Tuesday, February 17, 2026
spot_img

MUI Sumut Berziarah ke Makam Sufi Abd al-Khaliq Gijduvani di Bukhara, Dr. Maratua Simanjuntak Sampaikan Pesan

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id.,3 November 2024, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak saat berziarah ke makam sufi Abd al Khaliq Gijduvani di Bukhoro, Ahad 3 November 2014, menyampaikan pesan Imam Al-Ghazali mengenai tujuan utama dalam praktik ziarah kubur yang telah lama diamalkan umat Islam. Menurut Al-Ghazali, ziarah kubur memiliki dua manfaat: pertama, peziarah dapat memetik hikmah dari peristiwa kematian orang yang diziarahi; kedua, ahli kubur memperoleh manfaat doa dari peziarah. Dari sini, Al-Ghazali menyarankan agar peziarah mendoakan ahli kubur terlebih dahulu, kemudian merenung dan mendoakan diri sendiri.

Dr. Maratua juga mengutip Sayyid Az-Zabidi, yang menganjurkan agar peziarah mendahulukan doa untuk ahli kubur sebelum berdoa untuk dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abu Darda ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Tiada seorang hamba muslim mendoakan saudaranya secara sembunyi (ghaib) melainkan ada malaikat yang mendoakannya, ‘Untukmu semisal itu.’”

Bukhara dan Peninggalan Sufi Terkenal Abd al-Khaliq Gijduvani

Bukhara menyimpan warisan budaya Islam yang berharga, salah satunya adalah makam sufi besar Abd al-Khaliq Gijduvani (wafat 1180/1220). Gijduvani merupakan murid Syekh Yusuf al-Hamadani dan pendiri tarekat “Hajagan” (Jalan Para Guru), yang kemudian melahirkan ajaran Naqsyabandiyah. Pada tahun 1432-1433, Mirzo Ulugbek, penguasa Maverannakhr, membangun madrasah di samping makamnya sebagai bentuk penghormatan.

Di awal abad ke-21, sebuah memorial modern juga didirikan untuk mengenang Gijduvani, menampilkan iwan kayu berukir dengan kubah biru di atas makamnya. Lahir pada tahun 1118 di Gijduvan, Abd al-Khaliq berasal dari keluarga religius dan sejak kecil dikelilingi oleh nilai-nilai Islam. Pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an dan sejak usia muda bersemangat mencari ilmu keagamaan.

Selama berada di Bukhara, ia mendalami pengetahuan di berbagai perpustakaan yang menyimpan manuskrip berharga. Pertemuannya dengan Syekh Yusuf al-Hamadani membawa Gijduvani menjadi murid kesayangan dan kelak menjadi tokoh penting dalam perkembangan tasawuf di Asia Tengah.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles