Medan, muisumut.or.id., 15 Maret 2026 – Dalam rangkaian Muzakarah Fatwa Ramadhan 1447 H yang digelar pada Ahad (15/3/2026) bertepatan dengan 25 Ramadhan 1447 H, para ulama dan akademisi juga membahas prediksi awal Syawal dan etika berhari raya Idul Fitri. Kegiatan ini merupakan pekan keempat dari rangkaian muzakarah yang dilaksanakan setiap Ahad selama bulan Ramadhan.
Muzakarah dipandu oleh Moderator Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Muhammad Nasir, Lc., MA dan KH. Dr. Arso, M.Ag. Acara ini turut dihadiri Ketua Umum MUI Sumatera Utara Dr. H. Maratua Simanjuntak, para ulama, ustaz, ustazah serta jamaah umum.
Prediksi Awal Syawal dan Sidang Isbat
Dalam pemaparannya, KH. Dr. Arso, M.Ag menjelaskan bahwa penentuan awal bulan Syawal dalam Islam dilakukan melalui metode rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi).
Ia menjelaskan bahwa secara astronomis terdapat kriteria Imkanur Rukyat MABIMS yang menetapkan kemungkinan terlihatnya hilal dengan ketinggian minimal sekitar 3 derajat dan elongasi sekitar 6,4 derajat.
Meski demikian, penetapan resmi 1 Syawal 1447 H tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait penetapan hari raya.
Menurutnya, dalam beberapa kondisi terdapat potensi perbedaan penetapan Idul Fitri di kalangan umat Islam, karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Qamariyah antara rukyat dan hisab.
Fatwa MUI tentang Penetapan Awal Bulan Hijriah
Dalam pemaparannya, Dr. Arso juga mengutip Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 tentang penetapan awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah. Fatwa tersebut menegaskan bahwa:
Penetapan awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab oleh Pemerintah RI melalui Menteri Agama.
Umat Islam di Indonesia dianjurkan mengikuti keputusan pemerintah terkait penetapan awal bulan Hijriah.
Menteri Agama dalam menetapkan awal bulan harus berkonsultasi dengan MUI, ormas Islam dan para ahli terkait.
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Mathla’
Selain aspek astronomi, para ulama juga berbeda pendapat mengenai mathla’ atau wilayah berlakunya hasil rukyat hilal.
Sebagian ulama seperti dari mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa jika hilal terlihat di suatu tempat, maka hal itu dapat berlaku bagi wilayah lain secara luas, sehingga memungkinkan adanya rukyat global.
Sementara itu, mazhab Syafi’i berpendapat bahwa rukyat hilal berlaku bagi daerah yang memiliki mathla’ yang sama atau berdekatan, sedangkan daerah yang jauh dapat menetapkan rukyatnya sendiri.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa secara fikih terdapat ruang ijtihad dalam menentukan awal bulan Qamariyah.
Hakikat Idul Fitri
Dalam penjelasannya, Dr. Arso juga menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi merupakan momentum kembali kepada fitrah kesucian setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Hakikat hari raya dalam Islam adalah hari berzikir dan bersyukur kepada Allah, bukan hari untuk berhura-hura atau berlebihan dalam kesenangan.
“Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi orang yang berhasil mengendalikan hawa nafsu selama bulan Ramadhan,” ujarnya.
Amalan dan Etika Berhari Raya
Dalam tradisi Islam, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan menjelang dan saat Idul Fitri, antara lain:
Menghidupkan malam Idul Fitri dengan ibadah dan zikir
Mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil
Mandi sebelum salat Id
Memakai pakaian terbaik
Makan atau berbuka sebelum salat Id
Menjalin silaturahmi dan saling memaafkan
Ucapan selamat hari raya seperti “Taqabbalallahu minna wa minkum” atau “Minal ‘Aidin wal Faizin” juga dipahami sebagai doa agar amal ibadah selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fitri. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, orang yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti berpuasa selama satu tahun.
Idul Fitri sebagai Momentum Silaturahmi
Pada akhir pemaparannya, Dr. Arso menegaskan bahwa Idul Fitri seharusnya menjadi momentum memperkuat silaturahmi, saling memaafkan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis dalam masyarakat.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait penetapan awal Syawal melalui sidang isbat sebelum merayakan Idul Fitri.






