Monday, February 2, 2026
spot_img

Perjalanan Pendidikanku

Hapijuddin Dalimunthe, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Labuhanbatu Selatan.

Nama saya Hapijuddin Dalimunthe, biasa dipanggil Hafidz. Saya lahir di Tj. Raya, 02 februari, 2002. Kami tiga bersaudara, dua laki-laki dan satu peremuan. Saya merupakan anak bungsu, yang paling besar diantara kami ialah ialah laki-laki, ia bernama Sapruddin Rajo Ali Dalimunthe, dan yang kedua ialah perempuan bernama Sartika Dalimunthe. Saya lahir dari pasangan Asminan Dalimunthe dan Masriani Nasution, ayah saya seorang petani sedangkan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil ayah selalu menasehati kami agar jangan pernah meninggalkan sholat. Ayah saya selain petani ia juga guru mengaji bagi anak-anak yang ingin belajar di kampung itu. pernah satu ketika saat belajar mengaji dengan teman-teman dirumah ayah memarahiku karena bacaan yang slalu salah, aku berfikir bahwa ayahku pilih kasih karena hanya memarahiku seorang, saat sekarang saya sadar bahwa itulah kasih sayang seorang ayah jika ayah terus memanjakanku mungkin saat sekarang aku tidak lancar membaca Al-Qur’an.
Diusia 7 tahun, saya mulai mengenyam pendidikan di MIN 2 Pernantian. Dimana pada masa inilah diisi dengan bermain bersama teman-teman. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak disana bermain ke pekan melihat keramaian dan barang mainan yang dijual. Pernah suatu ketika kami tidak memiliki uang namun sangat ingin pergi ke pekan, akhirnya kami mencari ikan kesungai agar bisa dijual kepasar.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di MIN 2 Pernantian, mama saya awalnya berpikir agar saya sekolah di SMP di silangkitang, karena mama tidak ingin jauh dari anak terakhirnya, namun, keinginan untuk belajar di pesantren selalu membara dalam diri saya. Saya memaksa mama sampai menangis agar dia menyekolahkan ke pesantren, salah satu pesantren yang saya minati pada waktu itu adalah P.P. At-Thoyyibah Indonesia di Pinang Lombang, karena ayah saya sendiri salah satu alumni di pondok tersebut.
Disana banyak kenangan yang dirindukan, ada juga cerita lucu yang pernah saya alami saat di pondok itu. salah satunya, saya punya teman sekampung yang bernama Rosanul Fuadi Rambe, pada saat itu ia sangat rindu kepada orang tuanya dia menemui saya ke lapangan bola dan mengajak pergi ke asrama, saat tiba di asrama ia bertanya sambil menangis “ndak rindu kau Fidz”, saya menjawab “rindu” diapun mengajak saya menangis. kami berdua memiliki sifat pemalu. Karenanya kami mengunci pintu agar orang tidak tahu kami menangis sebab rindu kepada kedua orang tua. Saat kami benar-benar menangis tiba-tiba abang asrama datang, ia menggedor pintu lalu kami mengusap air mata sambil tertawa agar dia tidak tahu baha kami sedang menangis, ketika pintu dibuka dia bertanya “kenapa mata kalian, habis nangis klen ya ?. “tidak bang” jawab kami serentak. Kemudian Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia tahu kami sangat rindu sampai menangis. Sebab ia tentu sudah melewati masa-masa seperti kami. Kemudia ia meninggalkan satu nasihat “sungguh-sungguhlah la kalian belajar, buat bangga orang tua kalian, agar rindu kalian tidak sia-sia.
Ketika menginjak kelas IX, saya mengikuti lomba takraw antar kelas di P.P. At-Thoyyibah dan menjadi juara ke 3 dalam perlombaan tersebut. Selain itu saya juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Pada tahun 2017, saya lulus dari sekolah menengah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu di P.P. Darul Ma’arif Basilam baru. model pendidikan berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi saya, banyak pelajaran yang tidak saya pelajari dipondok sebelumnya. Untuk megejar ketertinggaan pelajaran, saya menghabiskan waktu-waktu di luar jam pelajaran untuk belajar bersama ustadz-ustadz yang ada disana. Bahkan Saat teman-teman saya tidurpun saya tetap belajar. Dimasa itu Ada kalam guru yang selalu saya ingat salah satunya dari ayah taisir “jadilah pintar merasa bukan merasa pintar.
Di P.P. Darul Ma’arif banyak terlukis kenangan manis. Saat itu saya pernah menjuarai MTQ tingkat kecamatan bidang tilawah tingkat remaja putra, menjadi santri kepercayaan dalam olahraga badminton hingga masa itu saya diikut sertakan dalam latihan intensif sebagai persiapan agar bisa menjadi salahsatu pemain dispora labuhan batu selatan. Selain itu saya aktif mengikuti organisasi pesantren. Dalam beberapa kesempatan saya jupa kerap diutus oleh pesantren untuk mengikuti dakwah ke berbagai pelosok desa, dalam kegiatan-kegiatan itu saya sering menjadi pembaca al-Qur’an dan vokalis marawis. Hal ini ditujuan agar masyarakat melihat kemampuan santri-santri P.P. Darul Ma’arif.
Tiga tahun menimbah ilmu di P.P. Daru ma’arif akhirnya saya menjadi alumni (lulus tahun 2020). Masa itu sedang marak-maraknya kasus covid 19. Jadi bisa dikatakan kami ini adalah angkatan covid 19. Masa itu saya dilanda kebingungan, sebab tidak tahu harus lanjut pendidikan kemana. Mengisi kekosongan, saya menyampaikan keinginan untuk menghafal al-Qur’an, akhirnya saya dimasukkan ke P.P tahfidz Abul yatama al-Musthofa langkat. Disana saya mengikuti program tahfidz selama delapan bulan, selama delapan bulan itu Alhamdulillah saya menghafalkan 8 juz.
Melihat abang saya yang lulusan pendidikan formal, saya berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, saat itu tepat dengan beredarnya informasi pembukaan pendaftaran mahasiswa baru di kader ulama MUI SUMUT. Akhirnya saya mengikuti seleksi itu atas saran abang saya, ia adalah alumni dari kampus itu.
Alhamdulillah saya lulus, sampai sekarang saya berada disemester akhir dan dalam waktu dekat akan wisuda

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles