muisumut.or.id-Medan, Dalam upaya memperkuat nilai-nilai Islam dalam masyarakat lokal dan menciptakan Indonesia yang damai, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, khususnya Bidang/Komisi Ukhuwah Islamiyah, mengadakan program pembinaan masyarakat di Desa Tanjung Ibus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat.
Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 19 Dzulhijjah 1444 H (8 Juli 2023) ini mengangkat tema “Melalui Pembinaan Masyarakat Desa Ukhuwah Islamiyah, Kita Wujudkan Indonesia yang Damai di Desa Tanjung Ibus, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.” Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan nilai-nilai Islami dalam masyarakat agar tercipta masyarakat yang harmonis.
Dalam sambutannya, Drs. H.T. Darmansyah MA, Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Sumut, menjelaskan alasan pemilihan Desa Tanjung Ibus sebagai lokasi acara. Pertama, untuk menjaga akhlak generasi muda di desa tersebut agar tidak terjerumus dalam perilaku yang tercela. Kedua, acara ini dirancang untuk memperkuat tali silaturahim di antara generasi muda, sehingga mereka dapat saling mendukung dan bekerja sama dalam mencapai kemajuan.
“Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi, dan kita perlu menjaga agar bonus demografi ini tidak berubah menjadi bencana demografi,” tegas T.H. Darmansyah.
Materi yang disampaikan kepada pemuda-pemudi Desa Tanjung Ibus adalah “Ukhuwah Islamiyah dalam Dimensi Teologis.” Dr. Rusli Halil Nasution, MA, menjelaskan, “Ukhuwah Islamiyah pada umumnya dapat dipahami sebagai hubungan antar manusia yang didasarkan pada aqidah dan ditandai dengan saling peduli. Namun, perlu ditekankan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak hanya berlaku di antara sesama Muslim.”
Beliau juga menguraikan aspek-aspek teologis mengenai persaudaraan, yang membahas konsep ketuhanan dan nilai-nilai yang terkait dengannya. Posisi teologi memiliki peranan penting dalam berbagai pembahasan tentang studi Islam, terutama di lingkup Sumatera Utara yang memiliki masyarakat majemuk.
Berdasarkan data demografi, penduduk Sumatera Utara memiliki jumlah sekitar 15,18 juta, dengan sebaran agama sebagai berikut:
- Islam: 10,06 juta (66,3%)
- Protestan: 4,08 juta (26,9%)
- Katolik: 653,81 ribu (4,31%)
- Hindu: 16,08 ribu (0,11%)
- Buddha: 356,84 ribu (2,35%)
- Konghucu: 738 jiwa
Dari pemaparan yang dibagikan oleh Dr. Rusli Halil Nasution, dapat disimpulkan bahwa dialog antarumat beragama sangat penting dan perlu dilakukan secara intensif. Isu-isu seperti kenakalan remaja, anak jalanan, penyalahgunaan narkoba, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan harus menjadi fokus dialog dan tindakan bersama.
“Kita semua menyadari bahwa kondisi negara kita tercinta, Indonesia, sedang menghadapi tantangan saat ini, dan menjadi tugas bersama kita untuk membawa perubahan. Sebagai agen perubahan, kita membutuhkan generasi muda yang tangguh dan responsif terhadap isu-isu zaman,” tegas Abdul Aziz dalam pidatonya kepada para peserta dalam sesi dialog. (Yogo Tobing)






