Thursday, January 29, 2026
spot_img

Melawan Islamophobia untuk Membangun Dunia yang Beradab Oleh Prof. Sudarnoto

muisumut.or.id-Medan, 4 November 2023 – Pada hari Kamis, 2 November 2023, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara mengadakan Seminar Focus Group Discussions (FGD) dengan tema “Melawan Islamophobia Untuk Dunia Islam Yang Berkeadaban.” Acara ini diadakan di Aula MUI Provinsi Sumatera Utara dan menampilkan Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional sebagai pemateri utama.

Islamophobia, yang merujuk pada sikap negatif, diskriminatif, bahkan tindakan kekerasan terhadap Islam dan umat Muslim, menjadi sorotan utama dalam diskusi ini. Prof. Sudarnoto menjelaskan implikasi dari fenomena ini, yang merusak prinsip-prinsip universal Hak Asasi Manusia (HAM) dan menantang eksistensi dan kedaulatan manusia yang harus dihormati dan dilindungi oleh hukum dan negara.

Dalam diskusi ini, Prof. Sudarnoto juga mengungkapkan bahwa Islamophobia tidaklah sesuatu yang baru. Bahkan dalam sejarah Islam, selama periode Makkah (610–622 Masehi), Nabi Muhammad dan para pengikutnya menghadapi penindasan, kekerasan, dan penghinaan dari masyarakat Arab yang menentang ajaran Islam. Tokoh-tokoh seperti Abu Jahal dan Abu Lahab adalah beberapa di antara mereka yang memprovokasi tindakan kekerasan terhadap Rasulullah SAW dan para pengikutnya.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi Islamophobia pada masa itu melibatkan aspek agama, sosial, politik, dan ekonomi. Ajaran Islam yang mengajarkan kesederajatan, keadilan, dan penghargaan kepada orang lain, merusak status sosial elit Quraisy. Selain itu, kehadiran Islam di Mekah juga dianggap sebagai ancaman politik yang dapat menggoyahkan kekuasaan para elit Quraisy. Faktor ekonomi juga memainkan peran, karena kemunculan Islam mengancam sumber pendapatan dari industri patung berhala, yang merupakan bagian penting dari ekonomi mereka.

Sejarah Islamophobia juga meluas ke abad pertengahan dengan Perang Salib yang dipicu oleh gereja Kristen untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai oleh umat Muslim. Selama dua abad berikutnya, umat Muslim mengalami kesengsaraan dan dianggap sebagai orang lain dalam pandangan Kristen Eropa. Pada abad ke-15 di Spanyol, doktrin Kemurnian Darah digunakan untuk membedakan antara Kristen Lama dan Kristen Baru yang dianggap keturunan Yahudi atau Muslim.

Selama penjajahan Spanyol di Amerika, ideologi rasisme dan diskriminasi dari Spanyol dibawa ke Amerika dan digunakan untuk menganiaya umat Muslim dan Yahudi. Hal ini juga terkait dengan perkembangan rasisme Eropa yang membenarkan perbudakan dan perlakuan buruk terhadap mereka yang telah dijajah.

Islamophobia masih menjadi permasalahan saat ini, tidak hanya di negara-negara Barat, tetapi juga di negara-negara seperti Myanmar, China, dan India. Serangan terhadap Rohingya, Uighur, dan populasi Muslim di India telah mencapai tingkat genosida. Bahkan dalam negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Malaysia dan Indonesia, serta di negara-negara ASEAN lainnya, potensi untuk berkembangnya Islamophobia tetap ada.

Seminar ini memberikan pemahaman mendalam tentang asal usul Islamophobia, serta peringatan penting bahwa perjuangan melawan Islamophobia harus terus berlanjut untuk menciptakan dunia yang lebih beradab dan menghormati hak asasi manusia setiap individu. Islamophobia bukan hanya masalah umat Islam, tetapi masalah kemanusiaan yang harus diatasi bersama-sama oleh seluruh masyarakat global. (Yogo Tobing)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles