Sunday, February 8, 2026
spot_img

MUI Sumatera Utara Bertemu dengan Kedutaan Besar RI di Uzbekistan: Diskusikan Potensi Kerjasama di Bidang Keagamaan dan Pariwisata

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  – 6 November 2024, Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Uzbekistan pada Rabu (6/11). Delegasi MUI disambut hangat oleh Sintia Christianity Saeh, Charge d’Affaires sekaligus Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent. Rombongan tidak langsung diterima Duta Besar karena Duta Besar Uzbekistan baru saja wafat dan penggantinya, Ibu Siti Rohaini, belum tiba di Tashkent.

Dalam pertemuan tersebut, Sintia Saeh mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama Kedutaan Uzbekistan menerima kunjungan dari MUI Sumatera Utara, setelah MUI Pusat melakukan kunjungan tahun lalu. Ia menyampaikan pandangannya bahwa kunjungan ini sangat strategis, mengingat hubungan sejarah antara Indonesia dan Uzbekistan yang erat, terutama dalam bidang keagamaan dan budaya.

“Kunjungan ini menjadi simbol hubungan yang erat dan bersejarah antara kedua negara, terlebih dengan tujuan utama untuk ziarah ke makam Imam Bukhari. Indonesia dan Uzbekistan dapat menjajaki kerja sama di bidang pariwisata, ilmu pengetahuan Islam, hingga produk halal,” ujar Sintia.

Pada kesempatan tersebut, Sintia juga menyebutkan bahwa pada tahun 2025 Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan ke Uzbekistan. Presiden Prabowo berencana mengusulkan pembangunan Taman Soekarno di Samarkand, dekat dengan makam Imam Bukhari, sebagai simbol persahabatan kedua negara.

“Di Uzbekistan, masyarakat kami kerap mengingat Indonesia dengan nama besar Soekarno. Hal ini tidak lepas dari kunjungan Presiden Soekarno ke Uzbekistan yang kala itu masih merupakan bagian dari Uni Soviet pada tahun 1956 dan 1961,” tambah Sintia.

Pada era Uni Soviet di bawah kepemimpinan Nikita Khrushchev, Bung Karno menggunakan strategi diplomatik unik. Ia menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undangan Khrushchev hanya jika pemerintah Soviet dapat menemukan makam Imam Bukhari. “Dulu makam ini tidak dikenal, tidak ditemukan [makam] Imam Bukhari ini. Tapi Bung Karno menyadarkan pemerintah sini [Uzbekistan] bahwa di sini ada tokoh utama, yaitu Imam Bukhari,” ungkap Sintia. Bung Karno bahkan menyampaikan, “Tidak akan saya datang ke sini kalau tidak dibangunkan [makam] Imam Bukhari.”

Usaha Bung Karno ini berujung pada renovasi dan pembangunan kompleks makam Imam Bukhari yang kini menjadi salah satu tujuan wisata religi utama di Uzbekistan. Mengenang peran besar Bung Karno, pemerintah Indonesia mengusulkan kepada pemerintah Uzbekistan untuk membangun perpustakaan khusus bernama Soekarno Memorial Library di dekat makam tersebut. “Kita mengusulkan supaya di tempat ini dibangun, karena dulu ada kaitan dengan Bung Karno, [yaitu] Soekarno Memorial Library. Semacam perpustakaan Bung Karno, untuk mengenang bahwa Bung Karno yang kemudian menemukan tempat ini [Makam Imam Bukhari],” tambah Sintia.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Umum MUI Sumatera Utara menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan berkunjung dan mempelajari lebih dalam sejarah dan praktik keagamaan di Uzbekistan. “Kunjungan ini telah lama kami rencanakan dan almarhum Ketua Umum H. Abdullah Syah, sangat berkeinginan untuk bisa hadir di sini. Selama di Uzbekistan, kami berziarah ke berbagai tempat bersejarah, termasuk di Bukhara, Samarkand, dan Tashkent. Kami banyak belajar bahwa mazhab yang dianut adalah Hanafi, dan pemerintah menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan Islam,” ujarnya.

Delegasi MUI juga sempat mengunjungi Islamic Academy dan Madrasah Mir Ali, serta menyampaikan minat untuk mengirimkan mahasiswa Indonesia untuk belajar di Uzbekistan. Ketua MUI Sumut menyebutkan bahwa pihak universitas di Uzbekistan tertarik menerjemahkan kitab Imam Bukhari ke dalam bahasa Indonesia.

Sintia Saeh menambahkan bahwa perkembangan Islam di Uzbekistan sangat berproses, terutama setelah masa Uni Soviet yang sangat membatasi ekspresi keagamaan. Saat ini, di bawah pemerintahan presiden saat ini, masyarakat mulai diberikan kebebasan beragama, meskipun masih ada beberapa aturan seperti larangan pemakaian cadar bagi wanita sejak Oktober 2023. Pemerintah juga mendorong pendidikan bagi wanita agar mereka dapat berperan lebih aktif dalam dunia kerja.

Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan kerjasama antara Indonesia dan Uzbekistan, terutama dalam pengembangan pariwisata religi, pendidikan, dan pemahaman keislaman yang lebih mendalam

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles