Monday, February 2, 2026
spot_img

Mengenang Raja Sang Naualuh: Jejak Islam, Toleransi, dan Perlawanan dari Tanah Siantar

muisumut.or.id-Pematangsiantar, Pada hari kedua kunjungan ke Kota Pematangsiantar dalam rangka pengisian rubrik liputan daerah, Tim Media Majalah Ulama MUI Sumatera Utara mengunjungi Tugu Raja Sang Naualuh Damanik, sosok bersejarah yang dikenal sebagai Raja Siantar sekaligus tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di akhir abad ke-19, Sabtu (14/6/2025).

Didampingi pengurus MUI Pematangsiantar, kunjungan ini juga melibatkan Edy Junihato, Sekretaris Yayasan Raja Sangnaualuh Damanik. Ia menegaskan bahwa tugu tersebut bukan hanya monumen biasa, melainkan bagian dari langkah nyata untuk mendorong pengakuan Raja Sang Naualuh sebagai Pahlawan Nasional.

“Ini bukan sekadar patung. Ini bentuk penghormatan rakyat terhadap pemimpin lokal yang berjasa besar. Saat ini kami sedang mengupayakan proses administratif agar beliau resmi diakui negara sebagai Pahlawan Nasional,” jelas Edy.

Raja Sang Naualuh, yang lahir pada tahun 1871, memimpin Kerajaan Siantar sejak 1888 hingga 1906. Ia menolak pengakuan resmi Belanda melalui surat keputusan No. 25 tanggal 23 Oktober 1889, karena menilai langkah tersebut sebagai siasat kolonial untuk melegalkan penjajahan dan merampas tanah rakyat.

“Ia tetap menjaga kedaulatan kerajaan. Bahkan turun langsung ke desa-desa, menyemangati rakyat agar tidak tunduk pada pengaruh penjajah,” lanjut Edy.

Selain dikenal sebagai pemimpin yang tegas terhadap kolonialisme, Raja Sang Naualuh juga dikenang karena kontribusinya terhadap kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Siantar. Meski beragama Islam, ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi toleransi. Di bawah kepemimpinannya, sejumlah rumah ibadah—bukan hanya masjid, tetapi juga dari agama lain—didirikan atau diwakafkan.

“Jejaknya dalam membangun rumah ibadah lintas agama menjadi salah satu dasar kuat toleransi yang dirasakan hingga kini di Kota Pematangsiantar,” ujar Edy.

Selama masa pemerintahannya, Raja Sang Naualuh juga melaksanakan lima program pembangunan strategis: pengembangan pusat latihan pertanian di Kampung Rambung Merah, pembangunan jalan raya untuk perdagangan, pendirian pusat pengajian Islam di Kampung Naga Huta, kampanye kesehatan anak, serta sistem perawatan kuda untuk transportasi dan pertahanan.

Tim Majalah Ulama MUI turut mengunjungi Jerat Partongah Kerajaan Siantar, tempat persemayaman Raja Sang Naualuh Damanik yang terletak di Jalan Pematang, Kota Pematangsiantar. Jerat tersebut dipagari dan dihiasi simbol bulan sabit dan bintang, mencerminkan identitas keislaman sang raja. Kunjungan ini merupakan bagian dari pendokumentasian jejak sejarah Islam dan nilai-nilai kearifan lokal di Sumatera Utara. (Yt)

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles