Sunday, February 1, 2026
spot_img

Proses Tak Bertepi Sabar Menanti Manisnya Jalan Penuh Berduri

Sukhron Ependi Harahap, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Padang Lawas Utara

Nama saya Sukhron Ependi Harahap,  lahir 22 Desember 1997, di desa Sigama Ujung Gading, Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Lahir sebagai anak bungsu dari keluarga yang sederhana. Tumbuh bersama kedua orang tua hingga separuh jalan menempuh sekolah dasar. Kelas tiga SD harus merantau, hidup bersama saudara Sulung, karena ibunda tercinta kami menemui akhir hidupnya (Wafat 2007). Dua tahun kemudian giliran ayah meninggalkan kami (wafat 2009).

Kami Sembilan bersaudara, dan saya anak yang paling kecil. kakak sulung saya khawatir bagaimana kelanjutan sekolah saya. Akhirnya dengan terpaksa ia membawa saya merantau hidup bersamanya, kebetulan ia adalah seorang guru di salah satu sekolah dasar di Riau, tepatnya di desa sidorejo, kec. Tanah Putih, kab., Rokan Hilir, Prov. Riau. Disana saya Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar hingga lulus Tsanawiyah.

Mencoba mencari pengalaman baru, 2013 saya melanjutkan perantauan menyusul dua saudara kandung saya ke ibukota Riau (Pekanbaru). Mereka sudah lebih dahulu disana menimbah ilmu di Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riua. Melihat kegigihan mereka ada semangat tersendiri bagi saya agar kelak bisa seperti mereka, kuliah hasil keringat sendiri dan berjuang mendapatkan beasiswa. Dari mereka saya belajar bahwa kemauan dan kegigihan mampu mematahkan ketidakmungkinan. (anak yatim piatu, dan kurang mampu. Namun bisa kuliah di Universitas bergengsi di Riau)

Tidak ingin kalah, saya perlahan mengikuti jejak mereka. Sekolah di SMA al-Huda Pekanbaru, kota metropolitan dengan biaya yang tidak sedikit. Saya berusaha menghidupi diri sendiri dan membiayai pendidikan. Namun sayang, saya tidak sekuat dan secerdas mereka. Mereka bisa fokus pada tujuan utama (menyelesaikan pendidikan) sedangkan saya seperti anak ayam kehilangan induknya. Saya hilang fokus dan lupa akan tujuan utama. Entah tekanan yang lebih berat atau memang saya yang lalai.

Waktu saya lebih banyak habis untuk bekerja. Pagi sampai siang hari saya sekolah, kemudian lanjut bekerja sebagai karyawan di kantin sekolah hingga menjelang maghrib. Tidak sampai disitu, malam hari saya lanjut membantu abang berjualan  sampai jam 12 malam. Setalah itu pulang ke kontrakan dan istirahat. begitulah rutinitas saya selama tiga tahun di Pekanbaru. Melihat keadaan itu, satu waktu abang saya pernah menyampaikan bahwa “kelak kau ini akan menjadi orang besar, perjuanganmu tidak main-main, berangkat pagi pulang tengah malam, sedikit tidur, makanpun kadang tidak menentu. Syaratmu menjadi orang besar sudah terpenuhi. Bersabar dan teruslah berproses”. Pesan itu sampai sekarang masih tetap melekat erat di ingatan saya dan menjadi obat kesedihan saat semua benar-benar terasa pahit.

Tiga tahun berlalu dengan pahit manisya perjuangan. Akhirnya saya menjadi alumni SMA al-Huda Pekanbaru. Ingin melanjutkan perjuangan di bumi lancang kuning ini, saya bulatkan tekad untuk melanjutkan studi ke universitas, beberapa perguruan tinggi dicoba, namun rezeki berlayar dikota ini seakan sudah habis. Tidak satupun hasil seleksi MABA sesuai harapan. Akhirnya saya putuskan untuk bekerja sambil menunggu seleksi tahun berikutnya.

Beberapa bulan bekerja di salah satu swalayan pekanbaru, abang saya menerima telepon dari saudara yang ada di Medan. Ia mengabarkan ada salah satu perguruan tinggi yang menyediakan Bidikmisi. Tidak pikir panjang saya langsung ambil peluang itu, dan berangkat ke medan bermodalkan Rp.150.000 uang saku dan dengan ongkos berhutang. Entah bagaimana kehidupan selanjutnya, saya yakinkan hati bahwa “setiap ada kemauan pasti ada jalan”.

Tiba dimedan, saya disambut bapak Dr. Hotmatua Paralihan Harahap (orang yang akan mengasuh dan mengurus pendidikan saya). saya bertutur abang padanya, sebab satu marga dan ada kedekatan keluarga  (bersaudara) kami juga sama-sama berasal dari desa Sigama Ujung Gading.

Ia memiliki sekolah RA, dan TPQ. Saya tinggal  dan ikut mengajar disana untuk waktu yang cukup lama. Saat pertama akan tinggal disana, ia menyampaikan bahwa tinggal bersamanya bagaikan menaiki mobil bus ALS. Penumpang tidak akan turun hingga sampai pada tujuan dan penumpang akan diturunkan bila mengganggu kenyamanan orang lain. Pesan yang ingin ia sampaikan ialah bulatkan tekat bila ingin bersamanya dan ikuti aturan yang berlaku disana.

Saya menjalani pendidikan di sekolah tinggi agama islam sumatera (STAI SUMATERA) dengan waktu yang cukup lama bahkan mungkin tidak wajar, bukan karena tidak mampu menyelesaikan, namun ada administrasi kampus yang bermasalah hingga pihak kampus tidak bisa meluluskan mahasiswanya. Selama enam tahun saya jalani pendidikan di sana, dengan harapan bisa memperoleh gelar Sarjana. Namun nyatanya tidak seperti itu. Saya harus mengubur mimpi itu dan menapaki jalan baru, yang mungkin lebih menjanjikan untuk bersinar.

Saya mengikuti program kaderan ulama MUI Sumatera Utara. Model Pendidikan yang mungkin di inginkan banyak orang. Fasilitas lengkap, dosen pengajar kompeten, biaya pendidikan ditanggung (gratis). Tiga tahun di tempat ini akan menjadi pengalaman terindah. Setiap tahun kami di tugaskan ke daerah minoritas muslim untuk berdakwah, setiap tahun juga kami melakukan studi tour untuk melihat dan belajar langsung dari daerah-daerah yang kami kunjungi. Studi tour terakhir, kami pergi ke tiga negara (Malaysia, singapura dan Thailand). Mimpi konyol saya terwujud disini, dulu saya bermimpi ingin naik pesawat gratis, artinya diberangkatkan orang sebab prestasi, ataupun penghargaan. Mimpi ini saya rasa mustahil, karena saya tahu persis bagaimana prestasi, dan kemampuan saya. Akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada yang mustahil bila kita bersama Allah SWT.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles