Sunday, February 1, 2026
spot_img

Menyikapi Perang di Palestina (Muzakarah Komisi Fatwa)

Muzakarah Komisi Fatwa Ahad 30 Juni 2024, oleh Dr. Ir. Masri Sitanggang

“Sekarang berakhirlah sudah Perang Salib merebut Palestina.” Begitu suara lantang dari panglima perang Inggeris, Lord Elenby, ketika pertama kali memasuki Jerusalem  di akhir 1917.  Sementara di Damaskus, Jendral Gurgaon, Panglima Perang Perancis, Berteriak : “Saladin ! Saladin ! Wake up, we are coming now !, sambil meghantamkan popor senjatanya ke batu nisan Shalahuddin Al Ayubi. Peristiwa ini menyusul kekalahan pasukan Usmaniyah di Jerusalem dan Suriah pada Perang Dunia I melawan tentara sekutu –yang  adalah tentara Salib.

Masalah Palestina, sesungguhnya tidaklah sekedar persoalan Rakyat Palestina dan pemerintah pendudukan Israel. Tetapi ia adalah bagian kecil dari sebuah sekenario persekongkolan besar, perang multi dimensi, yang bertujuan menghancurkan Islam.

Satu sisi, ia merupakan rangkaian dari dendam Perang Salib –yang secara resmi diserukan pertama sekali  tahun 1095  oleh Paus Urbanus II pada  negara-negara Eropa (Kristen), untuk menghempang peyebaran luar biasa dari agama Islam di Eropa.  Berabad-abad perang itu berlangsung,  Eropa Kristen tidak mendapat apa-apa kecuali kekalahan: negeri Kristen jatuh satu-satu ke tangan kaum muslim. Gustav Lebon, filsuf dan penulis sejarah Eropa asal Prancis memaparkan kekalahan di dua abad pertama perang itu sebagai berikut :

Kalau kita lihat hasil Perang Salib, amatlah ruginya, kalau diteliti korban yang diberikan Eropa, baik korban jiwa maupun harta selama dua abad. Dan kaum muslim masih menguasai negeri-negeri itu, yang bertahun-tahun orang Kristen hendak merampasnya.”

Sisi lain, ada dendam risalat dari kaum terlaknat, Yahudi, terhadap Islam : tidak rela karena Muhammad SAW bukan dari keturunan Bani Israel. Ini permusuhan abadi.

Sisi lain lagi, merasa umat pilihan Tuhan, Yahudi-Israel ingin mewujudkan diri sebagai pemimpin dunia. Mengendalikan dunia dengan gagasan New World Order, tatanan dunia baru. Dunia yang dikuasai dan diatur oleh sekelompok elit –tentunya dari kalangan bangsa Israel. “Kerajaan Dunia” ini tidak saja ingin mengendalikan (kekuasaan-kedaulatan) seluruh negara yang ada di dunia tapi juga mengganti tata nilainya dengan tata nilai baru, yakni  menjadikan uang sebagai Tuhan. Demikianlah yang diungkapkan seorang pelopornya, –Yahudi  Zionis penguasa keuangan dunia,  Rotschild.

Halangan terbesar dan terberat Yahudi-Zionis dalam mewujudkan impiannya tetang Tatanan Dunia Baru adalah Islam. Sebab,  Islam punya  sistem sendiri –yang  melekat pada ajaran agamanya, dalam membangun peradabannya : tidak meninggalkan akhirat dalam urasan dunia. Beda dengan Kristen –yang  mengajarkan “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan Berikanlah kepada Gereja apa-apa yang menjadi hak Gereja”.  Di negara-negara Kristen, karena itu, ide/gagasan yang dibangun oleh Yahudi-Zionis  termasuk Kapitais-liberalis dan Sosialis Komunis –keduanya dibangun atas dasar materialisme (uang), sangat well come.

