Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id., Selasa, 5 November – Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara memulai perjalanan mereka dari Samarkand menuju kota Tashkent, Uzbekistan, pagi ini pukul 09.00 waktu setempat. Mereka tiba di Tashkent pada pukul 16.00 setelah menempuh perjalanan dengan bus. Perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 5 jam, namun ditempuh lebih lama dikarnakan banyak persinggahan. Dalam perjalanan, rombongan mengunjungi Menara Televisi Tashkent, salah satu ikon kota yang merupakan bangunan tertinggi di Asia Tengah dengan ketinggian mencapai 375 meter. Menara ini, yang terbuat dari baja, dibangun pada 1978 dan mulai beroperasi pada 15 Januari 1985.

Setibanya di Tashkent, sebelum menuju hotel, rombongan menyempatkan diri untuk mengunjungi Amir Timur Square. Alun-alun ini awalnya merupakan taman yang dibangun pada era Gubernur Jenderal Turkestan Rusia, terletak di persimpangan dua jalan utama, yakni Jalan Moskow (kini Jalan Amir Timur) dan Jalan Kaufmann (kini Jalan Milza Ulugh Beg). Awalnya dikenal sebagai Alun-Alun Constantinov, taman ini didirikan pada 1882 oleh Nikolai Ulyanov di bawah arahan Mikhail Chernyayev. Setelah Revolusi Rusia pada 1917, alun-alun ini diganti namanya menjadi Alun-Alun Revolusi, yang kemudian dihiasi dengan patung Joseph Stalin pada akhir 1940-an. Patung Stalin kemudian dihilangkan pada 1961, dan digantikan dengan patung Karl Marx pada 1968. Setelah Uzbekistan merdeka pada 1991, alun-alun ini diubah namanya menjadi Alun-Alun Amir Timur pada 1994, di mana patung Amir Timur kini berdiri sebagai simbol kebanggaan nasional. Tepat di sebelah selatan alun-alun, Museum Amir Timur dibangun pada 1996.

Rombongan MUI Sumatera Utara memilih untuk tidak memasuki Museum Amir Timur, namun mengagumi sejarah dan arsitektur museum dari luar. Museum Sejarah Dinasti Timurid, yang juga dikenal sebagai Museum Amir Temur, terletak di pusat kota Tashkent dan merupakan salah satu landmark penting di kota tersebut. Dibuka pada 1996 untuk menghormati Amir Temur, museum ini mengabadikan sejarah dan kontribusi besar Amir Temur dalam membangun Asia Tengah dan mempersatukan Uzbekistan. Museum ini termasuk dalam daftar “Objek Ilmiah Unik Negara” Uzbekistan dan menerima sekitar 2 juta pengunjung setiap tahun, termasuk wisatawan internasional.


Uzbekistan, yang merdeka pada 1991, menaruh perhatian besar terhadap pemulihan budaya dan pengakuan terhadap tokoh sejarah seperti Amir Temur yang berjasa besar bagi kemajuan negara. Pada 1996, ulang tahun Amir Temur yang ke-660 diperingati secara nasional sebagai “Tahun Amir Temur,” dan museum ini dibuka sebagai bagian dari penghormatan tersebut.
Museum ini memiliki tiga lantai dengan desain arsitektur bundar dan kubah bergaya oriental. Interiornya dihiasi dengan marmer, fresko, dan lampu kristal besar setinggi 8,5 meter dengan 106 ribu liontin. Museum ini menyimpan sekitar 5 ribu koleksi, termasuk manuskrip, senjata, keramik, dan koin yang berasal dari masa pemerintahan Amir Temur dan dinastinya. Salah satu koleksi paling berharga adalah salinan Quran Utsman dan panel miniatur yang menggambarkan perjalanan hidup Amir Temur.

Secara rutin, museum ini mengadakan berbagai pameran internasional yang menampilkan koleksi langka, seperti manuskrip kuno dan lukisan miniatur, bekerja sama dengan negara-negara seperti India, Iran, dan Oman. Beberapa pameran museum ini bahkan pernah diadakan di luar negeri, seperti “Renaisans Timurid” di Prancis, Expo 2000 di Jerman, dan “Warna-Warni Kain dan Keramik” di Australia.
Kunjungan rombongan MUI Sumatera Utara ke Tashkent dan Amir Timur Square ini diharapkan dapat mempererat hubungan budaya dan memperdalam pemahaman mengenai sejarah besar peradaban Islam yang pernah berjaya di Asia Tengah.






