muisumut.or.id., Medan, 16 Muharram 1447 H/ 12 Juli 2025– Puncak peringatan Muharram 1447 Hijriah yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menjadi ruang penting bagi konsolidasi pemikiran dan penguatan arah perjuangan umat. Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sumut, Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA, menekankan bahwa peringatan tahun baru Islam ini tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial semata, tetapi harus menjadi pijakan awal bagi gerakan hijriyah—yakni transformasi nilai secara berkelanjutan sepanjang tahun.
“Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa jumlah bulan itu ada dua belas. Di dalamnya juga ditegaskan bahwa bila umat Islam diperangi, maka wajib membela diri. Saya ingin mengingatkan bahwa peringatan bulan Muharram ini tidak cukup hanya hari ini. Harus menjadi semangat yang menyala sepanjang tahun,” tegasnya.
Buya Maratua juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya kasus pelecehan terhadap umat Islam yang saat ini masuk dalam ranah hukum. Ia menyatakan bahwa dirinya telah menandatangani banyak surat sebagai saksi ahli untuk membela kehormatan umat yang direndahkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Umat Islam ini memiliki kekuatan besar. Hari ini kita mungkin hanya berkumpul seribu orang, tapi mereka adalah simpul-simpul kekuatan: ada pemerintah, anggota DPD, DPR RI, kepolisian, TNI, ormas-ormas Islam, dan elemen muda yang bersemangat memainkan drumband. Ini baru sebagian dari kekuatan kita. Tapi mengapa kita diam ketika Islam dinistakan?” ujarnya dengan nada tegas.
Ia pun menyampaikan apresiasi khusus kepada Komisi Fatwa MUI Sumut dan pihak kepolisian yang menjadi pilar utama dalam menegakkan kehormatan Islam melalui jalur hukum.
Hijriyah sebagai Gerakan Berkelanjutan
Dalam sambutannya, Buya Maratua juga menyampaikan bahwa kemiskinan dapat membawa kekufuran, dan karena itu penguatan ekonomi umat menjadi bagian penting dari misi hijriyah.
“Saya sering berdiskusi dengan BAZNAS. Kita tidak cukup hanya berpindah secara fisik (hijrah), tapi harus bergerak secara nilai, secara sistem. Hijrah adalah satu hari, tetapi hijriyah adalah proses tanpa batas,” jelasnya.
Ketua Umum MUI Sumut juga menegaskan bahwa MUI akan terus mendorong kaderisasi ulama, dimulai dari jenjang usia dini seperti lomba Pildacil, hingga ke jenjang akademik melalui Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU).
Selain itu, MUI juga akan memfokuskan perhatiannya pada kebangkitan ekonomi Islam sebagai bagian dari pilar kekuatan umat yang tak terpisahkan dari nilai hijriyah.
Dalam kesempatan yang sama, Buya Maratua menyampaikan bahwa peringatan Muharram ini adalah bagian dari rangkaian panjang kegiatan MUI Sumut yang telah berjalan sejak akhir tahun lalu. Di antaranya Pidato Akhir Tahun, Zikir Kebangsaan, dan Talbiyah Kebersamaan, yang semuanya merupakan bentuk konsolidasi ruhiyah dan sosial umat Islam di Sumatera Utara.
Menutup sambutannya, Ketua Umum MUI Sumut menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi atas kesuksesan peringatan Muharram 1447 Hijriah.
“Semoga apa yang kita mulai hari ini menjadi bagian dari perjalanan hijriyah yang terus berlanjut, tidak hanya dalam hitungan bulan, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan kita sebagai umat,” pungkasnya.






