apabila senjata itu dipukulkannya, maka akan jatuh  korban  dalam jumlah yang tidak sedikit. Jika dia lapar atau haus, maka memancar air dan  tumbuh  daging  di celah celah  giginya. Itulah makanan  dan minumannya. Demikianlah halnya  sampai  berusia  seribu bulan. Orang  kafir tidak berdaya  melawannya.

Mereka  bujuk  istrinya  yang masih kafir, untuk membuhnya dengan perjanjian, ia akan diberi hadiah  harta benda yang banyak. Pada mulanya ia menolak, kerena tiada tahu bagaimana cara yang akan dilakukan. Tetapi setelah mereka mengajari supaya pembunuhan itu dilakukan  setelah  suaminya  diikat  kaki dan tangannya  dengan seutas tali  yang mereka berikan, ketika ia sedang tidur, barulah ia menyetujuinya.

Tatkala usaha pembunuhan itu dilakukannya, Syam’un terbangun, seraya bertanya, siapa yang mengikatku  ini?”

Istrinya menjawab,” Saya untuk mencoba dan mengujimu.”

Syam’un merenggutkan tali itu, lalu putus

Pada waktu  yang  lain, sesuai dengan petunjuk  orang-orang kafir,  maka istrinya mengikat Syam’un pula dengan rantai besi ketika ia sedang  tidur. Dan ketika Syam’un terbangun, ia bertanya pula “Siapa  yang mengikatku ini  dan untuk maksud apa?”

Saya sendiri, dengan maksud untuk mengujimu,” jawab sang  istri.

Rantai besi itu  pun direnggutkannya lalu putus. Syam’un  menerangkan bahwa ia adalah seorang wali Allah. Tiada seorang pun dapat mengalahkan aku, selain rambutku ini,” ujarnya.

Syam’un  mempunyai rambut yang panjang  sampai kekakinya.

Beberapa waktu kemudian, ketika ia sedang tidur, istrinya menggunting rambutnya  yang panjang itu. Empat kecak diikatkannya  kepada kedua kaki Syam’un  dan  empat  kecak lagi  diikatkannya  kepada kedua  tangannya.

Syam’un  terbangun seraya bertanya pula seperti semula, dijawab sang istri   dengan tegas bahwa yang melakukannya adalah dia sendiri dengan maksud mengujinya. Syam’un mencoba merenggutkannya, tetapi  tiada mampu, karena sumber kekuatannya  terletak pada rambutnya.

Setelah sang istri melaporkannnya kepada orang–orang kafir, mereka pun menangkapnya, menyeret ketempat penyembelihan dan mengikatnya kesebatang tiang. Kemudian mereka menyiksanya dengan memotong  kuping, lidah, bibir, kaki  dan tangannya, dan mencungkil matanya.

Pada saat penyiksaan itu  dilakukan, Allah  memberi petunjuk  kepadanya, bahwa segala keinginannya akan dikabulkan-Nya.

Syam’un mohon supaya diberi kekuatan untuk menumbangkan tiang itu, dan menimpa mereka sehingga semuanya tewas menjadi korban. Allah memperkenankan permintaannya, maka dengan sekejab saja, tiang itu tumbang menimpa mereka, termasuk istrinya ikut menjadi korban.

Dengan izin Allah keadaan tubuh Syam’un dipulihkan kembali  seperti  sediakala. Sesudah peristiwa itu ia terus mengabdikan diri kepada Allah SWT selama 1000 bulan atau  83 tahun  empat bulan, siang puasa, malam beribadah. Dan terus menerus melancarkan perang fi sabilillah.

Tatkala Rasulullah saw. menerangkan riwayat itu, para sahabat terharu mendengarnya dan ada yang menangis, seraya bertanya , “Tahukah  Rasulullah Saw, berapa besar pahalanya?”

Rasulullah Saw menjawab, “Tidak tahu”.

Maka Jibril pun turun menyampaikan wahyu  surah Al-Qadar, seraya menyatakan, “Kuberi engkau dan umatmu Lailatul Qadar,  ibadah pada malam itu lebih baik dari 1000 bulan.”

Sebagian  ulama menyatakan bahwa Allah SWT berfirman :”Hai Mahammad, dua rakaat shalat pada malam (Lailatul) Qadar lebih baik bagimu dan bagi umatmu dari  berperang dengan pedang  fi sabilillah  seribu bulan pada masa kaum Bani Israil itu.”

WAKTU TERJADINYA  LAILATUL QADAR

Terdapat perselisihan  pendapat  di kalangan  para ulama tentang saat dan waktu  terjadinya  Lailatul Qadar itu.

Sebagian kalangan  berpendapat,  Lailatul Qadar  itu hanya terdapat pada masa Rasulullah Saw saja. Tetapi sebagian basar para ulama  menyatakan  Lailatul Qadar itu  terdapat pada  puluhan  terakhir dari bulan Ramadhan setiap tahun, meskipun sesudah Nabi Saw wafat. Pendapat  inilah yang muktamad.

Tentang  tanggal  pasti jatuhnya malam Lailatul Qadar itu berbeda pula pendapat para ulama. Ada yang mengatakan  tanggal 1 Ramadhan , tanggal 17 Ramadhan,  akan tetapi pendapat  terbanyak  dan terkuat adalah  malam  ganjil  sesudah  tanggal 20, 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan. Umumnya  para Sahabat dan sebagian besar ulama menyatakan  tanggal 27 Ramadhan. Yazid Busthami menegaskan bahwa ia telah menemui malam (lailatul ) Qadar dua kali seumur hidupnya, keduanya pada malam  27 Ramadhan.

Dalam Haqiqul Hanafi dinyatakan  hahwa huruf “Lailatul Qadar” (  لَيْلَةُ الْقَدْرِ ) itu 9. sedangkan  Allah SWT menyebutkan  kata-kata “Lailatul Qadar” itu dalam Al-Qur’an  sebanyak tiga kali, dalam surat  Al-Qadar. Maka  malam Lailatul Qadar itu  jatuh pada  malam 9 x 3 = 27 Ramadhan.

Imam Ibnu Abbas memperkuat pendapat tersebut, dengan alasan  kata-kata “hiya”    (هِيَ ) dalam  surah Al-Qdar itu artinya”dia”  (malam lailatul)Qadar, jatuh  pada urutan  kata-kata yang ke 27 dari  pangkal surah.

Imam Syafi’i  lebih cendrung kepada malam  21 atau 23  Ramadhan.

Para ahli tasawuf berpendapat,  malam (Lailatul) Qadar itu berdasarkan kepada awal Ramadhan. Apabila awal Ramadhan hari Jum’at atau Senin, maka menurut mereka Lailatul Qadar  jatuh pada malam  29 Ramadhan. Kalau awal Ramadhan  hari  Sabtu, maka Lailatul Qadar  jatuh pada malam 21. Kalau awal Ramadhan hari Ahad  dan Rabu, maka  Lailatul Qadar  jatuh pada malam 27.

Kalau awal Ramadhan hari Selasa, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25. Kalau  awal Ramadhan hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21.

Hadis-hadist  yang menerangkan  tentang  Lailatul Qadar  itu menurut Tafsir Khazin lebih dari 22 hadits.

Adapun hikmah dirahasiakannya tanggal  itu, adalah untuk mendorong  dan menggairahkan  orang supaya berusaha agar mencarinya dengan meningkatkan amal ibadah pada malam  puluhan terakhir  Ramadhan.

AMALAN-AMALAN

Aisyah  pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, apakah yang harus diperbuat, kalau  dia mendapat  malam (Lailatul) Qadar. Rasulullah Saw menganjurkan  supaya  banyak-banyak  membaca:

الَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى.

Maksudnya:”O, Tuhan, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau  senang memafkan; maka maafkanlah saya !.

Sebuah  hadits  yang diriwayatkan  Ibnu Abbas, dalam  Tafsir Al-Hanafi, menyatakan bahwa Rasulullah Saw, bersabda, yang maksudnya: “Barang siapa  shalat dua rakaat pada malam (Lailatul) Qadar, dibacanya pada setiap rakaat sesudah Al-fatihah, 7 (tujuh) kali surah Al-Ikhlas  (Qul Huwallaahu Ahad). Dan sesudah  salam dibacanya  pula

إسْتَعْفِرُاللهَ وَأتُوْبُ إلَيْهِ.

sebanyak  70 kali, maka  sebelum  bangkit dari tempat duduknya, Allah SWT  telah  mengampuni dosanya  dan dosa kedua ibu bapaknya. Dan Allah SWT  mengutus  malaikat ke surga untuk menanam  pohon-pohon, membangun  gedung megah, mengalirkan air sungai untuknya. Dia  tiada akan  meninggalkan  dunia  ini, sampai semua kesenangan itu dilihatnya.”

            Rasulullah Saw menurut hadis sahih Bukhari bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَالْقَدْرِِ إيْمَانًا وَاحْـتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Maksudnya :”Barang siapa  beramal ibadah  pada malam (Lailatul) Qadar, dengan  sungguh-sungguh beriman  dan ikhlas karena Allah, niscaya diampuni Allah dosanya  yang terdahulu.

Hadits tersebut  antara lain  terdapat dalam kitab Al-Jami’us Shaghir  halaman 311

ARTI RUH

Dalam Surah Al-Qadar dinyatakan :

تَنَزَّلُ لْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ.

Maksudnya:” Pada malam itu  turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhan  mereka untuk mengatur segala urusan.

           Ahli –ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna  kata-kata  “ruh”  yang terdapat pada ayat itu. Menurut kebanyakan ahli tafsir, maksudnya adalah Jibril.

            Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa “ruh”  itu maksudnya  adalah  sejenis malaikat  di bawah Arasy, perawakannya istimewa, dua kakinya dibumi ketujuh. Dia mempunyai 1000 kepala, sebuah  kepala itu lebih besar dari dunia ini. Pada setiap kepala terdapat 1000 muka, pada setiap muka terdapat 1000 mulut. Pada setiap mulut terdapat 1000 lidah yang bertasbih kepada Allah. Setiap lidah mengucapkan 1000 jenis tasbih, tahmid dan tamjid. Setiap lidah menggunakan satu bahasa yang satu dengan yang lain tidak sama. Apabila mulutnya terbuka  mengucapkan  tasbih maka para  malaikat penghuni langit, tunduk dan sujud, karena takut terbakar hangus  oleh sinar yang  memancar  dari mulutnya. Dia mengucap tasbih kepada Allah SWT, setip pagi dan petang. Dan dia turun kebumi pada setiap malam (Lailatul) Qadar, mengingat tingginya nilai malam itu. Dia meminta ampunkan segala  kesalahan umat Muhammad  yang berpuasa, baik laki-laki maupun  wanita, sampai terbit fajar.

            Demikian menurut  Tafsir Al-Jamal  juz 4, halaman 567 yang mengutip  uraian  Al-Khathib.

            Lebih jauh  Tafsir Al-Jamal menyatakan  bahwa malaikat  penghuni Sidratul Muntaha turun kebumi malam itu, membawa 4 buah bendera. Sebuah bendera dipacakkan di pusara Nabi Besar Muhammad Saw di Madinah. Selebihnya dipacakkan di Masjid Baitul Maqdis Palestina, dimasjid Haram  Makkah dan sebuah lagi di Bukit Thursina.

Adapula pendapat ulama yang menyatakan  bahwa “ruh” pada ayat itu  maksudnya adalah sejenis malaikat yang besar lagi tegap. Dunia ini habis sekali ditelannya. Dia hanya dilihat oleh malaikat-malaikat lainnya pada malam (Lailatul ) Qadar.

Adapula  pendapat ahli tafsir  bahwa “ruh”  adalah sejenis makhluk, bukan malaikat dan bukan pula manusia, mungkin dia pelayan-pelayan di surga.  Dia makan minum dan berpakaian.

Adapula  yang menyatakan  “ruh” itu  adalah nabi Isa kerena “ruh” itu adalah namanya. Adapula  yang menyatakan  “ruh” itu  adalah “rahmat”  yang dikirim   Allah SWT kepada hamba-Nya, dengan  perantaraan Jibril.

SALAMUN HIYA   ( سَلاَمٌ هِيَ )

Adapun kalimat “salamun hiya”  (selamat dia)  yang terdapat  dalam surah  Al-Qadar ayat 5, mengandung  makna malam itu  selamat sejahtera dari semua yang  menakutkan, apabila isim dhamir (kata pengganti) “hiya”  itu dikembalikan  kepada Lailatul Qadar.

Apabila kata pengganti “hiya”  itu dikembalikan  kepada malaikat,  sebagaimana  pandapat sebagian ahli tafsir, maka artinya adalah malaikat pada malam itu memberikan ucapan  selamat kepada orang –orang mukmin.

A-Qurthubi menyatakan bahwa malam (lailatul) Qadar itu adalah malam keselamatan dan kebaikan, tiada terdapat padanya kejahatan sampai terbit fajar.

Al-Dhahhak menyatakan  bahwa pada malam itu Allah SWT hanya menentukan “keselamatan” atau “kebaikan”  saja, sedangkan  pada malam  yang lain  Allah SWT menentukan  kebaikan dan kejahatan.”

Asy-Sya’bi berpendapat  bahwa maksud “salamun”  pada ayat itu  adalah ucapan selamat malaikat kepada penghuni mesjid  sejak terbenam matahari malam (lailatul) Qadar sampai terbit fajar.

Kalangan lain  berpendapat “salamun”  itu  mengandung makna  bahwa orang mukmin pada malam itu  selamat dari pengaruh  dan godaan setan. Demikian  pula  pendapat  Al-Mujahid, malam itu  setan  tidak mampu berbuat kejahatan.

Ada pula pendapat “salamun” itu adalah ucapan selamat  antara sesama malaikat.

Ka’ab bin Al-Ahbar menyatakan  bahwa malaikat  penghuni  Sidratul Muntaha yang tidak diketahui  jumlahnya  pada malam (Lailatul) Qadar  itu turun  ke bumi, Jibril  di tengah-tengah, semuanya  mendoakan  orang mukmin semoga berada dalam keselamatan  dan kesejahteraan. Malaikat Jibril bersalaman dengan orang-orang mukmin.

Adapun malam  yang tinggi  nilainya berturut-turut sebagai berikut :

  1. Malam Kelahiran Nabi Muhammad Saw
  2. Malam (Lailatul) Qadar
  3. Malam Isra’ dan Mi’raj
  4. Malam Arafah
  5. Malam  Jum’at
  6. Malam Nishfu Sya’ban

Pada malam tersebut baik ditingkatkan  amal ibadah.

TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADAR.

Adapun tanda-tanda malam  Lailatul Qadar dan orang yang telah  mendapat ucapan selamat dari para Malaikat itu, menurut Ka’bul Ahbar, antara lain :

  1. Berdiri  bulu roma, dingin  panas perasaan badan, hati  terharu  bercampur  gembira dan air mata keluar.
  2. Keesokan harinya,  matahari  terbit agak redup, tidak  begitu cemerlang.
  3. Ali Ahmad  Al-Jurjawi dalam kitabnya  :Hikmatut Tasyi’ Wa Falsafatuhu”, menambahkan : Udara pada malam itu sedang, tidak begitu panas  dan tidak  pula terlampau dingin.
  4. Air laut menjadi tawar
  5. Anjing  tidak menyalak.

UPAYA MENDAPATKANNYA.

TINGKATKAN  AMAL IBADAH.

JAUHI PERBUATAM MAKSIAT.

Rasulullah Saw lebih  banyak berada di mesjid dan lebih memperketat ikat pinggangnya, apabila  lewat 20 Ramadhan. Beliau  iktikaf dan sesudah beliau wafat, istri-istri beliau pun lebih banyak  mengerjakan  i’tikaf sesudah tanggal 20 Ramadhan itu.

Demikianlah uraian  saya, semoga  bermanfaat bagi masyarakat.

Medan, 3  Ramadhan 1425  H.

  1. Oktober  2004  M

     ( Syekh H. Ahmad. Fuad Said )


* ) Ketua  Komisi  Dakwah MUI-SU, di sampaikan pada muzakarah ilmiah MUI-SU, Ahad 3 Ramadhan 1425 H ( 17 Oktober 2004 ), di aula  MUI-SU Medan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles