Samarqand, Uzbekistan, muisumut.or.id, 3 November 2024
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bukhoro ke Samarkand sejauh sekitar 291 kilometer yang memakan waktu sekitar lima jam, rombongan MUI Sumatera Utara akhirnya tiba di kota bersejarah ini menjelang waktu magrib. Dalam perjalanan menuju Samarkand, rombongan juga sempat berziarah ke makam sufi besar, Abd al-Khaliq Gijduvani, sebuah pengalaman yang memberikan kedamaian tersendiri. Sesampainya di Samarkand, sebelum beristirahat di hotel, rombongan mengunjungi Registan Square, ikon kota ini yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang tinggi.
Saat menyaksikan kemegahan Registan, rasa kagum tidak terhindarkan. Skala besar bangunan, harmoni proporsi, serta kemewahan arsitektur kuno yang penuh detail mengundang penghormatan mendalam bagi para arsitek dan seniman yang menciptakan mahakarya ini. Di pusat Samarkand, Registan merupakan alun-alun besar yang dikelilingi oleh tiga madrasah abad pertengahan: Madrasah Ulugbek, Madrasah Sherdor, dan Madrasah Tilla-Kori. Ketiga madrasah ini berdiri kokoh sebagai simbol keagungan peradaban Islam di Asia Tengah dan menjadi contoh sempurna seni perkotaan serta desain arsitektur era tersebut. Pada tahun 2001, UNESCO mengakui ansambel ini sebagai Situs Warisan Dunia, memperkokoh Registan sebagai salah satu destinasi sejarah dunia yang harus dikunjungi.
Saat rombongan tiba, para pengunjung telah ramai berkumpul, menanti pertunjukan teater yang memanfaatkan dinding besar madrasah sebagai layar raksasa, lengkap dengan permainan cahaya yang spektakuler. Seiring langit yang semakin gelap, suasana alun-alun berubah magis dengan proyeksi cahaya yang menampilkan sejarah Samarkand dan ketiga madrasah. Pertunjukan ini tidak hanya indah secara visual tetapi juga penuh makna, menghadirkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang memperkaya pemahaman para penonton akan budaya Timur yang penuh kejayaan.
Sejarah Registan dan Tiga Madrasah Agung
Setiap madrasah di Registan dibangun pada periode yang berbeda, mencerminkan perkembangan seni arsitektur selama berabad-abad. Madrasah Ulugbek adalah yang tertua, dibangun atas perintah Ulugbek, cucu penguasa besar Timur (Tamerlane), yang terkenal sebagai astronom dan ilmuwan. Madrasah ini didirikan antara tahun 1417 hingga 1420 dan menjadi pusat keilmuan terkemuka di Timur abad pertengahan. Dua abad kemudian, di bawah pemerintahan Bahodur Yalangtush, dua madrasah lainnya, Sherdor dan Tilla-Kori, berdiri megah di sisi lain alun-alun. Madrasah Sherdor, yang berarti “pemilik singa”, dibangun pada 1619-1636 dan berdiri simetris dengan Madrasah Ulugbek, sementara Madrasah Tilla-Kori, atau “berlapis emas”, didirikan pada 1647-1660.
Selama berabad-abad, Registan juga berfungsi sebagai pasar sentral kota Samarkand. Di sinilah persimpangan enam jalan utama bertemu, dan istri Tamerlane, Tuman-aka, mendirikan pusat perbelanjaan kubah bernama Chor-su. Pada akhir abad ke-17, ketika ibu kota Khanate dipindahkan ke Bukhara dan Jalur Sutra berhenti melewati Samarkand, alun-alun ini sempat mengalami masa stagnasi. Namun, pada akhir abad ke-18, kehidupan di Registan kembali bergairah, dan kota ini perlahan kembali hidup dengan toko-toko tradisional yang ramai.
Madrasah Ulugbek: Pusat Ilmu Pengetahuan Abad Pertengahan
Madrasah Ulugbek, sebagai madrasah tertua di Registan, menjadi pusat ilmu pengetahuan terkemuka berkat upaya Ulugbek yang juga membangun observatorium besar di Samarkand. Madrasah ini dirancang oleh Kamaleddin Muhandis, murid ahli matematika terkenal Kazi-zade Rumi, dan memiliki halaman luas yang dikelilingi oleh ruangan-ruangan tempat para pelajar menimba ilmu. Dinding madrasah dihiasi pola geometris rumit dan mosaik biru tua yang memesona, menunjukkan keanggunan artistik yang luar biasa.



Madrasah Sherdor: Simbol Keberanian dan Keindahan
Madrasah Sherdor didirikan sebagai refleksi Madrasah Ulugbek dengan ukuran yang lebih besar, dihiasi dengan ornamen megah yang mencerminkan kebesaran penguasa pada masa itu. Meski sederhana di bagian dalam, madrasah ini tetap memikat dengan simbol singa pada fasadnya yang ikonik, sebuah lambang yang jarang ditemukan dalam arsitektur Islam.
Madrasah Tilla-Kori: Permata Emas di Registan
Madrasah Tilla-Kori, yang artinya “berlapis emas”, dibangun sepuluh tahun setelah Madrasah Sherdor dan berfungsi ganda sebagai masjid. Bagian dalamnya dipenuhi dekorasi emas yang mewah, dan kubah masjidnya dihiasi lukisan berlapis emas, menghadirkan pemandangan yang menakjubkan bagi setiap pengunjung.
Malam itu, di bawah langit Samarkand yang gemerlap, rombongan MUI Sumatera Utara disuguhkan pengalaman yang tak terlupakan, menyaksikan sejarah yang hidup dalam perpaduan antara seni, arsitektur, dan cahaya. Sebagai pusat kebudayaan Islam yang pernah berjaya, Registan tidak hanya memamerkan keindahan bangunan tetapi juga menggugah perasaan hormat terhadap sejarah besar Samarkand, menjadikannya sebagai destinasi yang abadi bagi setiap jiwa yang mencintai sejarah dan budaya Islam.






