Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Masjid Raya Pematangsiantar, Ikon Sejarah yang Tetap Produktif di Usia Lebih dari Satu Abad

muisumut.or.id-Pematangsiantar, Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut mengunjungi Masjid Raya Pematangsiantar (14/6), masjid tertua dan terbesar di kota itu yang telah berdiri sejak 1911. Di usia 113 tahun, masjid yang berlokasi di Jalan Masjid, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat ini tetap aktif menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan ekonomi umat.

Dengan kapasitas 1.100 jamaah dan luas bangunan 400 meter persegi di atas lahan 2.000 meter persegi, Masjid Raya menjadi salah satu ikon sejarah Islam di Sumatera Utara. Dalam catatan sejarah, masjid ini merupakan satu-satunya yang tetap melaksanakan salat Jumat saat penjajahan Jepang, ketika masjid lain memilih berhenti karena tekanan militer.

Ketua Harian Badan Kemakmuran Masjid (BKM), Andi Aziz Rangkuti, menjelaskan bahwa masjid ini awalnya dibangun oleh tiga tokoh agama, yakni Tuan Syah Abdul Jabbar Nasution, dr. Hamzah Harahap, dan Pangulu Hamzah Daulay, di atas tanah hibah Raja Sangnaualuh Damanik. “Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2011, bertepatan dengan usia 100 tahun masjid,” ujarnya.

Masjid Raya memiliki pemasukan rutin sebesar Rp30–40 juta per bulan. Dana tersebut digunakan untuk operasional, termasuk menggaji imam dan lima petugas kebersihan. Selain salat lima waktu yang terbilang ramai, salat subuh di masjid ini pun tidak sepi, dengan jemaah mencapai sedikitnya tiga saf setiap hari. Selain warga sekitar, banyak pekerja turut meramaikan salat berjamaah.

Kegiatan keislaman rutin juga terus berjalan, seperti pengajian ba’da Magrib hingga Isya yang diisi ulama setempat. Masjid Raya juga memiliki beberapa unit usaha. Di antaranya percetakan mini offset yang melayani pesanan kartu nama, undangan, hingga spanduk. Selain itu, ada kolam ikan seluas 400 meter persegi di halaman timur yang berfungsi sebagai tambak sekaligus kolam hias.

Masjid ini pernah menjadi titik awal pemberangkatan haji resmi sejak 1991 bekerja sama dengan Pemko Pematangsiantar. Selain itu, unit jasa masjid turut membantu mengoordinasikan pembayaran rekening listrik, air, dan langganan tabloid Islam untuk jamaah.

Rancang bangun Masjid Raya mengadopsi gaya Masjid Nabawi di Madinah, dengan empat tiang pilar besar, dinding porselen, dan lantai marmer. Meski telah beberapa kali direnovasi, fasad arsitekturnya tetap dijaga agar sesuai dengan semangat awal para pendirinya: sederhana, namun kokoh dalam perjuangan. (Yt)

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles