Medan, muisumut.or.id | Kamis, 5 Maret 2026 —
Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara kembali menggelar kegiatan pengajian Ramadan yang disiarkan secara langsung melalui Studio Podcast MUI Sumut, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Ramadan dan Pembinaan Remaja” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sukiati, dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara sekaligus Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam.
Pengajian yang berlangsung pada 15 Ramadan 1447 H tersebut dipandu oleh Dra. Hj. Rusmini dan menjadi bagian dari program dakwah digital MUI Sumut untuk memberikan pembinaan keagamaan, khususnya kepada kalangan remaja dan keluarga Muslim.
Dalam pemaparannya, Prof. Sukiati menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum spiritual yang sangat penting bagi seluruh umat Islam, termasuk para remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri. Menurutnya, bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menjadikan perubahan diri sebagai titik awal menuju pribadi yang lebih baik.
“Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan. Momentum ini seharusnya dimanfaatkan oleh setiap Muslim, termasuk para remaja, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ibadah utama yang harus dijaga oleh para remaja selama Ramadan adalah menjalankan puasa secara penuh sebagaimana perintah Allah dalam QS Al-Baqarah 183, serta memperbanyak amalan-amalan sunnah seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak zikir.
Menurutnya, kebiasaan baik yang dibangun selama Ramadan dapat menjadi latihan spiritual untuk membentuk karakter disiplin dan kesadaran religius pada diri remaja.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa remaja masa kini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan dalam menjalankan ibadah Ramadan. Salah satu tantangan terbesar adalah distraksi digital, terutama penggunaan media sosial yang berlebihan.
“Media sosial sering kali menyita waktu remaja. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk ibadah justru habis untuk scrolling atau aktivitas digital yang tidak produktif,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti fenomena gaya hidup FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan remaja, yaitu kecenderungan untuk selalu mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya. Dalam konteks Ramadan, fenomena ini dapat memicu perilaku konsumtif, seperti keinginan mengikuti berbagai kegiatan buka puasa di luar rumah atau membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Fenomena tersebut, menurutnya, dapat menggeser fokus Ramadan dari ibadah menuju aktivitas sosial yang berlebihan jika tidak disikapi secara bijak.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan pola hidup selama Ramadan, seperti begadang karena aktivitas digital hingga mengabaikan ibadah malam, dapat mengurangi nilai spiritual dari bulan suci tersebut.
Oleh karena itu, Prof. Sukiati menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam membimbing remaja agar mampu menjalani Ramadan dengan baik. Menurutnya, pembinaan remaja tidak hanya melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan.
“Orang tua harus menjadi role model bagi anak-anaknya. Jika orang tua mengajak anak untuk beribadah, maka orang tua juga harus menunjukkan praktik ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Selain keteladanan, ia menilai komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menjadi faktor penting dalam membangun kesadaran keagamaan remaja. Orang tua diharapkan mampu menjadi tempat berbagi dan berdialog bagi anak-anaknya sehingga remaja tidak mencari teladan di luar lingkungan keluarga yang belum tentu memberikan pengaruh positif.
Menurutnya, Ramadan dapat menjadi momen strategis untuk memperkuat hubungan keluarga sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda.
Pengajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya para remaja dan keluarga Muslim, agar mampu menjadikan Ramadan sebagai sarana pembinaan spiritual, penguatan karakter, serta pembentukan generasi yang berakhlak mulia di tengah tantangan era digital.






