Medan, Jumat (18 Oktober 2024) — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2024, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Ag., menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Ar Rahmah, MUI Sumatera Utara. Khutbah yang penuh makna ini mengajak para jamaah untuk merefleksikan peran penting santri dalam sejarah perjuangan bangsa, sekaligus menekankan pentingnya ilmu agama yang diajarkan oleh guru-guru yang benar dan ikhlas.
Dalam khutbahnya, Dr. Akmaluddin memulai dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, serta memaknai peringatan Hari Santri sebagai momen yang lebih dari sekadar penghormatan terhadap santri, melainkan juga sebagai pengingat perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia.
“Tanggal 22 Oktober dipilih berdasarkan Resolusi Jihad yang digagas oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, yang menyerukan perlawanan terhadap penjajah untuk menjaga kedaulatan bangsa,” ujar Dr. Akmaluddin. Ia juga menekankan bahwa jika dulu santri berjuang melawan penjajahan, maka santri masa kini harus berjuang mengisi kemerdekaan dengan ilmu dan amal yang bermanfaat bagi umat.
Menuntut Ilmu dengan Guru yang Benar
Dalam konteks pengisian kemerdekaan, Dr. Akmaluddin menegaskan pentingnya memilih guru yang benar dalam menuntut ilmu agama. Ia mengingatkan jamaah untuk tidak tergoda oleh retorika yang menarik di media sosial, tetapi lebih fokus pada kualitas dan kejujuran guru. “Ilmu agama adalah amanah besar yang harus dipelajari dari ulama yang ahli, bukan hanya sekadar terkenal,” tegasnya.
Khatib juga mengutip pesan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa ilmu hanya boleh dirujuk dari orang yang benar-benar ahli dalam bidang tersebut. Selain itu, Dr. Akmaluddin mengutip firman Allah SWT dalam surat Al-Isra ayat 36 yang memperingatkan agar tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu yang jelas.
Keikhlasan dan Kejujuran dalam Menyampaikan Ilmu
Dr. Akmaluddin juga menekankan bahwa kejujuran dalam menyampaikan ilmu sangat penting, mengutip perkataan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari bahwa ilmu tidak boleh diambil dari seseorang yang berbohong, meskipun ia tidak berbohong dalam menyampaikan hadits. “Ilmu yang disampaikan dengan ikhlas dan jujur akan membawa cahaya dan keberkahan,” katanya, mengutip dari Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith dalam Al-Manhajus Sawi.
Kesimpulan dan Harapan di Hari Santri
Sebagai penutup, Dr. Akmaluddin mengajak jamaah untuk menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum memperbaiki diri dalam menuntut ilmu dan berjuang mengisi kemerdekaan dengan amal kebaikan. “Semoga kita senantiasa berada di jalan yang benar dalam menuntut ilmu dan menjadi hamba yang ikhlas serta bermanfaat bagi umat,” doanya.
Khutbah tersebut ditutup dengan doa untuk kemajuan umat Islam serta kebersamaan dalam mengikuti teladan para ulama dan santri terdahulu yang gigih berjuang demi agama dan bangsa.