Yahudi dan Kristen  memiliki perselisihan besar.berkaitan kenabian Isa as. Namun dendam Perang Salib Kristen dan dendam risalat serta mimpi menjadi Raja dunia  di New World Order Yahudi-Zionis menyatukan mereka utuk bergandengan erat melawan Islam. Sisi lain, Negara-negara Kristen memang sudah berhutang budi kepada kelompok Zionis dalam hal membiayai berbagai perang dan kolonalisasi di berbagai negara (Islam khususnya).

Fakta ini lebih memperjelas (bagi yang meragukan) peringatan di Albaqarah 120.

*****

“Kaum muslim mustahil dapat dihancurkan dengan jalan perang militer. Kekuatan umat Islam itu tidak akan dapat dipatahkan, karena memiliki landasan aqidah yang jelas, yang tegak di atasnya konsep jihad fi sabilillah.”

 Begitu bunyi catatan hairan Panglima Perang Salib angkatan VII, Lois IX, yang tertawan oleh tentara muslim di Almansurah sekitar tahun 1249 M.

Lois IX menasehatkan para pemimpin Eropa –dalam catatan hariannya itu, begini : “Eropa harus menempuh jalan lain, yaitu dengan jalan ideologi dengan mencabut landasan aqidah ini dan mengosongkannya dari kekuatan, kebanggaan dan keberanian. Caranya adalah dengan menghancurkan konsep-konsep dasar Islam melalui berbagai penafsiran dan keraguan di kalangan masyarakat muslim”.

Nasehat Lois IX  secara serius  oleh Eropa dikembangkan menjadi front pertempiran baru melawan Islam. Kita kemudian mengenalnya sebagai  Ghazwul Fikr.

Ternayata Ghazwul Fikr lebih dahsyat dari perang menggunakan bedil.  Sebagaimana tujuannya, perang ini telah mengubah cara berpiikir orang-orang Islam, para pemimpin, para sarjananya dan generasi mudanya.  Sikap pandang dan laku serta konsepsi mereka tercabut dari landasan aqidah, mengidap imperiority complex dan bangga menjadi pengekor tata nilai yang tanamkan Barat kepada mereka –dianggapnya sebagai suatu hal yang dapat mengangkat derajat harkat diri yang patut disyukuri. Ummat Islam lumpuh di Front ini sehingga oleh Abul A’la Maududi  (Penjajahan Peradaban, 1986) digambarkan sebagai orang yang terjajah secara maknawi dan moral. Lalu, apa yang bisa diharap dari generasi hasil foto copy Barat ini untuk perjuangan Islam ?

Runtuhnya Kekhalifahan Usmaniyah, tidak lepas dari dahsyatnya pengaruh  Ghazwul Fikri. Generasi muda Usmaniyah tumbuh mengidolakan tata nilai Eropa sehingga kehadiran Eropa dianggap membawa angin segar, para penguasa lokal ingin melepaskan diri dari kekhalifahan dan mendirikan negara berdasarkan kebangsaan. Ditambah para pejabat negara yang sudah direkrut menjadi kaki tangan Barat melalui berbagai lembaga/organisasi termasuk organisasi rahasia Mason –oraganisasi zionis yang satu tujuannya adalah meruntuhkan Kekhalifahan Usmaniyah dan mendirikan negara Israel di Palestina.

Demikianlah, sebagaimana ditulis Eugene Rogan (The Fall Of The Khilafah, 2017) dua hari setelah Elenby memasuki Ghaza, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, menulis surat singkat kepada Walter Rothschild. Isinya : Pemerintah Inggris mendukung pembentukan tanah air nasional di palestina bagi orang-orang Yahudi dan berusaha sebaik-baiknya untuk tercapainya tujuan ini.

Dapatlah dipahami betapa pentingnya negara Israel bagi di Palestina bagi Inggeris dan sektunya (Tentara Salib). Dapat dimaklumi pula bila kemudian negara pendukung Perang Salib akan mendukung  apa pun yang dilakukan Islarel terhadap rkyat Palestina.

Sementara itu, ummat Islam semakin dalam terjebak dalam penjajahan peradaban Barat. Dalam enam hari saja, di tahun 1967, Israel bisa mengalahkan tantara Mesir, Yordania dan suriah kemudian mencaplok wilayah mereka.  Muhammad Al Ghazali (Arab Islam dan Israel Zionis, 1982) menguraikan pandangan kritisnya terhadap kekalahan Arab dalam perang itu. Ringkasnya, karena Arab berperang dengan semangat nasionalisme Arab dan santai, bukan semangat jihad dan cita-cita Islam; sementara Isreal berperang dengan gigih untuk dan demi satu keyakinan.

Hari-hari berikutnya setelah perang tahun 1967, Arab semakin tenggelam dalam semangat kebangsaan masing-masing. Palestina terpojok sendirian. Berlakulah tesis Abul Hasan Aliy Nadwiy : Jika Bobot Nasionalisme kebagsaan lebih berat, maka bobot Ukhuwah menjadi lebih ringan dan sebaliknya. Ukhuwah Islamiyah memang sedang menuju kehilangan makna.

Lihatlah. Sheikh Ahmed Yassin mendirikan Hamas, tahun 1987,  untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan mendirikan negara Islam di wilayah yang sekarang menjadi Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Tetapi Mesir dan Yordania (mungkin beberapa negara Arab lainnya), dalam hal ini punya sikap yang sama  dengan Israel dan Amerika Cs : mengklasifikasikan Hamas sebagai organisasi

Faktanya, semangat perlawanan atas dasar Islam ini kini telah menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Beberapa kali perperangan, memperlihatkan kemjuan Hamas. Yang terakhir, yang saat ini sedang berlagsung, Hamas mengejutkan dunia : secara militer, mampu mengalahkan Israel. Peralatan militer Israel yang selama ini diopinikan sebagai tercanggih di dunia, berubah menjadi kerupuk di tangan Pejuang Hamas dan pasukan Israel terpaksa mengenakan popok Ketika berperang. Keberutalan Israel hanya mampu menghancurkan gedung-gedung  bisu serta membunuh masyarakat sipil Bersama anak-anak Perempuan yang tak berdaya. Israel hanya ingin  menciptakan teror untuk menimbulkan ketakutan dikalangan rakyat agar memaksa Hamas –dengan itu, menyerah.

****

Bagaimana menyikapi persoalan Palestina ? ya, tergantung pada sikap pandang kita terhadap persoalan Palestina itu sendiri.

Andai Persoalan Palestina dianggap persoalan nasionalisme kebangsaan dan kemanusiaan, mungkin kita bisa menyuarakan cease fire dan mengupayakan bantuan kemanusiaan.

Jika sepakat bahwa ini adalah bagian dari persoalan Umat Islam, maka perang Palestina bisa kita lihat sebagai sebuah peluang yang disediakan Allah bagi sesiapa yang merindukan  mati syaid.

وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

 Bila sepakat bahwa ini adalah sebuah persekongkolan jahat untuk menghabisi Islam, Perang Salib belum berakhir dan akan terus berlangsung,  maka memerlukan persiapan yang lebih lmatang dan konprehensip untuk jangka yang pabjang.

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

 Saya percaya Bahwa Perang Salib, setdaknya semangatnya (tanpa menyebut nama sebagai Perang Salib(, masih berlangsung dan akan terus berlangsug. Elenby menyebut, yang berakhir adalah “ Perang Salib merebut Palestina”.

Perang Salib berlangsung selama 823 tahun (1095-1918).  Mungkinkah semangat dan dendam Perang Salib itu bisa  terhapus dari dada kaum kristen  saat ini –baru berlalu 106 tabun ?

Ingatlah, saat ingin menyerang Afghanistan –menyusul peristiwa 11 september 2001, Goerge W Bush dengan lantang mengingatkan rakyat Amerika  dan sekutunya dengan berkata : “This Crusade, this war on terrorism”(ini Perang Salib, perang in melawan terorime). Selajutnya, ia pun menghancurkan Irak Libya dan Suirah…

Untuk menyikapi ini, saya mengimpikan adanya sebuah KOMITE INDONESIA UNTUK KEMERDEKAAN PALESTINA, yang secara aktif mempersiapkan segala sesuatunya secara maksimal.

Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles