muisumut.or.id-Langkat, 13 September 2023 – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Langkat, Zulkifl Ahmad, telah angkat bicara terkait kasus dugaan pelecehan yang melibatkan seorang pemilik Pondok Pesantren (Ponpes) di Langkat. Zulkifl Ahmad menekankan pentingnya penyelidikan yang teliti terhadap kasus ini untuk memastikan keadilan tercapai.
“Kami dari MUI Kabupaten Langkat, mengingat serius kasus ini, menghimbau agar penyelidikan dilakukan dengan cermat. Jika kasus pelecehan benar terjadi, hal ini harus diusut hingga tuntas guna mencegah peristiwa serupa di masa mendatang,” ujar Zulkifli Ahmad.
Zulkifl Ahmad juga menyatakan keheranannya atas kejadian ini yang sebelumnya tidak pernah terdeteksi di lingkungan Ponpes. Ia mengecam tindakan tersebut, terutama karena melibatkan seorang pendidik dalam dunia pondok pesantren.
“Sejauh yang kami ketahui, kasus pelecehan seperti ini yang terdeteksi dan sampai menjadi berita viral hingga saat ini hanya satu. Apabila kasus ini terbukti, kami sangat menyayangkan tindakan tersebut, terutama dari seorang pendidik,” ungkapnya.
Dia juga menjelaskan kronologi kejadian yang diterimanya dari seorang pengurus MUI Kabupaten Langkat. Menurutnya, korban awalnya merasa tertekan karena mendapat intimidasi dari teman-temannya.
Dalam upaya melarikan diri, korban ingin kabur dari Ponpes. Namun, pihak pesantren melakukan upaya persuasi agar korban tidak pergi. Beberapa guru, termasuk terduga pelaku, turut serta dalam usaha tersebut, meskipun pada akhirnya hanya korban dan terduga pelaku yang berada di tempat tersebut.
Zulkifl Ahmad juga menguraikan bahwa insiden tersebut terjadi saat hanya korban dan terduga pelaku yang berada di lokasi. Dia menjelaskan kemungkinan tindakan yang terjadi selama proses persuasi tersebut.
“Dalam proses pembujukan, kemungkinan bahwa sang anak terpegang pada bagian tubuhnya, baik itu tangan, kepala, atau pipi, muncul. Dengan menyimak cerita ini, kami memahami bahwa upaya tersebut dilakukan agar anak tersebut tidak meninggalkan pesantren,” kata Zulkifl Ahmad.
Beberapa waktu setelah kejadian, korban memutuskan untuk menceritakan insiden tersebut kepada kedua orangtuanya saat mereka berkunjung ke Ponpes. Laporan ini menjadi titik awal bagi keluarga untuk melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian.
Zulkifl Ahmad menegaskan pentingnya para pendidik untuk mengambil sikap yang bijak dalam proses pembujukan terhadap siswa-siswinya. Dia menekankan perlunya pendekatan yang penuh hikmah.
“Kami berharap agar para pendidik selalu bijak dalam memperlakukan siswa-siswinya. Meskipun niatnya baik dalam upaya persuasi, penggunaan metode yang benar adalah kunci, bukan dengan melakukan kontak fisik atau sejenisnya. Pasti ada cara yang lebih bijak,” ucapnya.
Zulkifl Ahmad berharap agar peristiwa ini tidak terulang di Ponpes atau sekolah lain di Kabupaten Langkat yang memiliki banyak pesantren dan sekolah.
“Kami berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi para pendidik di Kabupaten Langkat. Kami sepenuhnya mendukung proses penyelidikan yang sedang berlangsung oleh pihak kepolisian,” tegasnya.
Sebelumnya, pemilik Pondok Pesantren di Kabupaten Langkat diduga melakukan pelecehan terhadap santriwati berusia 14 tahun. Kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh keluarga korban. (Yogo)






