muisumut.or.id – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, bersama rombongan dari Rahmat Foundation, melakukan kunjungan ke Kompleks Nasyrul Quran di Presint 14, Putrajaya. Kunjungan selama tiga hari ini dimulai pada Jumat, 5 Juli hingga Ahad, 7 Juli 2024. Kompleks ini merupakan pusat pencetakan Al-Quran terbesar kedua di dunia, setelah Pusat Percetakan Al-Quran Al-Malik Fahd di Madinah.
Nama ‘Nasyrul Quran’ diilhamkan dari bahasa Arab yang berarti ‘Penyebaran Al-Quran’. Kompleks ini menargetkan pencetakan satu juta naskah Al-Quran per tahun, dengan 70 persen untuk kebutuhan domestik dan sisanya diwakafkan ke negara-negara yang memerlukannya. Fasilitas di kompleks ini mencakup galeri pameran, ruang latihan keterampilan, bilik rapat, surau, kafeteria, galeri untuk melihat proses pencetakan, serta kantor administrasi dan manajemen.
Dr. H. Maratua Simanjuntak menyampaikan kekagumannya terhadap fasilitas dan efisiensi dari Kompleks Nasyrul Quran. “Kompleks ini adalah contoh luar biasa dari bagaimana teknologi dan dedikasi dapat digabungkan untuk menyebarkan firman Allah ke seluruh dunia. Kami menerima Al-Quran yang ditashih oleh Kementerian Agama RI dan berbahasa Indonesia, namun dicetak di sini, serta dalam 30 bahasa lainnya,” ujarnya kepada Tim Infokom MUI Sumut
Dr. Maratua juga mewakafkan seluruh Al-Quran yang diperolehnya dari kunjungan tersebut kepada MUI Sumut pada peringatan 1 Muharram 1446 di pelataran MUI Sumut.
Dalam rombongan tersebut, turut serta beberapa ulama Sumatera Utara, termasuk Dr. Mohd. Hatta, Ketua Baznas sekaligus salah satu Ketua MUI Sumut, serta Dr. Hasan Matsum, Ketua Umum MUI Kota Medan.

Kunjungi Replika Sejarah Rasulullah
Selain mengunjungi Kompleks Nasyrul Quran, rombongan juga mengunjungi Kompleks Seni Islam Antarabangsa Selangor di Shah Alam, yang terkenal di kalangan pelancong lokal dan internasional sebagai pusat perkembangan seni Islam berlandaskan nilai-nilai ajaran Al-Quran.
Kompleks Seni Islam Antarabangsa Selangor, yang berlokasi di tengah kota Shah Alam dan bersebelahan dengan Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, kaya akan nilai warisan ketamadunan dan seni Islam. Kompleks ini tidak hanya memamerkan seni Islam tetapi juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan penyebaran nilai-nilai ajaran Al-Quran melalui berbagai kegiatan dan pameran.
“Kunjungan ke Kompleks Seni Islam Antarabangsa Selangor memberikan wawasan berharga tentang bagaimana warisan seni dan budaya Islam dapat dipertahankan dan dikembangkan dalam konteks modern,” kata Dr. Maratua. Ia menambahkan bahwa pengalaman dari kunjungan ini akan membawa inspirasi baru bagi upaya MUI Sumut dalam memperkuat penyebaran Al-Quran dan pengembangan seni Islam di Sumatera Utara.
Kunjungan ini diharapkan dapat membawa inspirasi dan semangat baru bagi MUI Sumatera Utara dan Rahmatsyah Foundation dalam upaya mereka untuk meningkatkan penyebaran Al-Quran dan pengetahuan Islam di Indonesia.






